BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Otot merupakan suatu organ /alat yang dapat bergerak ini adalah suatu penting bagi organisme. Otot dikatakan sebagai alat gerak aktif. Gerakan tersebut disebabkan karena kerja sama antara otot dan tulang. Tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidak digerakan oleh otot. Otot mampu menggerakan tulang karena mempunyai kemampuan berkontraksi. Dalam kehidupan sehari-hari otot dikenal sebagai daging.
Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh. Otot dikaitkan pada tulang-tulang rawan (kartilago), jaringan ikat sendi (ligamentum), dan kulit (integumen). Pada kulit dan rambut, hanya dapat bergerak bila digerakkan oleh otot. Peredaran atau transpor zat makanan dalam usus maupun darah di dalam pembuluh darah, secara tidak langsung juga digerakkan oleh otot. Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan berurutan.rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memeprkuat rangsangan kedua . dengan demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum . tonus yang maksimum terus – menerus disebut tetanus. Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh, otot dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
Berdasarkan uraian di atas untuk lebih memahami tentang Sistem Otot, maka perlu diadakannya suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat menjelaskan struktur dan kontrol tiga tipe otot yang berbeda.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan anatomi mikroskopik tentang unit kontrakbilitas otot.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan teori kompleks aktomiosin.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang kontraksi tunggal otot secara detail.
5. Mahasiswa dapat menganalisa otot utama berdasarkan asal, insersi, dan fungsinya.
6. Mahasiswa dapat membedakan antara otot antagonis dan sinergis.
7. Mahasiswa dapat membuat diagram dan memberikan nama sinap neuromuscular.
8. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang motor end – plate.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem otot, baik fungsinya, cara kerjanya maupun tipe/macamnya.
2. Kita dapat mengetahui tentang diagram neuromuscular.
3. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Otot merupakan suatu organ/alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak. Ini adalah suatu sifat penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma mengubah bentuk (lihat cara pergerakan amuba). Pada sel-sel, sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot mendapat rangsangan maka miofibril akan memendek. Dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya ke arah tertentu (berkontraksi). Dalam garis besarnya sel otot dapat kita bagi dalam tiga golongan, yaitu: otot motoritas, otot otonom, dan otot jantung (Syaifuddin, 2006: 87).
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuan berkontraksi . oto memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Kontraksi otot terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan, sedangkan relaksasi otot terjadi jika otot sedang beristirahat. Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu: Kontraksibilitas yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek dari ukuran semula, hal ini teriadi jika otot sedang melakukan kegiatan. Ektensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan lebih panjang dari ukuran semula. Elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula.
Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filament aktin dan filament miosin. Filamen aktin tipis dan filament miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril. Miofibril menyusun serabut otot dan serabut otot-serabut otot menyusun satu otot
(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/c3/Otot_rangka.jpg/300px-
Otot_rangka.jpg).
Otot kerangka tidak bekerja sendiri-sendiri tetapi dalam kelompok-kelompok untuk melaksanakan gerakan dari berbagai bagian kerangka. Setiap kelompok berlawanan dengan yang lain dinamakan otot antagonis. Flexor adalah antagonis dan extensor, dan abduktor dari adduktor. Beberapa kelompok bekerja untuk menstabilkan bagian-bagian anggota sewaktu bagian lain bergerak: ini disebut otot fixasi. Lain lagi menguatkan sendi sementara yang lain bergerak, sebagaimana flexor dari otot pergelangan tangan menguatkan sewaktu jari diluruskan. Ini disebut sinergis (Pearce, 2004: 102).
Dalam tubuh terdapat tiga macam jaringan otot yaitu otot polos, otot serat lintang involunter dan otot serat lintang volunter. Otot polos tidak memperhatikan adanya garis-garis melintang dan terdapat pada sistem-sistem yang menjalankan fungsinya secara otomatis. Otot polos terdapat pada dinding treatus digestivus yang berperan dalam aktivitas gerak. Serabut otot tersusun sebagai berkas yang dibungkus oleh jaringan fibrosa, jaringan pengikat di antara masing-masing serabut otot disebut endomisium (Frandson, 1992: 137).
Tiga macam otot yang berbeda terdapat pada Vertebrata, yang adalah otot jantung yaitu otot yang menyusun dinding jantung. Otot polos terdapat pada dinding semua organ tubuh yang berlubang (kecuali jantung). Kontraksi otot polos pada umumnya tidak terkendali, memperkecil ukuran struktur-struktur yang berlubang ini. Pembuluh darah, usus, kandung kemih, dan rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang dinding sebagian besar terdiri dari otot polos. Jadi kontraksi otot polos melaksanakan bermacam tugas seperti meneruskan makanan kita dari mulut ke saluran pencernaan, mengeluarkan urin dan pada kerangka, otot ini dikendalikan secara sengaja (Kimball, 1983: 697).
Jaringan otot terdiri dari sel yang berbeda-beda dan mengandung protein kontraktil. Struktur biologi dari protein ini membangkitkan tekanan yang dibutuhkan untuk kontraksi seluler yang menimbulkan gerakan di antara organ tertentu dan tubuh sebagai suatu kesatuan, kebanyakan sel otot berasal dari mesoderm dan deferensiasinya terutama terjadi melalui proses pemanjangan secara berangsur-angsur disebut pembuatan protein miofibril (Kelley, 1995: 10).
Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunvai jalur-jalur melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop) yang tersusun berselang-selang. Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai banvak inti. Otot rangka dapat berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali - kali. Otot rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia super fasialis (http://www.docstoc.com/docs/25972416/Sistem-Alat-Gerak).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 18 Mei 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alat peraga alat peraga persendian dan torso persendian.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Macam – Macam Otot
a. Otot Lurik
Keterangan:
1. Inti sel
2. Miofibril
b. Otot Polos
Keterangan:
1. Inti sel
2. Berkas otot polos
c. Otot Jantung
Keterangan:
1. Inti sel
2. Endomisium
3. Keping-keping interkalar
2. Otot Berdasarkan Letak dan Asalnya
a. Otot kepala dan leher
Keterangan:
1. Aponeurosis epikranial
2. Temporalis
3. Oksipitalis
4. Sternoklei-domastoidea
5. Frontalis
6. Orbikularis okuli
7. Zigomatikus
8. Bukinator
9. Orbikularis oris
10. Maseter
b. Otot Leher, toraks, dan abdomen (anterior)
Keterangan:
1. Sternoklei-domastoideus
2. Amohioid (inferior belly)
3. Pektoralis mayor
4. Deltoid
5. Triseps brakii
6. Lasitimus dorsi
7. Seratus anterior
8. Oblique abdominal eksternal
9. Rektus abdomionis
10. Oblique abdominal internal
11. Interkostal eksternal
12. Sternotiroid
13. Trapezius
14. Sternohioid
c. Otot badan (anterior)
Keterangan:
1. Sternoklei-domastoid
2. Trapezius
3. Deltoid
4. Pektoralis mayor
5. Seratus anterior
6. Linea laba
7. Oblique eksternal
8. Aponeurosis oblique eksternal
9. Interkostalis eksternal
10. Interkostalis internal
11. Pektoralis minor
12. Rektus abdominis
13. Oblique internal
14. Abdominis transversum
d. Otot-otot punggung
Keterangan:
1. M. sternoklei-domastoideus
2. M. spenius kapitis
3. M. rom-boideus minor
4. M. levator skapula
5. M. teres mayor
6. M. infra-spinatus fasia
7. Fasia tora-kolumbalis
8. M. latisimus dorsi
9. Fasia tora-kolumbalis abdominis
10. M. oblique eksternus
11. Krista iliaka
12. M. obliqus internus abdominis
13. M. seratus posterior inferior
14. M. seratus anterior
15. M. latisimus dorsi
16. M. seratus posterior superior
17. Fascia deltoidea
18. M. rom-boideus mayor
e. Otot-otot bahu kanan dan lengan
Posterior
Keterangan:
1. Levator skapula
2. Supraspinatus
3. Spina skapula
4. Infraspinatus
5. Deltoid
6. Kaput longus dari trisep brakii
7. Triseps brakii kaput lateral
8. Teres minor
9. Teres mayor
Anterior
Keterangan:
1. Trapezius
2. Klavikula
3. Deltoid
4. Kaput minus dari biseps brakii
5. Kaput longus dari biseps brakii
6. Biseps brakii
7. Brakialis
8. Batas medial skapula
9. Subskapularis
g. Otot lengan bawah kanan
Anterior
Keterangan:
1. Biseps brakii
2. Brakialis
3. Supinator
4. Pronator teres
5. Brakioradialis
6. Fleksor karpi radialis
7. Palmaris longus
8. Ekstensor karpi radialis longus
9. Fleksor digitorum profundus
10. Fleksor karpi ulnaris
Posterior
Keterangan:
1. Trisep brakii
2. Brakioradialis
3. Ekstensor karpi radialis longus
4. Fleksor karpi ulnaris
5. Ekstensor digitorum
6. Ekstensor karpi ulnaris
h. Otot-otot paha kanan dan pelvis
Anterior
Keterangan:
1. Iliopsoas
2. Tensor fasialata
3. Traktus tendon iliotibial
4. Sartorius
5. Rektus femoralis
6. Vastus lateralis
7. Tendon dari quadrisep femoris
8. Patella
9. Adduktor longus
10. Adduktor magnus
11. Gracilis
12. Vastus medialis
Posterior
Keterangan:
1. Gluteus medius
2. Gluteus maxsimus
3. Gracillis
4. Adduktor magnus
5. Semitendi-nosus
6. Semimem-branosus
7. Traktus iliotibial tendon
8. Biseps femoris
9. Ruang popliteal
10. Gastrok-nemius
i. Otot-otot kaki kanan
Anterior
Keterangan:
1. Patella
2. Tibialis anterior
3. Peroneus longus
4. Ekstensor digitorium longus
5. Fleksor digitorium longus
6. Tibia
7. Soleus
8. Gastrok-nemius
Posterior
Keterangan:
1. Biseps femoris
2. Vastus lateralis
3. Kaput fibula
4. Tibialis anterior
5. Ekstensor digitorum longus
6. Peroneus tertius
7. Tendon Achilles
8. Peroneus longus
9. Soleus
3. Otot Berdasarkan Cara Kerjanya
a. Otot sinergis
b. Otot antagonis
4. Otot Berdasarkan Kepalanya
Otot kepala satu Otot kepala dua
(M. Fusiformis) (M. Biseps)
Otot berperut dua Otot berkepala banyak
(M. biventer) (M. Planus)
Otot berperut banyak Otot berserabut satu sisi
(M. Intersectus) (M. Semipennatus)
Otot berserabut dua sisi
(M. Pennatus)
5. Otot Berdasarkan Kedudukannya
Keterangan:
1. Origo
2. Insertio
3. Humerus
4. Ulna
5. Radius
6. Otot Berdasarkan Garis Lintangnya
Rektus Oblingus
Serratus Tranversus
7. Diagram Neuromuscular
Keterangan:
1. Syaraf motorik
2. Otot
3. Neuron motorik
4. Ujung syaraf motorik
5. Vesikel asetilkolin
6. Celah sinaptik
7. Serabut otot berkontraksi
8. Vesikel asetilkolin yang terangsang oleh sinyal elektrik
B. Pembahasan
Otot merupakan sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh. Otot juga dikatakan alat gerak aktif. Gerakan tersebut disebabkan karena kerja sama antara otot dan tulang. Tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidak digerakan oleh otot. Otot mampu menggerakan tulang karena mempunyai kemampuan berkontraksi. Selain mampu berkontraksi (memendek) otot juga mampu berelaksasi. Jika otot berkontraksi tulang akan terangkat, dan otot disebut miofibril. Miofibril disusun oleh aktin dan miosin. otot memiliki 3 karakter, yaitu: kontraksibilitas yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek dari ukuran semula, hal ini teriadi jika otot sedang melakukan kegiatan; ektensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan lebih panjang dari ukuran semula; elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula. Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filament aktin dan filament miosin. Filamen aktin tipis dan filament miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril. Miofibril menyusun serabut otot dan serabut otot-serabut otot menyusun satu otot.
Berdasarkan jenisnya, otot dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu: otot polos, otot jantung, dan otot lurik (otot rangka). Otot polos adalah salah satu otot yang mempunyai bentuk yang polos dan bergelondong. Cara kerjanya tidak disadari (tidak sesuai kehendak) / invontary, memiliki satu nukleus yang terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada saluran pencernaan seperti lambung dan usus. Otot jantung hanya terdapat pada jantung. Otot ini merupakan otot paling istimewa karena memiliki bentuk yang hampir sama dengan otot lurik, yakni mempunyai lurik-lurik tapi bedanya dengan otot lurik yaitu bahwa otot lirik memiliki satu atau dua nukleus yang terletak di tengah/tepi sel. Otot jantung adalah satu-satunya otot yang memiliki percabangan yang disebut duskus interkalaris. Otot ini juga memiliki kesamaan dengan otot polos dalam hal cara kerjanya yakni involuntary (tidak disadari). Otot Lurik (otot rangka) merupakan jenis otot yang melekat pada seluruh rangka, cara kerjanya disadari (sesuai kehendak), bentuknya memanjang dengan banyak lurik-lurik, memiliki nukleus banyak yang terletak di tepi sel, contohnya otot pada lengan.
Otot rangka disebut juga dengan otot lurik, karena serabut kontraktilnya karena memantulkan cahaya berselang seling gelap dan terang berjajar terakhir membentuk pita vertikel terhadap poros otak. Sel atau serabut rangka berbentuk silindris. Setiap sel berinti banyak yang terletak di sekitar sarkoplasma. Otot rangka bekerja di bawah kesadaran sehingga disebut dengan otot voluntery. Kontraksinya cepat, kuat tetapi mudah lelah. Otot rangka biasanya melekat pada rangka, lidah, bibir, telinga, kelopak mata, dan diafragma.
Otot polos disebut juga otot otonom, karena protoplasmanya licin dan tidak mempunyai garis-garis melintang. Otot polos berbentuk seperti gelondong karena bagian tengahnya besar, sedangkan kedua ujungnya meruncing dan mempunyai inti sel yang terletak di tengah-tengah. Apabila dilihat dari sifat kerjanya, otot polos bergerak lamban dan dipengaruhi oleh saraf otonom. Dengan demikian otot polos bekerja di luar kesadaran kita. Otot ini terdapat pada organ-organ dalam, seperti ventrikulus, kandung kemih, pembuluh darah dan lain-lain.
Otot jantung menyerupai atau berbentuk otot serat melintang dimana di dalam sel protoplasmanya terdapat serabut-serabut melintang yang bercabang-cabang. Otot ini berbeda dengan otot rangka karena sel-selnya panjang. Inti selnya berbentuk lonjong dan berwarna pucat, dimana terletak di tengah-tengah serabut. Serabut otot jantung bergaris melintang, tetapi tidak sejelas dengan otot rangka. Otot jantung dapat bergerak sendiri secara otomatis, atau di luar kesadaran karena mendapat rangsangan dari luar (susunan otonom).
Sifat kerja otot dibedakan atas antagonis dan sinergis. Antagonis adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah: ekstensor( meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot bisep; abduktor (menjauhi badan) dan adduktor (mendekati badan), misalnya gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna; depresor (ke bawah) dan adduktor ( ke atas), misalnya gerak kepala merunduk dan menengadah; dan supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup. Sinergis adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah, contohnya pronator teres dan pronator kuadratus.
Berdasarkan letaknya otot dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu: otot kepala, otot leher, otot bahu, otot dada, otot perut, otot punggung, otot lengan dan otot paha.
Otot kepala. Otot ini dibagi menjadi 5 bagian yaitu; otot pundak kepala, yang fungsinya sebagian kecil membentuk gales apeneurotika yang disebut juga muskulus oksipitafrontalis yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu muskulus frontalis dan oksipitalis; otot wajah, terbagi atas otot mata, otot bola mata, otot lingkar mata, otot kelopak mata; otot mulut atau bibir dan pipi, terbagi atas otot sudut mata dan mulut yang berfungsi menarik sudut mulut ke bawah, otot bibir atas, muskulus kuadratus labil inferior yang terdapat pada dagu, muskulus buksinator, membentuk dinding samping rongga mulut dan muskulus zigomatikus; otot pengunyah, otot yang bekerja pada waktu mengunyah yang terdiri atas muskulus maseter, yang mengangkat rahang bawah pada saat mulut terbuka, muskulus temporalis yang mengangkat rahang bawah ke atas dan ke belakang, muskulus pterigoid intermus dan eksternus yang menarik rahang bawah ke depan; otot lidah sangat berguna dalam membantu panca indra untuk mengunyah yang terdiri atas muskulus geniglous yang mendorong lidah ke depan dan muskulus stiloglosus yang menarik lidah ke atas dan ke belakang.
Otot leher. Otot ini terdiri atas 3 bagian, yaitu; muskulus plastima terdapat di sampaing leher menutupi sampai bagian dada; muskulus sternokleidomastoid di samping kanan dan kiri leher ada suatu tendo yang sangat kuat yang fungsinya menarik kepala ke samping kiri dan kanan; muskulus longisimus kapitis yang terdiri dari splenus dan semipinalis kapitis. Ketiga otot ini terdapat di belakang leher, terbentang dari belakang kepala ke prosesus spinalis korakoid.
Otot bahu. Otot ini hanya meliputi sebuah sendi saja dan membungkus tulang pangkal lengan dan tulang belikat akromion yang teraba dari luar. Otot ini terdiri atas 6 yaitu muskulus deltoid (otot segitiga) yang membentuk lengkang bahu dan berpangkal di bagian sisi tulang kerangka ujung bahu, balung tulang belikat dan diafise tulang pangkal lengan; muskulus subsakapularis otot (otot depan tulang belikat) yang mulai bagian depan tulang belikat manuju taju pangkal lengan; muskulus supraspinatus (otot atas balung tulang belikat) yang berpangkal di lekuk sebelah atas menuju taju besar tulang pangkal lengan. Muskulus infrapinnatus (otot bawah balung tulang belikat) yang berpangkal di lekuk sebelah bawah balung tulang belikat dan menuju ke taju besar tulang pangkal lengan; muskulus teres mayor (otot lengan bulat besar) yang berpangkal di siku bawah tulang belikat dan menuju ke taju kecil tulang pangkal lengan; muskulus teres minor (lengan belikat kecil) yang berpangkal di siku sebelah luar tulang belikat dan menuju ke taju besar tulang pangkal lengan.
Otot dada. Terdiri dari otot dada besar (muskulus pektoralis mayor) yang berpangkal di ujung tengah tulang selangka, tulang dada dan rawan iga; otot dada kecil (muskulus pektoralis minor) yang terdapat di bawah otot dada besar yang berpangkal di iga 1, 4 dan 5 menuju ke prosesus karakoid; otot bawah selangka (muskulus subklavikula) yang terdapat di antara tulang selangka dan ujung iga 1, bagian dada atas sebelah bawah tulang klavikula; otot gergaji depan (muskulus seratus anterior) yang berpangkal di iga 1 dan menuju ke sisi tengah tulang belikat, tetapi tebanyak menuju ke bawah; otot dada sejati yaitu otot-otot sela iga luar dan otot-otot sela iga dalam.
Otot perut. Terdiri atas muskulus abdominis internal (dinding perut). Garis di tengah dinding perut dinamakan linea alba otot sebelah luar; lapisan sebelah luar sekali dibentuk oleh otot miring luar (muskulus obiqus eksternus abdominis) yang berpangkal pada iga V sampai iga yang ke bawah sekali; lapisan otot kedua di bawah otot dibentuk oleh otot perut dalam (muskulus obliqus internus abdominis), serabut miring menuju ke atas dan ke tengah; muskulus transversus abdominis yang merupaka xifoid menuju artikule ke kostal terus ke simfisis.
Otot punggung. Terdiri atas otot punggung bagian belakang, yang terdiri atas 3 bagian, yaitu otot yang ikut menggerakkan lengan di antaranya otot trapezius (otot kerudung) yang terdapat di semua fasa ruas-ruas tulang punggung; muskulus latismus dorsi (otot punggung lebar) yang berpangkal pada ruas tulang punggung yang kelima dari bawah fasia lumboid, tepi tulang punggung dan iga 3 ke bawah, gunanya menutupi ketiak bagian belakang; muskulus rumboid (otot belah ktupat), berpangkal dari taju duri, dari tulang leher V, ruas tulang punggung V, menuju ke pinggir tengah tulang belikat; otot antar tulang belakang dan iga yang bekerja menggerakkan tulang iga atau otot bantu pernapasan yang terdiri dari 2 otot yaitu muskulus seratus posterior inferior (otot gergaji ke belakang bawah) yang terletak di bawah otot punggung leher, berpangkal di fasia lumbodorsalis dan menuju iga V dari bawah, muskulus seratus posterior superior, terletak di bawah otot belah ketupat dan berpangkal di ruas tulang leher keenam dan ketujuh dari ruas tulang punggung yang kedua; otot punngung sejati yang terdiri dari muskulus interspinalis transversi dan muskulus semispinalis, terdapat di antara kiri dan kanan prosesus transversus dan prosesus spina, muskulus erektor spinal terletak di samping ruas tulang belakang kiri dan kanan, muskulus kuadratus lumborum, terletak antara krista iliaka dan tulang kosta.
Otot lenagan. Terdiri dari pangkal lengan atas dan bawah. Pangkal lengan atas yang terdiri dari otot ketat (fleksor) yaitu muskulus biseps brakii (otot berkepala dua). Otot ini meliputi 2 sendi dan 2 buah kepala; muskulus brankialis (otot lengan dalam) yang berpangkal di bawah otot segitiga di tulang pangkal lengan, muskulus korakobrakialis yang berpangkal di prosesus korakoid dan menuju ke tulang pangkal lengan; otot lengan bawah yang terdiri dari muskulus ekstensor karpi radialis longus, muskulus ekstensor karpi radialis brevis, muskulus ekstensor karpi ulnaris, muskulus karpi radialis, muskulus ekstensor polieis longus.
Otot paha. Mempunyai selaput pembungkus yang sangat kuat dan disebut fasia lata yang dibagi atas 3 golongan yaitu otot abduktor yang terdiri dari muskulus abduktor maldanus sebelah dalam, muskulus abduktor brevis sebelah tengah, dan muskulus abduktor longus sebelah luar; muskulus ekstensor (otot berkepala empat) merupakan yang terbesar yang terdiri dari muskulus rektus femoris, muskulus vastus lateralis eksternal, muskulus vastus medialis internal, muskulus vastus intermedial dan otot fleksor femoris.
Berdasarkan arah lintangnya terdiri dari 4 bagian, yaitu otot seratus, otot obliqus, otot rektus, dan otot transversus. Otot seratus merupakan otot yang arahnya membentuk cekungan otot setengah lingkaran yang mana otot ini biasanya ditemukan pada bagian anterior dari otot perut. Otot obliqus merupakan otot yang arahnya miring, yang mana otot ini ditemukan pada otot perut khususnya bagian kanan internus. Otot rektus merupakan otot yang arahnya lurus ke bawah yang membentuk sebuah garis sumbu yang ditemukan pada otot-otot perut khususnya pada bagian superior. Otot transversus merupakan otot yang arahnya mendatar membentuk sebuah garis horozontal dan baisanya ditemukan pada otot perut bagian medial.
Berdasarkan kepalanya, otot dibedakan atas muskulus fusiformis, muskulus biseps, muskulus biventer, muskulus intersectus, muskulus planus, muskulus semipennatus, dan muskulus pennatus.
Muskulus fusiformis (otot berkepala satu), dimana serat otot-ototnya berada di salah satu sisi otot yang membentuk suatu garis lurus dari atas ke bawah. Muskulus biseps (otot berkepala dua), otot ini membelah hingga membentuk 2 bagian dengan serat-sertanya terdapat pada bagian sisi pada batas pembelahan, terdapat pada otot lengan pada bisep, kepala yang panjang melekat di dalam sendi bahu, kepala yang pendek melekatnya di sebelah luar. Muskulus biventer (otot berperut dua), serabutnya menuju ke atas yang ikut membentuk kandung otot perut lurus yang mempunyai 4 buah urat melintang. Muskulus intersectus (otot berperut banyak), dimana setiap perut ada sekatnya yang dibatasi oleh serabut-serabut otot dengan berbagai arah. Muskulus planus (otot berkepala banyak) dengan arah serabut ototnya mendatar yang mana otot ini ditemukan pada otot-otot lengan yang mana urat-uratnya melekat pada bagian olikrani. Muskulus semipennatus (otot yang berserabut satu sisi), arah serat-serat ototnya mendatar dan berjumlah banyak. Muskulus pennatus (otot berserabut dua sisi) yang arah serabut-serabut otot mebentuk arah vertikal pada sebelah kiri dan kanan.
Cara kerja sinap Neuromuscular yaitu jika impuls menjalar ke neuron motor pada sistem sensorik somatik menyebabkan serabut-serabut otot kerangka berkontraksi di tempat berakhirnya. Sambungan di antara terminal suatu neuron motor dan serabut otot disebut sambungan Neuromuscular. Sifat-sifatnya cukup serupa dengan suatu sinapsis terminal akson motor yang mengandung beribu-ribu vesikel yang menyimpan asetilkolin. Bila suatu impuls saraf mencapai terminal akson, beratus-ratus vesikel mengeluarkan asetilkolin ke permukaan serabut otot , sehingga akan terjadi kontraksi otot.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan jenisnya, otot dibedakan menjadi 3 bagian yaitu; otot polos, otot lurik (otot rangka), dan otot jantung (otot kardiak).
2. Bila otot dirangsang maka timbul masa latent yang pendek yaitu sewaktu rangsangan diterima, kemudian otot berkontraksi yang berarti menjadi pendek dan tebal, dan akhirnya mengendor dan memendek kembali.
3. Aktomiosin terdiri dari aktin dan miosin yang sebagian besar saling bertautan sehingga menyebabkan miofibril memiliki pita terang dan gelap yang selang seling.
4. Kontraksi tunggal otot menyebabkan kontraksi singkat yang diikuti oleh relaksasi.
5. Cara kerja otot dibedakan menjadi 2 macam, yaitu; sinergis (cara kerja otot yang saling beriringan) dan antagonis (kerja otot yang saling berlawanan).
6. Sinap Neuromuscular merupakan saraf motorik sampai ke ujung serat saraf. Motor end-plate mengatur kontraksi aktivitas otot yang melibatkan ujung sensorik yang terdiri atas dua jenis yaitu gelondong otot saraf dan ujung saraf tendo.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan kali ini adalah agar pada praktikum selanjutnya laboratorium dapat menyiapkan bahan-bahan praktikum (dalam hal ini torso-torso otot) lebih lengkap, sehingga praktikan akan lebih mudah memahami serta mengetahui tentang sistem otot.
DAFTAR PUSTAKA
Frandson, 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Kelley, R., 1995. Histologi Dasar. EGC. Jakarta.
Kimball, J. W., 1983. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/c3/Otot_rangka.jpg/300px-
Otot_rangka.jpg).
(http://www.docstoc.com/docs/25972416/Sistem-Alat-Gerak).
Sabtu, 21 Mei 2011
LAPORAN ANFISMAN (SISTEM ENDOKRIN)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar-kelenjar tersebut tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa kelenjar endokrin ada yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon ganda) dan ada yang menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal), misalnya kelenjar hipofisis sebagai pengatur kelenjar yang lain. Kelenjar-kelenjar endokrin ini pula memiliki peranan yang sangat penting, tetapi dengan fisiologis yang berbeda-beda, di dalam tubuh manusia berperan untuk menjaga keseimbangan aktivitas tubuh.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih memahami serta mengetahui tentang sistem endokrin (yang meliputi kelenjar beserta hormonnya), maka dilakukanlah suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme yang berbeda dari aksi hormon.
2. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara sistem saraf pusat dan kelenjar endokrin.
3. Mahasiswa dapat mengetahui aksi hormon pada sel.
4. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kelenjar endokrin dan menyebutkan fungsi dasarnya.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem endokrin beserta komponen-komponennya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar tanpa saluran atau kelenjar buntu digolongkan bersama di bawah nama organ endokrin, sebab yang dibuat tidak meninggalkan kelenjarnya melalui suatu saluran, tetapi langsung masuk ke dalam darah yang berbeda di dalam jaringan kelenjar. Beberapa organ endokrin menghasilkan 1 hormon tunggal, sedangkan yang lain lagi dua atau beberapa jenis hormon (Pearce, 2004: 232).
Kelenjae endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil ekskresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa ciri organ endokrin adalah yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon tunggal). Di samping itu juga ada yang menghasilkan lebih dari satu macam atau hormon ganda (Syaifuddin, 2006: 219).
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (duetless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai ”pembawa pesan” dan di bawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menterjemahkan ”pesan” tersebut menjadi suatu tindakan
(http://id.wikipedia.org//wiki/sistem-endokrin).
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasi kegiatan berbagai organ tubuh (http://medieasbore.com/optik-online/obat-metabolisme-dan-endokrin.html).
Kelenjar endokrin terdiri dari (1) kelenjar hipofise yang terletak di dalam rongga kepala dekat dasar otak; (2) kelenjar tiroid yang terletak di leher bagian depan; (3) kelenjar paratiroid dekat kelenjar tiroid; (4) kelenjar suprarenal yang terletak di kutub atas ginjal kiri-kanan; (5) pulau langerhans di dalam kelenjar pankreas (http://www.scribd.com/doc/18940970/Sistem-Endokrin.doc).
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namum mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempunyai/mempengaruhi kerja organ dalam sel
(www.docstoc.com/sistem-endokrin.doc).
Beberapa macam kelenjar endokrin: hipofisis (master of glands). Sebagian besar hormon yang dibentuknya memacu pengeluaran hormon lain. Dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Hipofisis Anterior
Hormon Somatotropin(untuk pembelahan sel, pertumbuhan), Hormon tirotropin(sintesis hormon tiroksin dan pengambilan unsur yodium), Hormon Adrenokortikotropin(merangsang kelenjar korteks membentuk hormon), Hormon Laktogenik(sekresi ASI), dan Hormon Gonadotropin( FSH pada wanita pemasakan folikel, pada pria pembentukan spermatogonium; LH pada wanita pembentukan korpus luteum,pada pria merangsang sel interstitial membentuk hormon testosteron).
b. Hipofisis Medula(membentuk hormon pengatur melanosit)
c. Hipofisis posterior
Hormon oksitosin(merangsang kontraksi kelahiran) dan Hormon Vasopresi (merangsang reabsorpsi air ginjal)
(http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1964214-sistem-endokrin/).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 Juni 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah carta atau torso sistem endokrin.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Letak Umum dari Kelenjar Endokrin Utama dalam Tubuh
Keterangan:
1. Adrenal
2. Hipofisis
3. Ovarium
4. Pankreas
5. Paratiroid
6. Testis
7. Timus
8. Tiroid
2. Kelenjar Endokrin (hormon)
Keterangan:
Hormon
1. Tireotrop
2. Paratireotrop
3. Prolaktin
4. Adrenotrop
5. Antideuretik, vasopresin, oksitosin
6. Oksitosin
7. Gonadotrop
8. Tiroksin, kalsitonin
9. Parathormon
10. Timosin
11. Air susu
12. Gastin
13. Insulin, glukagon
14. Sekretin, koksikotinin
15. Kortin, aldosteron, adrenalis, androgen
16. Angiostensin
17. Progesteron, estradiol, relaksin, ovum
18. Korinik gonadotropin
19. Testosteron, sperma
3. Mekanisme Aksi Hormon
4. Kontrol Umpan Balik dari Aktivitas Kelenjar
B. Pembahasan
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone. Berasal dari sel-sel epitel yang melakukan proliferasi kea rah pengikat sel epitel yang telah berproliferasi dan membentuk sebuah kelenjar endokrin, tumbuh dan berkembang dalam pembuluh kapiler. Dalam keadaan fisiologis hormon mempunyai pengaturan sendiri sehingga kadarnya selalu dalam keadaan optium untuk menjaga keseimbangan dalam organ yang berada di bawah pengaruhnya, mekanisme pengaturan ini disebut sistem umpan balik negative.
Kelenjar endokrin memiliki beberapa fungsi yaitu menghasilkan hormone yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu, mengontrol aktivitas kelenjar tubuh, merangsang aktivitas kelenjar tubuh, merangsang pertumbuhan jaringan, mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus, mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.
Kelenjar endokrin di dalam tubuh manusia dapat dibedakan atas beberapa kelenjar, yaitu kelenjar hipofise, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar timus, kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar kelamin.
Kelenjar hipofise. Terletak di dasar tengkorak, di dalam fossa hipofisis tulang sphenoid. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus yaitu lobus anterior dan lobus posterior. Lobus anterior (denohipofise) menghasilkan sejumlah hormon yang disebut hormon somatotropik yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan tubuh, hormon tirotropik berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan tiroksin, hormon adrenokortikotropik (ACTH) berfungsi mengendalikan kelenjar suprarenal, hormon gonadotropik yang berasal dari Folicle Stimulating Hormone (FSH) yang merangsang perkembangan folikel Graaf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dlm testis, Luteinizing Hormone (LH) berfungsi mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis, dan Intertitial Cell Stimulating Hormone (ICSH). Sedangkan lobus posterior (neurohipofise) mengeluarkan dua jenis hormon yaitu hormon antidiuretik (ADH) yang berfungsi mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal dn hormon oksitoksin yang berfungsi merangsang dan menguatkan kontraksi uterus sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui.
Kelenjar tiroid. Terdiri atas dua lobus yang terletak di sebelah kanan trakea, diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring. Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium silider, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan cairan yang bersifat lekat yaitu koloid tiroid yang mengandung zat senyawa yodium. Kelenjar ini memiliki beberapa fungsi diantaranya bekerja sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksidasi, mengatur pengeluaran karbondioksida, metabolik dalam hati, pengaturan susunan kimia dalam jaringan dan pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental. Kelenjar ini juga menghasilkan hormon tiroksin yang memegang peranan penting dalam mengatur metabolisme yang dihasilkannnya, merangsang laju sel-sel dalm tubuh melakukan oksidasi terhadap bahan makanan, memegang peranan penting dalam pengawasan metabolisme secara keseluruhan.
Kelenjar paratiroid. Terletak di setiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher. Kelenjar ini berjumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan hormon paratiroksin, yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh.
Kelenjar timus. Terletak di dalam toraks, kira-kira pada ketinggian befurkasi trakea. Warnanya kemerah-merahan dan terdiri atas dua lobus. Pada bayi yang baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram tau lebih sedikit, ukurannya bertambah pada masa remaja beratnya dari 30 – 40 gram dan kemudian mengerut lagi. Fungsinya belum diketahui, tetapi diperkirakan ada sangkutnya dengan produksi antibodi.
Kelenjar adrenal (kelenjar suprarenal). Jumlahnya ada dua, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5 – 9 gram. Kelenjar ini terbagi atas dua bagian yaitu bagian luar (korteks) yang berwarna kekuningan menghasilkan kortisol dan bagian medula menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin). Fungsi bagian korteks yaitu mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam, mengatur metabolisme lemak, hidrat arang dan protein, serta mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid. Bagian medula berfungsi dalam kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi pendarahan pada operasi kecil, vasokontriksi pembuluh darah perifer, dan relaksasi bronkus. Hormon adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati. Beberapa hormon penting yng disekresikan korteks adrenal adalah hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron. Semuanya bertalian erat dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi ginjal, dan kondisi otot.
Kelenjar pankreas. Terdapat di belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alfa dan beta. Sel alfa menghasilkan hormon glukagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon insulin yang berfungsi mencegah penyakit diabetes dengan menjaga kadar gula dalam darah tetap normal.
Kelenjar kelamin. Terdiri atas kelenjar kelamin wanita dan kelenjar kelamin pria. Ovarium merupakan penghasilkan hormon pada wanita. Ovarium mensekresikan hormon estrogen dan hormon progesteron. Hormon estrogen berfungsi menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Hormon progesteron berfungsi menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi. Alat yang mensekresikan hormon androgen yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam drh yang beredar dalam jaringan.
2. Kelenjar endokrin berfungsi dalam mengahsilkan hormon yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu, mengontrol aktivitas kelenjar tubuh, merangsang aktivitas kelenjar tubuh, merangsang pertumbuhn jaringan, mengatur metabolisme, oksidas, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus, mepengaruhi metabolisme lemak, protein, hidratarang, vitamin, mineral dan air.
3. Kelenjar endokrin pada manusia dapat dibedakan atas kelenjar hipofise, kelenjar tiroid, kelenjar partiroid, kelenjar timus, kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar kelamin.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan ini adalah agar pada praktikum selanjutnya, carta sistem endokrin dapat diperbanyak lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1964214-sistem-endokrin/
http://id.wikipedia.org//wiki/sistem-endokrin
http://medieasbore.com/optik-online/obat-metabolisme-dan-endokrin.html
http://www.scribd.com/doc/18940970/Sistem-Endokrin.doc
www.docstoc.com/sistem-endokrin.doc
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar-kelenjar tersebut tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa kelenjar endokrin ada yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon ganda) dan ada yang menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal), misalnya kelenjar hipofisis sebagai pengatur kelenjar yang lain. Kelenjar-kelenjar endokrin ini pula memiliki peranan yang sangat penting, tetapi dengan fisiologis yang berbeda-beda, di dalam tubuh manusia berperan untuk menjaga keseimbangan aktivitas tubuh.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih memahami serta mengetahui tentang sistem endokrin (yang meliputi kelenjar beserta hormonnya), maka dilakukanlah suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme yang berbeda dari aksi hormon.
2. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara sistem saraf pusat dan kelenjar endokrin.
3. Mahasiswa dapat mengetahui aksi hormon pada sel.
4. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kelenjar endokrin dan menyebutkan fungsi dasarnya.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem endokrin beserta komponen-komponennya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar tanpa saluran atau kelenjar buntu digolongkan bersama di bawah nama organ endokrin, sebab yang dibuat tidak meninggalkan kelenjarnya melalui suatu saluran, tetapi langsung masuk ke dalam darah yang berbeda di dalam jaringan kelenjar. Beberapa organ endokrin menghasilkan 1 hormon tunggal, sedangkan yang lain lagi dua atau beberapa jenis hormon (Pearce, 2004: 232).
Kelenjae endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil ekskresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa ciri organ endokrin adalah yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon tunggal). Di samping itu juga ada yang menghasilkan lebih dari satu macam atau hormon ganda (Syaifuddin, 2006: 219).
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (duetless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai ”pembawa pesan” dan di bawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menterjemahkan ”pesan” tersebut menjadi suatu tindakan
(http://id.wikipedia.org//wiki/sistem-endokrin).
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasi kegiatan berbagai organ tubuh (http://medieasbore.com/optik-online/obat-metabolisme-dan-endokrin.html).
Kelenjar endokrin terdiri dari (1) kelenjar hipofise yang terletak di dalam rongga kepala dekat dasar otak; (2) kelenjar tiroid yang terletak di leher bagian depan; (3) kelenjar paratiroid dekat kelenjar tiroid; (4) kelenjar suprarenal yang terletak di kutub atas ginjal kiri-kanan; (5) pulau langerhans di dalam kelenjar pankreas (http://www.scribd.com/doc/18940970/Sistem-Endokrin.doc).
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namum mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempunyai/mempengaruhi kerja organ dalam sel
(www.docstoc.com/sistem-endokrin.doc).
Beberapa macam kelenjar endokrin: hipofisis (master of glands). Sebagian besar hormon yang dibentuknya memacu pengeluaran hormon lain. Dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Hipofisis Anterior
Hormon Somatotropin(untuk pembelahan sel, pertumbuhan), Hormon tirotropin(sintesis hormon tiroksin dan pengambilan unsur yodium), Hormon Adrenokortikotropin(merangsang kelenjar korteks membentuk hormon), Hormon Laktogenik(sekresi ASI), dan Hormon Gonadotropin( FSH pada wanita pemasakan folikel, pada pria pembentukan spermatogonium; LH pada wanita pembentukan korpus luteum,pada pria merangsang sel interstitial membentuk hormon testosteron).
b. Hipofisis Medula(membentuk hormon pengatur melanosit)
c. Hipofisis posterior
Hormon oksitosin(merangsang kontraksi kelahiran) dan Hormon Vasopresi (merangsang reabsorpsi air ginjal)
(http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1964214-sistem-endokrin/).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 Juni 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah carta atau torso sistem endokrin.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Letak Umum dari Kelenjar Endokrin Utama dalam Tubuh
Keterangan:
1. Adrenal
2. Hipofisis
3. Ovarium
4. Pankreas
5. Paratiroid
6. Testis
7. Timus
8. Tiroid
2. Kelenjar Endokrin (hormon)
Keterangan:
Hormon
1. Tireotrop
2. Paratireotrop
3. Prolaktin
4. Adrenotrop
5. Antideuretik, vasopresin, oksitosin
6. Oksitosin
7. Gonadotrop
8. Tiroksin, kalsitonin
9. Parathormon
10. Timosin
11. Air susu
12. Gastin
13. Insulin, glukagon
14. Sekretin, koksikotinin
15. Kortin, aldosteron, adrenalis, androgen
16. Angiostensin
17. Progesteron, estradiol, relaksin, ovum
18. Korinik gonadotropin
19. Testosteron, sperma
3. Mekanisme Aksi Hormon
4. Kontrol Umpan Balik dari Aktivitas Kelenjar
B. Pembahasan
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone. Berasal dari sel-sel epitel yang melakukan proliferasi kea rah pengikat sel epitel yang telah berproliferasi dan membentuk sebuah kelenjar endokrin, tumbuh dan berkembang dalam pembuluh kapiler. Dalam keadaan fisiologis hormon mempunyai pengaturan sendiri sehingga kadarnya selalu dalam keadaan optium untuk menjaga keseimbangan dalam organ yang berada di bawah pengaruhnya, mekanisme pengaturan ini disebut sistem umpan balik negative.
Kelenjar endokrin memiliki beberapa fungsi yaitu menghasilkan hormone yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu, mengontrol aktivitas kelenjar tubuh, merangsang aktivitas kelenjar tubuh, merangsang pertumbuhan jaringan, mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus, mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.
Kelenjar endokrin di dalam tubuh manusia dapat dibedakan atas beberapa kelenjar, yaitu kelenjar hipofise, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar timus, kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar kelamin.
Kelenjar hipofise. Terletak di dasar tengkorak, di dalam fossa hipofisis tulang sphenoid. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus yaitu lobus anterior dan lobus posterior. Lobus anterior (denohipofise) menghasilkan sejumlah hormon yang disebut hormon somatotropik yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan tubuh, hormon tirotropik berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan tiroksin, hormon adrenokortikotropik (ACTH) berfungsi mengendalikan kelenjar suprarenal, hormon gonadotropik yang berasal dari Folicle Stimulating Hormone (FSH) yang merangsang perkembangan folikel Graaf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dlm testis, Luteinizing Hormone (LH) berfungsi mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis, dan Intertitial Cell Stimulating Hormone (ICSH). Sedangkan lobus posterior (neurohipofise) mengeluarkan dua jenis hormon yaitu hormon antidiuretik (ADH) yang berfungsi mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal dn hormon oksitoksin yang berfungsi merangsang dan menguatkan kontraksi uterus sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui.
Kelenjar tiroid. Terdiri atas dua lobus yang terletak di sebelah kanan trakea, diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring. Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium silider, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan cairan yang bersifat lekat yaitu koloid tiroid yang mengandung zat senyawa yodium. Kelenjar ini memiliki beberapa fungsi diantaranya bekerja sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksidasi, mengatur pengeluaran karbondioksida, metabolik dalam hati, pengaturan susunan kimia dalam jaringan dan pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental. Kelenjar ini juga menghasilkan hormon tiroksin yang memegang peranan penting dalam mengatur metabolisme yang dihasilkannnya, merangsang laju sel-sel dalm tubuh melakukan oksidasi terhadap bahan makanan, memegang peranan penting dalam pengawasan metabolisme secara keseluruhan.
Kelenjar paratiroid. Terletak di setiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher. Kelenjar ini berjumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan hormon paratiroksin, yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh.
Kelenjar timus. Terletak di dalam toraks, kira-kira pada ketinggian befurkasi trakea. Warnanya kemerah-merahan dan terdiri atas dua lobus. Pada bayi yang baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram tau lebih sedikit, ukurannya bertambah pada masa remaja beratnya dari 30 – 40 gram dan kemudian mengerut lagi. Fungsinya belum diketahui, tetapi diperkirakan ada sangkutnya dengan produksi antibodi.
Kelenjar adrenal (kelenjar suprarenal). Jumlahnya ada dua, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5 – 9 gram. Kelenjar ini terbagi atas dua bagian yaitu bagian luar (korteks) yang berwarna kekuningan menghasilkan kortisol dan bagian medula menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin). Fungsi bagian korteks yaitu mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam, mengatur metabolisme lemak, hidrat arang dan protein, serta mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid. Bagian medula berfungsi dalam kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi pendarahan pada operasi kecil, vasokontriksi pembuluh darah perifer, dan relaksasi bronkus. Hormon adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati. Beberapa hormon penting yng disekresikan korteks adrenal adalah hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron. Semuanya bertalian erat dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi ginjal, dan kondisi otot.
Kelenjar pankreas. Terdapat di belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alfa dan beta. Sel alfa menghasilkan hormon glukagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon insulin yang berfungsi mencegah penyakit diabetes dengan menjaga kadar gula dalam darah tetap normal.
Kelenjar kelamin. Terdiri atas kelenjar kelamin wanita dan kelenjar kelamin pria. Ovarium merupakan penghasilkan hormon pada wanita. Ovarium mensekresikan hormon estrogen dan hormon progesteron. Hormon estrogen berfungsi menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Hormon progesteron berfungsi menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi. Alat yang mensekresikan hormon androgen yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam drh yang beredar dalam jaringan.
2. Kelenjar endokrin berfungsi dalam mengahsilkan hormon yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu, mengontrol aktivitas kelenjar tubuh, merangsang aktivitas kelenjar tubuh, merangsang pertumbuhn jaringan, mengatur metabolisme, oksidas, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus, mepengaruhi metabolisme lemak, protein, hidratarang, vitamin, mineral dan air.
3. Kelenjar endokrin pada manusia dapat dibedakan atas kelenjar hipofise, kelenjar tiroid, kelenjar partiroid, kelenjar timus, kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar kelamin.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan ini adalah agar pada praktikum selanjutnya, carta sistem endokrin dapat diperbanyak lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1964214-sistem-endokrin/
http://id.wikipedia.org//wiki/sistem-endokrin
http://medieasbore.com/optik-online/obat-metabolisme-dan-endokrin.html
http://www.scribd.com/doc/18940970/Sistem-Endokrin.doc
www.docstoc.com/sistem-endokrin.doc
LAPORAN ANFISMAN (SISTEM EKSRESI)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem ekskresi merupakan hal pokok dalam homeostatis atau kondisi yang mantap dalam tubuh karena sistem tersebut membuang limbah metabolisme dan merespon ketidakseimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu sesuai kebutuhan. Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit.Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari: paru-paru, hati, kulit, dan ginjal.
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan KARBONDIOKSIDA (CO2) dan UAP AIR (H2O). Hati merupakan “kelenjar” terbesar yang terdapat dalam tubuh manusia. Hati merupakan organ yang sangat penting, berfungsi untuk menghasilkan empedu yang berasal dari perombakan sel darah merah, menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan membunuh bibit penyakit dan lain sebagainya. Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang utama karena berada di lapisan anggota tubuh yang paling luar dan berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar. Fungsi kulit antara lain sebagai berikut: mengeluarkan keringat, pelindung tubuh, menyimpan kelebihan lemak, mengatur suhu tubuh, dan tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet. Ginjal bentuknya seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang. Fungsi ginjal yaitu : menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh, mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan, reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal, menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia, dan menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang.
Dengan demikian, untuk memehami lebih mendalam tentang sistem ekskresi yang terjadi didalam tubuh menusia maka dilakukanlah praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui nama anatomi dari sistem urinaria.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi struktur urinaria dan menghubungkan fungsinya yang berbeda.
3. Mahasiswa dapat mendefinisikan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang terlibat dalam frekuensi filtrasi glomerulus (GFR).
4. Mahasiswa dapat mendefinisikan diuresis dan menjelaskan cara kerjanya.
5. Mahasiswa dapat menjelaskan peran ADH dan aldoosteron dalam penyerapan tubus renalis.
6. Mahasiswa dapat mengidentifikasi proses aktif dan fasif yang terjadi selama reabsorbsi tubular.
7. Mahasiswa dapat menjelaskan gagal ginjal mengganggu homeostatis tubuh.
8. Mahasiswa dapat mendefinisikan nefritis, glomerulonefritis, pielonefritis, dan uretritis.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem ekskresi beserta komponen-komponennya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem ekskresi merupakan hal pokok dalam homeostatis atau kondisi yang mantap dalam tubuh karena sistem tersebut membuang limbah metabolisme dan merespon ketidakseimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu sesuai kebutuhan. Pada mamalia, ginjal adalah sepasang organ berbentuk biji kacang merah (sekitar 10 cm panjangnya pada manusia). Ginjal mamalia memiliki dua daerah yang berbeda, yaitu korteks renal di bagian luar dan medula renal di bagian dalam. Nefron, yang merupakan unit fungsional ginjal vertebrata , terdiri atas sebuah tubula panjang tunggal; dan sebuah bola kapiler yang disebut glomerulus. Ujung buntu tubula itu membentuk pembengkakan mirip piala, yang disebut kapsula Bowman (Boeman’s capsule), yang mengelilingi glomerulus (Campbell, 2004 : 113-117).
Ginjal dibangun oleh tiga komponen dasar, yaitu : glomeruli, tubuli ginjal dan sepasang duktus longitudinal. Glomerulus merupakan anyaman kapiler arteri dimana terjadi penyaringan air, garam-garam (ion-ion) dan substansi lainnya dari darah. Tubulus ginjal berfungsi menampung filtrat glomerulus dan meneruskannya ke duktus longitudinal. Duktus longitudinal tumbuh dari hasil fusi ujung-ujung tubulus ginjal, yang selanjutnya tumbuh kaudal (Suripto, 1992 : 116-117).
Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai Bowman, berfungasi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus, sisa cairan akan diteruskan kepiala ginjal terus berlanjut ke ureter. Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk kedalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah. Ada tiga tahap pembentukan urine:
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena aferen lebih besar dari permukaran eferen maka terjadi penyerapan darah. Sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai Bowman yang terdiri dari glukosa, air, natriu, klorida, sulfat, bikarbonat dll, yang diteruskan ke tubulus ginjal.
b. Proses resbsorpsi
Proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan natrium dan ion bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah. Penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papila renalis.
c. Proses sekresi
Sisa penyerapan urine kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria
(Syaifuddin, 2006 : 239).
Mikturasi adalah proses pembuangan urine. Timbul refleks rasa ingin kencing bila tertimbun urine 200-300 ml dalam vesika urinaria. Kesukaran mikturasi biasanya disebabkan karena :
1. BPH, yaitu pembesaran kelenjar prostat (sering terjadi pada pria diatas 50 tahun).
2. Batu uretra.
3. Striktura uretra, uretra menyempit penuh jaringan parut bekas infeksi
(Setiadi, 2007 : 132-133)
Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh, dan bersambung dengan selaput lendir yang melapisi organ-organ dan lubang-lubang masuk. Kulit mempunyai banyak fungsi; di dalamnya terdapat ujung saraf peraba, membantu mengatur suhu dan mengendalikan hilangnya air dari tubuh dan mempunyai sedikit kemampuan exkretori, sekretori dan absorpsi. Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, diseblah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal, dibelakang peritoneum, dan karena itu diluar rongga peritonium. Kedudukan ginjal dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian vertebrata vertebra torakalis terakhir sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki ruang banyak di seblah kanan. Setiap ginjal panjangnya 6 sampai 7 ½ sentimeter, dan tebal 1 ½ sampai 2 ½ sentimeter. Pada orang dewasa beratnya kira-kira 140 gram. Bentuk ginjal seperti biji kacang dan sisi dalamnya atau hilum menghadap ke tulang punggung. Sisi luarnya cembung. Pembuluh-pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Di atas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar suprarenal. Ginjal kanan lebih pendek dan lebih tebal dari yang kiri (Pearce, 2004 : 239-245).
Ginjal (ren) atau buah pinggang; yaitu pembuangan ampas metabolisme protein, terutama berupa urea, sedikit asam urat atau amoniak. Hati (lever), hepar; yaitu organ pencernaan dan metabolisme yang terdiri dari belahan (lobi, jamak lobus). Kulit (cutis), organ yang berfungsi melindungi tubuh dari gangguan luar: biologis (kuman, serangga), kimia dan fisik. Paru (pulmo); alat pernafasan pada hewan darat. Dibina atas satuan alat pernafasan: alveoli. Saluran nafas sejak dari luar sampai ke alveoli: trachea, bronchus, bronchiolus, dan kantung alvoelus. Paru berada dalam kantung pleura. Pada dipnoi paru berupa kantung sederhana yang dibina atas sel-sel epitel gepeng, yang sedikit berlekuk ke dalam (Sujana, 2007 : 333-500).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Morfologi Ginjal
Keterangan:
1. Arteri dari vena renalis
2. Ureter
2. Anatomi Ginjal
Keterangan:
1. Arteri dari vena renalis
2. Pelvis
3. Ureter
4. Papilla
5. Kaliks
6. Kolumna renalis
7. Medulla
8. Piramid
9. Korteks
3. Sistem Urinaria
Keterangan:
1. Vena kava inferior
2. Kelenjar adrenal
3. Aorta
4. Ginjal
5. Arteri dan vena renalis kanan
6. Arteri dan vena renalis kiri
7. Ureter
8. Kandung Kemih
9. Uretra
4. Vesika Urinaria
Keterangan:
1. Ureter
2. Uretra
3. Otot polos
4. Kelenjar prostat
5. Kelenjar bulbiretral
6. Orifisium uretra
7. Ujung potongan peritoneum
5. Penampang Anatomi Nefron
Keterangan:
1. Arteriola aferen
2. Badan Malphigi
3. Kapsul Bowman
4. Glomerulus
5. Tubulus Proksimal
6. Diagram Pengeluaran Urin
Keterangan:
1. Arteriola aferen
2. Badan Malphigi
3. Kapsul Bowman
4. Glomerulus
5. Tubulus Proksimal
6. Tubulus kontorti turun
7. Lengkung Henle
8. Tubulus kontorti naik
9. Tubulus distal
10. Tubulus kolekta
7. Penampang Kulit
Keterangan:
1. Pori keringat 11. Jaringan adiposa
2. Batang rambut 12. Hipodermis
3. Otot erektor 13. Lapisan retikular
4. Kelenjar sabasea 14. Dermis
5. Saraf 15. Lapisan papilar
6. Akar rambut 16. Epidermis
7. Folikel rambut
8. Arteri
9. Kelenjar keringat
10. Serabut saraf sensoris
8. Struktur Hati
Keterangan:
1. Vena kava inferior
2. Lobus kanan
3. Kandung empedu
4. Ligamentum falsiformis
5. Lobus kiri
B. Pembahasan
Pada prinsipnya, pada tubuh manusia terdapat proses metabolisme, yang meliputi pencernaan, peredaran darah dan pernapasan. Dari proses-proses tersebut akan menghasilkan energi dan zat sisa (sampah metabolisme). Zat sisa atau sampah metabolisme lebih sering disebut ekskresi. Sistem ekskresi merupakan proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Hasil sistem ekskresi dapat dibedakan menjadi: zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu; zat padat yaitu berupa feces; gas berupa CO2; uap air berupa H2O.
Sistem ekskresi berperan untuk mengeluarkan zat-zat sisa yang sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh manusia. Dengan kata lain, jika zat-zat sisa metabolisme tidak dikeluarkan, akan meracuni tubuh manusia. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari; kulit, paru-paru, hati, dan ginjal.
Kulit, merupakan lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar yang menutupi dan melindungi permukaan tubuh. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa. Kulit ini berfungsi; sebagai alat pengeluaran cairan keringat, sebagai alat pengatur suhu tubuh, sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, sebagai alat indera peraba, sebagai alat pelindung untuk mengurangi hilangnya air dari dalam tubuh, sebagai pelindung tubuh dari gesekan, penyinaran sinar matahari/UV, zat-zat kimia dan lain sebagainya. Kulit dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: Epidermis/Kulit Ari. Epidermis tersusun atas epitelium berlapis dan terdiri atas sejumlah lapisan sel yang tersusun atas beberapa lapisan kulit pada penampang lintang kulit atau struktur anatomi kulit akan memperlihatkan pewarnaan yang berbeda satu dengan yang lain. Lapisan tersebut adalah: lapisan korneum merupakan lapisan yang terdiri dari sel-sel yang yang telah mati dan sifatnya mudah mengelupas. Lapisan ini selnya kaya akan sel tanduk; lapisan lusidum merupakan lapisan yang melindungi hilangnya air dari tubuh dan mencegah masuknya zat/benda asing dalam kulit, lapisan ini banyak mengandung zat lemak; lapisan granulosum merupakan lapisan yang memberikan kekuatan dan kelenturan kulit, lapisan ini banyak mengadung pigmen kulit yaitu melanin; lapisan spinosum/akantosum merupakan lapisan yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan. Sel-selnya disebut spinosum karena sel-selnya terdiri dari sel yang bentuknya poligonal (banyak sudut) dan mempunyai tanduk (spina). Disebut akantosum karena sel-selnya berduri. Ternyata spina atau tanduk tersebut adalah hubungan antara sel yang lain yang disebut intercelular bridges atau jembatan interselular; lapisan germinativum/basal merupakan lapisan yang selalu dapat menghasilkan sel-sel kulit yang baru yang berguna untuk menggantikan sel-sel kulit yang telah mati.
Dermis/kulit jangat, merupakan lapisan kedua dari kulit. Batas dengan epidermis dilapisi oleh membran basalis dan diseblah bawah berbatasan dengan subkutis tetapi batas ini tidak jelas hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel lemak. Dermis tersusun dari; glandula sudorifera/kelenjar keringat, glandula sebaceae/kelenjar minyak, akar rambut, pembuluh darah, sel-sel saraf, dan reseptor indera peraba.
Jaringan Lemak merupakan lapisan yang terdapat di paling bawah/dasar dari lapisan dermis. Jaringan ini berguna untuk melindungi tubuh dan pengaruh perubahan suhu dari luar tubuh. Kelenjar keringat adalah alat utama untuk mengendalikan suhu tubuh, berkurang pada waktu iklim dingin dan meningkat pada waktu suhu panas. Sekresi aktif dari kelenjar keringat, di bawah pengendalian saraf simpatis. Cairan keringat banyak mengandung air (mendominasi); garam mineral/NaCl (NatriumChlorida), juga mendominasi cairan bersamaan dengan air; urea (sebagian kecil). Setiap hari manusia menghasilkan ± 225 ml dari 2 juta kelenjar keringat yang tersebar pada lapisan dermis.
Paru-paru selain termasuk dalam sistem respirasi, paru-paru juga termasuk dalam sistem ekskresi. Karena setelah kita menghirup oksigen, terjadi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida di paru-paru, tepatnya di alveolus. Jadi, paru-paru merupakan organ ekskresi karena mengeluarkan karbon dioksida. Paru-paru terletak di rongga dada dan teridiri dari 2 bagian yaitu bagian dexter yang memiliki 3 lobi dan bagian sinister yang memilki 2 lobi. Memiliki selaput tipis yang disebut pleura. Menghasilkan CO2 dalam bentuk gas dan H2O dalam bentuk uap air sebagai hasil dari ekskresi.
Hati atau hepar adalah orhan yang paling besar dalam tubuh kita, warnanya coklat, dan beratnya ± 1 ½ kg. Letaknya, bagian atas dalam rongga abdomen di sebelah kanan bawah diafragma. Fungsi hepar yaitu: sebagai penyimpan gula dalam bentuk glikogen; sebagai tempat penetralan zat racun dan membunuh kuman/detoksifikasi; sebagai tempat perombakan sel darah merah; sebagai tempat perombakan protein tertentu dan pembentukkannya, seperti mengubah amonia menjadi ureum; sebagai tempat perubahan provitamina menajdi vitamin A; sebagai tempat penghasil cairan empedu (bilirubin dan biliverdin).
Ginjal merupakan organ ekskresi, karena ginjal mengeluarkan zat sisa yang berupa urine, yang terdiri dari sebagian air, urea, garam-garam dan mineral dan zat sisa lain yang berupa racun. Di dalam tubuh manusia, terdapat sepasang ginjal yang terletak di rongga perut bagian belakang. Ginjal manusia tersusun atas 3 bagian, yaitu kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan rongga ginjal (pelvis).
Kulit Ginjal (Korteks). Bagian ini adalah bagian yang paling luar. Pada bagian ini terdapat berjuta-juta sel nefron yang berfungsi sebagai filtrasi/penyaringan darah. Nefron terdiri atas badan Malpighi, yang tersusun oleh glomerulus dan kapsul Bowman.
Sumsum Ginjal (Medula). Medula atau sumsum ginjal tersusun atas beberapa badan yang berbentuk piramida. Pada bagian ini terdapat ribuan pembuluh halus yang merupakan kelanjutan kapsul Bowman. Sumsum ginjal merupakan bagian tengah ginjal, dan tempat yang dilalui oleh urine sekunder.
Rongga Ginjal (Pelvis). Bagian ini adalah bagian yang paling dalam. Urine hasil penyaringan dari glomerulus akan menetes ke pelvis sebagai tempat menampung sementara urine sekunder. Setelah proses ini, urine meninggalkan rongga ginjal menuju ke kandung kemih.
Ginjal memiliki beberapa fungsi yaitu: menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh; mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan; reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal; menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia; menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang, dan lain sebagainya.
Nefron terdiri dari: badan malphigi yaitu gabungan dari glomerulus (kumpulan kapiler darah) dan Kapsul Bowman; tubulus kontortus proksimal (pembuluh yang dekat badan malphigi); Lengkung Henle ( terdiri dari saluran naik dan turun); dan tubulus kontortus distal (pembuluh yang jauh dari badan malphigi).
Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.
Penyaringan (filtrasi). Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya
Penyerapan kembali (reabsorbsi). Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.
Augmentasi merupakan proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan urin ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal, meliputi: Hormon Antidiuretik (ADH). Hormon ini mempengaruhi kesetimbangan air dalam darah, ia mengatur reabsorpsi air pada tubulus kontortus distal; Hormon Insulin. Hormon ini mempengaruhi kadar glukosa dalam darah, ia mengatur reabsorpsi glukosa jika kadar insulin rendah maka gula darah akan meningkat.
Faktor eksternal, meliputi: jumlah air yang diminum, banyak minum menyebabkan konsentrasi air dalam darah >, konsentrasi protein < ADH < filtrasi berkurang < penyerapan air < sehingga urine yang dihasilkan meningkat dan encer.
Pada sistem ekskresi manusia juga sering terjadi kelainan dan beberapa penyakit yang diakibatkan oleh pola makan atau serangan terhadap bibit penyakit yang masuk kedalah tubuh. Beberapa kelainan dan penyakit pada sistem ekskresi manusia yaitu: Albuminuria. Tandanya urine banyak mengandung albumin, penyebabnya kekurangan protein, akibatnya tubuh kekurangan albumin yang menjaga agar cairan tidak keluar dari darah. Hematuria. Tandanya urine mengandung darah, penyebabnya peradangan ginjal, batu ginjal dan kanker kandung kemih. Nefrolitiasis (batu ginjal). Tandanya urine sulit keluar karena tersumbat batu pada ginjal, saluran ginjal atau kandung kemih. Penyebabnya konsentrasi unsur-unsur kalsium terlalu tinggi dan dipercepat dengan infeksi dan penyumbatan saluran ureter. Akibatnya sulit mengeluarkan urine, urine bercampur darah. Nefritis. Tandanya radang ginjal bagian nefron yang diawali peradangan glomerulus. Gagal ginjal. Tandanya yaitu meningkatnya kadar urea dalam darah, penyebabnya nefritis (radang ginjal), akibatnya zat-zat yang seharusnya dibuang oleh ginjal tertumpuk dalam darah, pengobatannya cuci darah secara rutin atau cangkok ginjal. Diabetes Melitus. Tandanya kadar glukosa darah melebihi normal, penyebabnya kekurangan hormon insulin, akibatnya luka sulit sembuh, pengobatannya pada anak-anak diberi insulin secara rutin dan pada dewasa dilakukan diet rutin, olahraga dan pemberian obat penurun kadar glukosa darah. Hepatitis. Tandanya perubahan warna kulit dan putih mata menjadi kuning, urine menjadi kecoklatan seperti air teh. Penyebabnya virus. Akibatnya hati meradang dan kerja hati terganggu. Pencegahannya yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung atau penggunaan barang bersama-sama dengan penderita hepatitis, gunakan jarum suntik untuk sekali pakai. Kencing Batu. Tandanya sulit buang kecil, penyebabnya yaitu terjadi pengendapan zat kapur dalam ginjal.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sistem ekskresi merupakan proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Hasil sistem ekskresi dapat berupa zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu; zat padat yaitu berupa feces; gas berupa CO2; uap air berupa H2O.
2. Organ-organ sistem ekskresi meliputi; kulit, paru-paru, hati, dan ginjal.
3. Hasil dari sistem ekskresi, yaitu; kulit berupa keringat, paru-paru berupa CO2 dan H2O, hati berupa cairan empedu, dan ginjal berupa urin.
4. Ginjal merupakan organ ekskresi karena ginjal mengeluarkan zat sisa yang berupa urine yang terdiri dari sebagian air, urea, garam-garam dan mineral serta zat sisa lain yang berupa racun. Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.
B. Saran
Semangatttttttttttttttttt Biologi 07
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid-3. Erlangga. Jakarta.
Pearce. E., 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Setiadi, 2007. Anatomi & Fisiologi Manusia. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sujana. A., 2007. Kamus Lengkap Biologi. Mega Aksara. Jakarta.
Suripto, 1992. Struktur Hewan. ITB. Bandung.
Syaifuddin, 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem ekskresi merupakan hal pokok dalam homeostatis atau kondisi yang mantap dalam tubuh karena sistem tersebut membuang limbah metabolisme dan merespon ketidakseimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu sesuai kebutuhan. Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit.Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari: paru-paru, hati, kulit, dan ginjal.
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan KARBONDIOKSIDA (CO2) dan UAP AIR (H2O). Hati merupakan “kelenjar” terbesar yang terdapat dalam tubuh manusia. Hati merupakan organ yang sangat penting, berfungsi untuk menghasilkan empedu yang berasal dari perombakan sel darah merah, menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan membunuh bibit penyakit dan lain sebagainya. Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang utama karena berada di lapisan anggota tubuh yang paling luar dan berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar. Fungsi kulit antara lain sebagai berikut: mengeluarkan keringat, pelindung tubuh, menyimpan kelebihan lemak, mengatur suhu tubuh, dan tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet. Ginjal bentuknya seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang. Fungsi ginjal yaitu : menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh, mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan, reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal, menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia, dan menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang.
Dengan demikian, untuk memehami lebih mendalam tentang sistem ekskresi yang terjadi didalam tubuh menusia maka dilakukanlah praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui nama anatomi dari sistem urinaria.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi struktur urinaria dan menghubungkan fungsinya yang berbeda.
3. Mahasiswa dapat mendefinisikan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang terlibat dalam frekuensi filtrasi glomerulus (GFR).
4. Mahasiswa dapat mendefinisikan diuresis dan menjelaskan cara kerjanya.
5. Mahasiswa dapat menjelaskan peran ADH dan aldoosteron dalam penyerapan tubus renalis.
6. Mahasiswa dapat mengidentifikasi proses aktif dan fasif yang terjadi selama reabsorbsi tubular.
7. Mahasiswa dapat menjelaskan gagal ginjal mengganggu homeostatis tubuh.
8. Mahasiswa dapat mendefinisikan nefritis, glomerulonefritis, pielonefritis, dan uretritis.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem ekskresi beserta komponen-komponennya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem ekskresi merupakan hal pokok dalam homeostatis atau kondisi yang mantap dalam tubuh karena sistem tersebut membuang limbah metabolisme dan merespon ketidakseimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu sesuai kebutuhan. Pada mamalia, ginjal adalah sepasang organ berbentuk biji kacang merah (sekitar 10 cm panjangnya pada manusia). Ginjal mamalia memiliki dua daerah yang berbeda, yaitu korteks renal di bagian luar dan medula renal di bagian dalam. Nefron, yang merupakan unit fungsional ginjal vertebrata , terdiri atas sebuah tubula panjang tunggal; dan sebuah bola kapiler yang disebut glomerulus. Ujung buntu tubula itu membentuk pembengkakan mirip piala, yang disebut kapsula Bowman (Boeman’s capsule), yang mengelilingi glomerulus (Campbell, 2004 : 113-117).
Ginjal dibangun oleh tiga komponen dasar, yaitu : glomeruli, tubuli ginjal dan sepasang duktus longitudinal. Glomerulus merupakan anyaman kapiler arteri dimana terjadi penyaringan air, garam-garam (ion-ion) dan substansi lainnya dari darah. Tubulus ginjal berfungsi menampung filtrat glomerulus dan meneruskannya ke duktus longitudinal. Duktus longitudinal tumbuh dari hasil fusi ujung-ujung tubulus ginjal, yang selanjutnya tumbuh kaudal (Suripto, 1992 : 116-117).
Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai Bowman, berfungasi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus, sisa cairan akan diteruskan kepiala ginjal terus berlanjut ke ureter. Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk kedalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah. Ada tiga tahap pembentukan urine:
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena aferen lebih besar dari permukaran eferen maka terjadi penyerapan darah. Sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai Bowman yang terdiri dari glukosa, air, natriu, klorida, sulfat, bikarbonat dll, yang diteruskan ke tubulus ginjal.
b. Proses resbsorpsi
Proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan natrium dan ion bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah. Penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papila renalis.
c. Proses sekresi
Sisa penyerapan urine kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria
(Syaifuddin, 2006 : 239).
Mikturasi adalah proses pembuangan urine. Timbul refleks rasa ingin kencing bila tertimbun urine 200-300 ml dalam vesika urinaria. Kesukaran mikturasi biasanya disebabkan karena :
1. BPH, yaitu pembesaran kelenjar prostat (sering terjadi pada pria diatas 50 tahun).
2. Batu uretra.
3. Striktura uretra, uretra menyempit penuh jaringan parut bekas infeksi
(Setiadi, 2007 : 132-133)
Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh, dan bersambung dengan selaput lendir yang melapisi organ-organ dan lubang-lubang masuk. Kulit mempunyai banyak fungsi; di dalamnya terdapat ujung saraf peraba, membantu mengatur suhu dan mengendalikan hilangnya air dari tubuh dan mempunyai sedikit kemampuan exkretori, sekretori dan absorpsi. Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, diseblah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal, dibelakang peritoneum, dan karena itu diluar rongga peritonium. Kedudukan ginjal dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian vertebrata vertebra torakalis terakhir sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki ruang banyak di seblah kanan. Setiap ginjal panjangnya 6 sampai 7 ½ sentimeter, dan tebal 1 ½ sampai 2 ½ sentimeter. Pada orang dewasa beratnya kira-kira 140 gram. Bentuk ginjal seperti biji kacang dan sisi dalamnya atau hilum menghadap ke tulang punggung. Sisi luarnya cembung. Pembuluh-pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Di atas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar suprarenal. Ginjal kanan lebih pendek dan lebih tebal dari yang kiri (Pearce, 2004 : 239-245).
Ginjal (ren) atau buah pinggang; yaitu pembuangan ampas metabolisme protein, terutama berupa urea, sedikit asam urat atau amoniak. Hati (lever), hepar; yaitu organ pencernaan dan metabolisme yang terdiri dari belahan (lobi, jamak lobus). Kulit (cutis), organ yang berfungsi melindungi tubuh dari gangguan luar: biologis (kuman, serangga), kimia dan fisik. Paru (pulmo); alat pernafasan pada hewan darat. Dibina atas satuan alat pernafasan: alveoli. Saluran nafas sejak dari luar sampai ke alveoli: trachea, bronchus, bronchiolus, dan kantung alvoelus. Paru berada dalam kantung pleura. Pada dipnoi paru berupa kantung sederhana yang dibina atas sel-sel epitel gepeng, yang sedikit berlekuk ke dalam (Sujana, 2007 : 333-500).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Morfologi Ginjal
Keterangan:
1. Arteri dari vena renalis
2. Ureter
2. Anatomi Ginjal
Keterangan:
1. Arteri dari vena renalis
2. Pelvis
3. Ureter
4. Papilla
5. Kaliks
6. Kolumna renalis
7. Medulla
8. Piramid
9. Korteks
3. Sistem Urinaria
Keterangan:
1. Vena kava inferior
2. Kelenjar adrenal
3. Aorta
4. Ginjal
5. Arteri dan vena renalis kanan
6. Arteri dan vena renalis kiri
7. Ureter
8. Kandung Kemih
9. Uretra
4. Vesika Urinaria
Keterangan:
1. Ureter
2. Uretra
3. Otot polos
4. Kelenjar prostat
5. Kelenjar bulbiretral
6. Orifisium uretra
7. Ujung potongan peritoneum
5. Penampang Anatomi Nefron
Keterangan:
1. Arteriola aferen
2. Badan Malphigi
3. Kapsul Bowman
4. Glomerulus
5. Tubulus Proksimal
6. Diagram Pengeluaran Urin
Keterangan:
1. Arteriola aferen
2. Badan Malphigi
3. Kapsul Bowman
4. Glomerulus
5. Tubulus Proksimal
6. Tubulus kontorti turun
7. Lengkung Henle
8. Tubulus kontorti naik
9. Tubulus distal
10. Tubulus kolekta
7. Penampang Kulit
Keterangan:
1. Pori keringat 11. Jaringan adiposa
2. Batang rambut 12. Hipodermis
3. Otot erektor 13. Lapisan retikular
4. Kelenjar sabasea 14. Dermis
5. Saraf 15. Lapisan papilar
6. Akar rambut 16. Epidermis
7. Folikel rambut
8. Arteri
9. Kelenjar keringat
10. Serabut saraf sensoris
8. Struktur Hati
Keterangan:
1. Vena kava inferior
2. Lobus kanan
3. Kandung empedu
4. Ligamentum falsiformis
5. Lobus kiri
B. Pembahasan
Pada prinsipnya, pada tubuh manusia terdapat proses metabolisme, yang meliputi pencernaan, peredaran darah dan pernapasan. Dari proses-proses tersebut akan menghasilkan energi dan zat sisa (sampah metabolisme). Zat sisa atau sampah metabolisme lebih sering disebut ekskresi. Sistem ekskresi merupakan proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Hasil sistem ekskresi dapat dibedakan menjadi: zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu; zat padat yaitu berupa feces; gas berupa CO2; uap air berupa H2O.
Sistem ekskresi berperan untuk mengeluarkan zat-zat sisa yang sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh manusia. Dengan kata lain, jika zat-zat sisa metabolisme tidak dikeluarkan, akan meracuni tubuh manusia. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari; kulit, paru-paru, hati, dan ginjal.
Kulit, merupakan lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar yang menutupi dan melindungi permukaan tubuh. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa. Kulit ini berfungsi; sebagai alat pengeluaran cairan keringat, sebagai alat pengatur suhu tubuh, sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, sebagai alat indera peraba, sebagai alat pelindung untuk mengurangi hilangnya air dari dalam tubuh, sebagai pelindung tubuh dari gesekan, penyinaran sinar matahari/UV, zat-zat kimia dan lain sebagainya. Kulit dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: Epidermis/Kulit Ari. Epidermis tersusun atas epitelium berlapis dan terdiri atas sejumlah lapisan sel yang tersusun atas beberapa lapisan kulit pada penampang lintang kulit atau struktur anatomi kulit akan memperlihatkan pewarnaan yang berbeda satu dengan yang lain. Lapisan tersebut adalah: lapisan korneum merupakan lapisan yang terdiri dari sel-sel yang yang telah mati dan sifatnya mudah mengelupas. Lapisan ini selnya kaya akan sel tanduk; lapisan lusidum merupakan lapisan yang melindungi hilangnya air dari tubuh dan mencegah masuknya zat/benda asing dalam kulit, lapisan ini banyak mengandung zat lemak; lapisan granulosum merupakan lapisan yang memberikan kekuatan dan kelenturan kulit, lapisan ini banyak mengadung pigmen kulit yaitu melanin; lapisan spinosum/akantosum merupakan lapisan yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan. Sel-selnya disebut spinosum karena sel-selnya terdiri dari sel yang bentuknya poligonal (banyak sudut) dan mempunyai tanduk (spina). Disebut akantosum karena sel-selnya berduri. Ternyata spina atau tanduk tersebut adalah hubungan antara sel yang lain yang disebut intercelular bridges atau jembatan interselular; lapisan germinativum/basal merupakan lapisan yang selalu dapat menghasilkan sel-sel kulit yang baru yang berguna untuk menggantikan sel-sel kulit yang telah mati.
Dermis/kulit jangat, merupakan lapisan kedua dari kulit. Batas dengan epidermis dilapisi oleh membran basalis dan diseblah bawah berbatasan dengan subkutis tetapi batas ini tidak jelas hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel lemak. Dermis tersusun dari; glandula sudorifera/kelenjar keringat, glandula sebaceae/kelenjar minyak, akar rambut, pembuluh darah, sel-sel saraf, dan reseptor indera peraba.
Jaringan Lemak merupakan lapisan yang terdapat di paling bawah/dasar dari lapisan dermis. Jaringan ini berguna untuk melindungi tubuh dan pengaruh perubahan suhu dari luar tubuh. Kelenjar keringat adalah alat utama untuk mengendalikan suhu tubuh, berkurang pada waktu iklim dingin dan meningkat pada waktu suhu panas. Sekresi aktif dari kelenjar keringat, di bawah pengendalian saraf simpatis. Cairan keringat banyak mengandung air (mendominasi); garam mineral/NaCl (NatriumChlorida), juga mendominasi cairan bersamaan dengan air; urea (sebagian kecil). Setiap hari manusia menghasilkan ± 225 ml dari 2 juta kelenjar keringat yang tersebar pada lapisan dermis.
Paru-paru selain termasuk dalam sistem respirasi, paru-paru juga termasuk dalam sistem ekskresi. Karena setelah kita menghirup oksigen, terjadi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida di paru-paru, tepatnya di alveolus. Jadi, paru-paru merupakan organ ekskresi karena mengeluarkan karbon dioksida. Paru-paru terletak di rongga dada dan teridiri dari 2 bagian yaitu bagian dexter yang memiliki 3 lobi dan bagian sinister yang memilki 2 lobi. Memiliki selaput tipis yang disebut pleura. Menghasilkan CO2 dalam bentuk gas dan H2O dalam bentuk uap air sebagai hasil dari ekskresi.
Hati atau hepar adalah orhan yang paling besar dalam tubuh kita, warnanya coklat, dan beratnya ± 1 ½ kg. Letaknya, bagian atas dalam rongga abdomen di sebelah kanan bawah diafragma. Fungsi hepar yaitu: sebagai penyimpan gula dalam bentuk glikogen; sebagai tempat penetralan zat racun dan membunuh kuman/detoksifikasi; sebagai tempat perombakan sel darah merah; sebagai tempat perombakan protein tertentu dan pembentukkannya, seperti mengubah amonia menjadi ureum; sebagai tempat perubahan provitamina menajdi vitamin A; sebagai tempat penghasil cairan empedu (bilirubin dan biliverdin).
Ginjal merupakan organ ekskresi, karena ginjal mengeluarkan zat sisa yang berupa urine, yang terdiri dari sebagian air, urea, garam-garam dan mineral dan zat sisa lain yang berupa racun. Di dalam tubuh manusia, terdapat sepasang ginjal yang terletak di rongga perut bagian belakang. Ginjal manusia tersusun atas 3 bagian, yaitu kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan rongga ginjal (pelvis).
Kulit Ginjal (Korteks). Bagian ini adalah bagian yang paling luar. Pada bagian ini terdapat berjuta-juta sel nefron yang berfungsi sebagai filtrasi/penyaringan darah. Nefron terdiri atas badan Malpighi, yang tersusun oleh glomerulus dan kapsul Bowman.
Sumsum Ginjal (Medula). Medula atau sumsum ginjal tersusun atas beberapa badan yang berbentuk piramida. Pada bagian ini terdapat ribuan pembuluh halus yang merupakan kelanjutan kapsul Bowman. Sumsum ginjal merupakan bagian tengah ginjal, dan tempat yang dilalui oleh urine sekunder.
Rongga Ginjal (Pelvis). Bagian ini adalah bagian yang paling dalam. Urine hasil penyaringan dari glomerulus akan menetes ke pelvis sebagai tempat menampung sementara urine sekunder. Setelah proses ini, urine meninggalkan rongga ginjal menuju ke kandung kemih.
Ginjal memiliki beberapa fungsi yaitu: menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh; mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan; reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal; menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia; menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang, dan lain sebagainya.
Nefron terdiri dari: badan malphigi yaitu gabungan dari glomerulus (kumpulan kapiler darah) dan Kapsul Bowman; tubulus kontortus proksimal (pembuluh yang dekat badan malphigi); Lengkung Henle ( terdiri dari saluran naik dan turun); dan tubulus kontortus distal (pembuluh yang jauh dari badan malphigi).
Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.
Penyaringan (filtrasi). Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya
Penyerapan kembali (reabsorbsi). Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.
Augmentasi merupakan proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan urin ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal, meliputi: Hormon Antidiuretik (ADH). Hormon ini mempengaruhi kesetimbangan air dalam darah, ia mengatur reabsorpsi air pada tubulus kontortus distal; Hormon Insulin. Hormon ini mempengaruhi kadar glukosa dalam darah, ia mengatur reabsorpsi glukosa jika kadar insulin rendah maka gula darah akan meningkat.
Faktor eksternal, meliputi: jumlah air yang diminum, banyak minum menyebabkan konsentrasi air dalam darah >, konsentrasi protein < ADH < filtrasi berkurang < penyerapan air < sehingga urine yang dihasilkan meningkat dan encer.
Pada sistem ekskresi manusia juga sering terjadi kelainan dan beberapa penyakit yang diakibatkan oleh pola makan atau serangan terhadap bibit penyakit yang masuk kedalah tubuh. Beberapa kelainan dan penyakit pada sistem ekskresi manusia yaitu: Albuminuria. Tandanya urine banyak mengandung albumin, penyebabnya kekurangan protein, akibatnya tubuh kekurangan albumin yang menjaga agar cairan tidak keluar dari darah. Hematuria. Tandanya urine mengandung darah, penyebabnya peradangan ginjal, batu ginjal dan kanker kandung kemih. Nefrolitiasis (batu ginjal). Tandanya urine sulit keluar karena tersumbat batu pada ginjal, saluran ginjal atau kandung kemih. Penyebabnya konsentrasi unsur-unsur kalsium terlalu tinggi dan dipercepat dengan infeksi dan penyumbatan saluran ureter. Akibatnya sulit mengeluarkan urine, urine bercampur darah. Nefritis. Tandanya radang ginjal bagian nefron yang diawali peradangan glomerulus. Gagal ginjal. Tandanya yaitu meningkatnya kadar urea dalam darah, penyebabnya nefritis (radang ginjal), akibatnya zat-zat yang seharusnya dibuang oleh ginjal tertumpuk dalam darah, pengobatannya cuci darah secara rutin atau cangkok ginjal. Diabetes Melitus. Tandanya kadar glukosa darah melebihi normal, penyebabnya kekurangan hormon insulin, akibatnya luka sulit sembuh, pengobatannya pada anak-anak diberi insulin secara rutin dan pada dewasa dilakukan diet rutin, olahraga dan pemberian obat penurun kadar glukosa darah. Hepatitis. Tandanya perubahan warna kulit dan putih mata menjadi kuning, urine menjadi kecoklatan seperti air teh. Penyebabnya virus. Akibatnya hati meradang dan kerja hati terganggu. Pencegahannya yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung atau penggunaan barang bersama-sama dengan penderita hepatitis, gunakan jarum suntik untuk sekali pakai. Kencing Batu. Tandanya sulit buang kecil, penyebabnya yaitu terjadi pengendapan zat kapur dalam ginjal.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sistem ekskresi merupakan proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Hasil sistem ekskresi dapat berupa zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu; zat padat yaitu berupa feces; gas berupa CO2; uap air berupa H2O.
2. Organ-organ sistem ekskresi meliputi; kulit, paru-paru, hati, dan ginjal.
3. Hasil dari sistem ekskresi, yaitu; kulit berupa keringat, paru-paru berupa CO2 dan H2O, hati berupa cairan empedu, dan ginjal berupa urin.
4. Ginjal merupakan organ ekskresi karena ginjal mengeluarkan zat sisa yang berupa urine yang terdiri dari sebagian air, urea, garam-garam dan mineral serta zat sisa lain yang berupa racun. Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.
B. Saran
Semangatttttttttttttttttt Biologi 07
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid-3. Erlangga. Jakarta.
Pearce. E., 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Setiadi, 2007. Anatomi & Fisiologi Manusia. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sujana. A., 2007. Kamus Lengkap Biologi. Mega Aksara. Jakarta.
Suripto, 1992. Struktur Hewan. ITB. Bandung.
Syaifuddin, 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta.
LAPORAN ANFISMAN (SISTEM ARTIKULASI)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem muskuloskeletal pada manusia terdiri dari tulang, otot dan persendian (dibantu oleh tendon, ligamen dan tulang rawan). Sistem ini memungkinkan kita untuk duduk, berdiri, berjalan atau melakukan kegiatan lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai penunjang dan pembentuk tubuh, tulang juga berfungsi sebagai pelindung organ dalam. Tempat pertemuan 2 tulang disebut dengan persendian, yang mana berperan dalam mempertahankan kelenturan kerangka tubuh. Tanpa persendian, kita tidak mungkin bisa melakukan berbagai gerakan.
Sendi merupakan hubungan antartulang sehingga tulang dapat digerakkan. Hubungan atau persambungan antara dua tulang/lebih disebut persendian (sistem artikulasi). Berdasarkan jangkauan gerakan yang dimiliki, persendian dibedakan menjadi 3 macam, yaitu: persendian fibrosa (sinartrosis), yaitu persendian yang tidak dapat digerakkan, dimana letak tulang-tulangnya sangat berdekatan dan hanya dipisahkan oleh selapis jaringan ikat fibrosa, contohnya sutura di antara tulang-tulang tengkorak; persendian amfiartrosis, yaitu persendian yang gerakannya terbatas, dimana tulang-tulangnya dihubungkan oleh tulang rawan hialin, contohnya tulang iga; persendian sinovial (diartrosis), yaitu persendian yang gerakannya bebas, merupakan bagian terbesar dari persendian pada tubuh orang dewasa, contohnya sendi bahu dan panggul, sikut dan lutut, sendi pada tulang-tulang jari tangan dan kaki, pergelangan tangan dan kaki.
Berdasarkan uraian di atas, untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem artikulasi beserta komponen-komponennya, maka perlu diadakan praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan persendian yang terdapat pada tubuh.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan feature dari sendi sinovial.
3. Mahasiswa dapat menyebutkan tipe dari sendi sinovial dan memberikan masing-masing contohnya.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan gerakan pada persendian sinovial dan memberikan contohnya.
5. Mahasiswa dapat mendefinisikan artritis dan menjelaskan tipe-tipe yang berbeda.
6. Mahasiswa dapat mendefinisikan bursitis dan hubungannya, secara anatomi, fungsinya pada persendian.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui persendian apa saja yang terdapat dalam tubuh.
2. Kita dapat mengetahui pengelompokan persendian, tipe-tipenya, serta contohnya masing-masing.
3. Kita dapat mengetahui tentang artritis dan bursitis.
4. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Persambungan tulang atau sendi (artikulasi) adalah pertemuan dua buah tulang atau beberapa tulang kerangka. Artrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang persendian. Umumnya rangka tulang terbentuk dari tingkat pendahuluan dari jaringan rawan ada juga sebagai pengganti jaringan rawan, pada keadaan tertentu tingkat pendahuluan tulang rawan diganti dengan tulang pengganti (tulang keras) dan jaringan ikat sebagai jaringan penutup. Sendi adalah tempat dua tulang atau lebih saling berhubungan baik terjadi pergerakan atau tidak. Dalam perkembangan jaringan ikat diganti oleh jaringan rawan (Syaifuddin, 2006: 70).
Persambungan, sendi atau artikulasio adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari kerangka. Terdapat tiga jenis utama: sendi yang fibrus, sendi tulang rawan dan sendi sinovial. Terdapat enam jenis sendi sinovial, yaitu sendi datar atau sendi geser, sendi putar, sendi engsel, sendi kondiloid, sendi berporos atau sendi putar, sendi pelana. Gerak-gerik yang terjadi pada sendi-sendi kerangka dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu gerak meluncur, gerakan bersudut (anguler), dan gerakan rotasi (Pearce, 2004: 89).
Artikulasi atau persendian dapat dibagi menjadi tiga kelas yaitu: sinartrosis (persendian yang tidak dapat digerakkan); amfiartrosis (persendian yang dapat digerakkan sedikit); dan diartrosis (persendian yang mudah digerakkan) (Tim Pengajar MK. Anatomi dan Fisiologi Manusia, 2010: 7).
Klasifikasi sendi secara struktural terbagi menjadi persendian fibrosa, yaitu persendian yang tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan jaringan ikat fibrosa. Persendian kartilago yaitu persendian yang memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan kapsul dan ligamen artikulasi yang membungkusnya (Setiadi, 2007: 299).
Tulang-tulang di dalam tubuh kit, yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Hubungan sendi diartrosis yaitu hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya gerakan antar kedua tulang yang dihubungkan tersebut. Umumnya kedua permukaan ujung tulang itu mempunyai bentuk yang memudahkan timbulnya jenis-jenis gerakan tertentu. Bentuk khusus inilah yang disebut sendi. Ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antar tulang atau persendian dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu: sendi mati, sendi kaku dan sendi gerak (Irianto, 2004: 70).
Ada berbagai macam tipe persendian: sinartrosis, diartrosis, dan amfiartrosis. Sinartrtosis adalah persendian yang tidak memperbolehkan pergerakan. Dapat dibedakan menjadi dua: sinartrosis sinfibrosis, sinartrosis yang tulangnya dihubungkan jaringan ikat fibrosa, contohnya: persendian tulang tengkorak; sinartrosis sinkondrosis: sinartrosis yang dihubungkan oleh tulang rawan. Contoh: hubungan antarsegmen pada tulang belakang. Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Amfiartosis merupakan persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan (http://id.wikipedia.org/wiki/Sendi).
Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Dapat dikelempokkan menjadi: sendi peluru: persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah, contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat. Sendi pelana: persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah, contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan. Sendi putar: persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi), contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas). Sendi luncur: persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar, contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki. Sendi engsel: persendian yang memungkinkan gerakan satu arah, contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/sistem-articulation-3/).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 11 Mei 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah torso persendian.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Macam-Macam Persendian
a. Sinartrosis
b. Amfiartrosis
c. Diartrosis
2. Tipe-Tipe Persendian
a. Sendi engsel
Keterangan:
1. Troklearis
2. Humerus
3. Ulna
b. Sendi berporos
Keterangan:
1. Apeks dentis
2. Atlas
3. Aksis
c. Sendi pelana
Keterangan:
1. Navikular lunatum
2. Radius
3. Ulna
d. Sendi kondiloid
Keterangan:
1. Trapezium
2. Metakarpal
e. Sendi putar (peluru)
Keterangan:
1. Kaput femoralis
2. Asetabulum
3. Gerakan Otot pada Setiap Persendian
a. Abduksi-Adduksi
b. Sirkumduksi
c. Eversi-Inversi
d. Fleksi Ekstensi
e. Rotasi
f. Protraksi-Retraksi
g. Supinasi-Pronasi
4. Struktur Sendi Sejati
Keterangan:
1. Artikulasi
2. Persendian
3. Femur
4. Patela
5. Tibia
6. Fibula
7. Sinovial
8. Ligamentum
B. Pembahasan
Sistem artikulasi (persendian) merupakan persambungan atau pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari kerangka. Persendian dibagi menjadi 3 kelas yaitu; sinartrosis (persendian yang tidak dapat digerakkan), amfiartrosis (persendian yang dapat digerakkan sedikit), dan diartrosis (persendian yang mudah digerakkan). Sinartrosis (sendi fibrus) adalah sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat ikat (tidak mungkin terjadi gerakan antara tulang-tulangnya), contoh: sutura atau sela antara tulang pipih tengkorak yang menyatukan tulang frontal, tulang parietal, tulang temporal, dan tulang etmoidal. Amfiartrosis (sendi tulang rawan) adalah sendi dengan gerakan sedikit, yang permukaan persendiannya dipisahkan oleh bahan-antara dan hanya mungkin sedikit gerakan, contoh: simfisis pubis, dimana sebuah bantalan tulang rawan mempersatukan kedua tulang pubis, sendi antara manubrium dan badan sternum. Diartrosis (sendi sinovial) adalah persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya dan semua mempunyai ciri yang sama. Ciri-ciri sendi yang bergerak bebas adalah: ujung tulang masuk dalam formasi persendian, ditutup oleh tulang rawan hialin, ligamen untuk mengikat tulang-tulangnya bersama, dan sebuah rongga persendian terbungkus oleh sebuah kapsul dari jaringan fibrus dan diperkuat oleh ligamen.
Sendi sinovial (diartrosis) ini terdiri dari beberapa macam, yaitu: sendi putar, bongkol sendi tepat masuk dalam mangkok sendi yang dapat memberikan seluruh arah, misalnya sendi panggul dan sendi peluru yang terdapat di bahu; sendi engsel, satu permukaan bundar diterima oleh yang lain, sedemikian rupa sehingga gerakan hanya dalam satu bidang dan dua arah, misalnya sendi siku dan sendi lutut; sendi kondiloid, seperti sendi engsel tetapi dapat bergerak dalam dua bidang dan empat arah, lateral, ke depan dan ke belakang. Fleksi, ekstensi, abduksi-adduksi, contohnya sendi pergelangan tangan; sendi berporos, pergerakannya memutar seperti pergerakan kepala sendi. Atlas berbentuk cincin berputar di sekitar prosesus odontoid. Contohnya, gerakan radius di sekitar ulna pronasi dan supinasi; sendi pelana (sendi timbal balik), misalnya sendi rahang dan tulang metakarpal pertama (pergelangan tangan) yang dapat memberikan banyak kebebasan untuk bergerak, misalnya ibu jari dapat berhadapan dengan jari lainnya.
Gerak-gerik yang biasa terjadi pada sendi kerangka dikelompokkan ke dalam 3 kelas, yaitu: gerakan meluncur, dimana dua permukaan ceper bergerak bergeseran satu sama lainnya, seperti dalam gerakan antara tulang-tulang karpal dan tarsal; gerakan bersudut (anguler), yang diterangkan sesuai dengan arah dari gerakan, misalnya fleksi, lenturan atau pelipatan, ekstensi (pelurusan atau penguluran), yang terjadi di sekitar sebuah sumbu yang terpasang melintang. Adduksi merupakan gerakan ke arah medial badan, dan abduksi merupakan gerakan ke arah menjauhi medial badan, keduanya memutari sumbu yang memanjang dalam arah anteroposterior (dari depan ke belakang); gerakan rotasi, satu tulang bergerak mengitari tulang lain atau di dalam tulang lain seperti pada sendi putar, misalnya rotasi radius mengelilingi ulna.
Sendi anggota gerak atas. Sendi ini terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya sendi bahu atau humero skapuler dimana sendi ini merupakan sendi sinovial dari variasisendi putar. Kepala humerus yang berbentuk seperti bola, bersendi di dalam rongga glenoid skapula. Tulang-tulangnya dipersatukan oleh ligamen yang membentuk kapsul yang sangat longgar.
Sendi radio ulnaris. Antara radius dan ulna terdapat dua buah sendi yang dapat bergerak, yaitu sendi radio-ulnaris superior dan inferior. Membran interosa (antartulang) membentuk sendi ketiga yaitu sendi radio-ulnaris. Membran ini juga memisahkan otot-otot yang ada di depan dari yang ada di belakang lengan bawah.
Sendi pergelangan tangan atau sendi radio karpal adalah sendi kondiloid antara ujung bawah radius dan diskus persendian di bawah kepala ulna, yang bersama-sama membentuk permukaan konkaf untuk menerima sisi atas dari skafoid (navikular, lunar, dan tulang-tulang dari trikwetrun.
Sendi dari tangan dan jari. Sendi ini terdiri dari sendi karpal, sendi panggul, sendi lutut, dan sendi pergelangan kaki.
Sendi karpal, permukaan persendian antara tulang-tulang karpal adalah ceper dan halus. Permukaan ceper ini dengan mudah saling bergeseran dan membentuk persendian meluncur antara berbagai tulang itu. Tulang karpal tersusun berdempet rapat, sehingga hanya gerakan meluncur terbatas yang mungkin terjadi, tetapi dapat melaksanakan sejumlah gerakan yang cukup banyak, jika semua tulang bergerak secara bersama-sama.
Sendi panggul adalah sendi sinovial dari varietas sendi putar. Kepala femur diterima ke dalam asetabulum tulang koksa. Asetabulum diperdalam oleh kaitan labrum asetabular yang mengelilinginya. Ligamen ini sebenarnya sebuah pinggiran tulang rawan fibrus yang memperdalam dan menambah kemampuan menerima dari permukaan yang dibentuk oleh asetabulum guna menerima kepala dari femur.
Sendi lutut adalah sendi engsel dengan perubahan dan yang dibentuk oleh kedua kondilus femur yang bersendi dengan permukaan superior dari kondilus-kondilus tibia. Patela terletak di atas permukaan patelar yang halus pada femur dan di atas itu patela meluncur sewaktu sendi bergerak. Patela berada di depan bagian-bagian persendian yang utama, tetapi tidak masuk ke dalam formasi sendi lutut.
Sendi pergelangan kaki adalah sendi engsel yang dibentuk antara ujung bawah tibia beserta maleolus medialisnya, dan maleolus lateralis dari fibula yang bersama-sama membentuk sebuah lubang untuk menerima badan halus. Kapsul sendi diperkuat oleh ligamen-ligamen penting yang bersangkutan. Gerakan sendi pergelangan kaki adalah fleksi dan ekstensi atau lebih disebut dorsi fleksi dan plantar fleksi.
Struktur sendi sejati. Struktur ini merupakan struktur dari sendi lutut yang dibentuk oleh kedua kondilus femur yang bersendi dengan permukaan superior dari kondilus-kondilus tibia. Beberapa struktur penting berada di dalam sendi lutut. Tulang rawan semilunaris terletak di atas permukaan persendian yang beruapa dataran tinggi dari tibia guna memperdalamnya untuk menerima kondiler dari femur. Ligamen bersilang berjalan dari puncak kondilus tibia ke arah permukaan kasar di atas takik interkondiloid dari femur. Ligamen-ligamen ini bertujuan membatasi gerakan sendi lutut dan mengikat tulang-tulang bersama dengan lebih kuat.
Ligamen kapsuler sendi lutut sangat tebal dan diperkuat lagi ekspansi (pelebaran) otot-otot dan tendon-tendon yang mengelilingi dan berjalan di atas sendi. Membran senovial sendi lutut adalah terbesar dalam tubuh.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan kemungkinan geraknya, sendi dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu: sendi mati (sinartrosis), sendi kaku (amfiartrosis) dan sendi gerak (diartrosis).
2. Perbedaan feature dari sendi sinovial yaitu tulang-tulangnya ditutupi oleh tulang rawan, ligamen mengikat tulang-tulang bersama, membran sinovial menyelaputi rongga persendian.
3. Tipe dari sendi sinovial yaitu sendi datar, contohnya sendi karpus; sendi putar, contohnya sendi panggul; sendi engsel, contohnya sendi siku; sendi kondiloid, contohnya sendi pada pergelangan tangan; sendi berporos, contohnya radius dan ulna; sendi pelana, contohnya ibi jari.
4. Gerakan pada persendian sinovial yaitu abduksi-adduksi, contohnya otot adduktor di sisi tengah paha; inversi-eversi, contohnya telapak kaki; fleksi-ekstensi, contohnya otot pada skapula; sirkumduksi, contohnya otot-otot lengan; pronasi-supinasi, contohnya radius dan ulna; protraksi-retraksi, contohnya tulang sumbu; dan rotasi, contohnya sendi putar pada gerakan kepala.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan kali ini adalah, agar pada praktikum selanjutnya dapat ditampilkan torso-torso yang bersangkutan, sehingga praktikan dapat lebih mudah mengerti dan memahami tentang Sistem Artikulasi.
DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tim Pengajar MK. Anatomi dan Fisiologi Manusia, 2010. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Universitas Haluoleo. Kendari.
Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sendi
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/sistem-articulation-3/
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem muskuloskeletal pada manusia terdiri dari tulang, otot dan persendian (dibantu oleh tendon, ligamen dan tulang rawan). Sistem ini memungkinkan kita untuk duduk, berdiri, berjalan atau melakukan kegiatan lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai penunjang dan pembentuk tubuh, tulang juga berfungsi sebagai pelindung organ dalam. Tempat pertemuan 2 tulang disebut dengan persendian, yang mana berperan dalam mempertahankan kelenturan kerangka tubuh. Tanpa persendian, kita tidak mungkin bisa melakukan berbagai gerakan.
Sendi merupakan hubungan antartulang sehingga tulang dapat digerakkan. Hubungan atau persambungan antara dua tulang/lebih disebut persendian (sistem artikulasi). Berdasarkan jangkauan gerakan yang dimiliki, persendian dibedakan menjadi 3 macam, yaitu: persendian fibrosa (sinartrosis), yaitu persendian yang tidak dapat digerakkan, dimana letak tulang-tulangnya sangat berdekatan dan hanya dipisahkan oleh selapis jaringan ikat fibrosa, contohnya sutura di antara tulang-tulang tengkorak; persendian amfiartrosis, yaitu persendian yang gerakannya terbatas, dimana tulang-tulangnya dihubungkan oleh tulang rawan hialin, contohnya tulang iga; persendian sinovial (diartrosis), yaitu persendian yang gerakannya bebas, merupakan bagian terbesar dari persendian pada tubuh orang dewasa, contohnya sendi bahu dan panggul, sikut dan lutut, sendi pada tulang-tulang jari tangan dan kaki, pergelangan tangan dan kaki.
Berdasarkan uraian di atas, untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem artikulasi beserta komponen-komponennya, maka perlu diadakan praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan persendian yang terdapat pada tubuh.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan feature dari sendi sinovial.
3. Mahasiswa dapat menyebutkan tipe dari sendi sinovial dan memberikan masing-masing contohnya.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan gerakan pada persendian sinovial dan memberikan contohnya.
5. Mahasiswa dapat mendefinisikan artritis dan menjelaskan tipe-tipe yang berbeda.
6. Mahasiswa dapat mendefinisikan bursitis dan hubungannya, secara anatomi, fungsinya pada persendian.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui persendian apa saja yang terdapat dalam tubuh.
2. Kita dapat mengetahui pengelompokan persendian, tipe-tipenya, serta contohnya masing-masing.
3. Kita dapat mengetahui tentang artritis dan bursitis.
4. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Persambungan tulang atau sendi (artikulasi) adalah pertemuan dua buah tulang atau beberapa tulang kerangka. Artrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang persendian. Umumnya rangka tulang terbentuk dari tingkat pendahuluan dari jaringan rawan ada juga sebagai pengganti jaringan rawan, pada keadaan tertentu tingkat pendahuluan tulang rawan diganti dengan tulang pengganti (tulang keras) dan jaringan ikat sebagai jaringan penutup. Sendi adalah tempat dua tulang atau lebih saling berhubungan baik terjadi pergerakan atau tidak. Dalam perkembangan jaringan ikat diganti oleh jaringan rawan (Syaifuddin, 2006: 70).
Persambungan, sendi atau artikulasio adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari kerangka. Terdapat tiga jenis utama: sendi yang fibrus, sendi tulang rawan dan sendi sinovial. Terdapat enam jenis sendi sinovial, yaitu sendi datar atau sendi geser, sendi putar, sendi engsel, sendi kondiloid, sendi berporos atau sendi putar, sendi pelana. Gerak-gerik yang terjadi pada sendi-sendi kerangka dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu gerak meluncur, gerakan bersudut (anguler), dan gerakan rotasi (Pearce, 2004: 89).
Artikulasi atau persendian dapat dibagi menjadi tiga kelas yaitu: sinartrosis (persendian yang tidak dapat digerakkan); amfiartrosis (persendian yang dapat digerakkan sedikit); dan diartrosis (persendian yang mudah digerakkan) (Tim Pengajar MK. Anatomi dan Fisiologi Manusia, 2010: 7).
Klasifikasi sendi secara struktural terbagi menjadi persendian fibrosa, yaitu persendian yang tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan jaringan ikat fibrosa. Persendian kartilago yaitu persendian yang memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan kapsul dan ligamen artikulasi yang membungkusnya (Setiadi, 2007: 299).
Tulang-tulang di dalam tubuh kit, yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Hubungan sendi diartrosis yaitu hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya gerakan antar kedua tulang yang dihubungkan tersebut. Umumnya kedua permukaan ujung tulang itu mempunyai bentuk yang memudahkan timbulnya jenis-jenis gerakan tertentu. Bentuk khusus inilah yang disebut sendi. Ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antar tulang atau persendian dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu: sendi mati, sendi kaku dan sendi gerak (Irianto, 2004: 70).
Ada berbagai macam tipe persendian: sinartrosis, diartrosis, dan amfiartrosis. Sinartrtosis adalah persendian yang tidak memperbolehkan pergerakan. Dapat dibedakan menjadi dua: sinartrosis sinfibrosis, sinartrosis yang tulangnya dihubungkan jaringan ikat fibrosa, contohnya: persendian tulang tengkorak; sinartrosis sinkondrosis: sinartrosis yang dihubungkan oleh tulang rawan. Contoh: hubungan antarsegmen pada tulang belakang. Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Amfiartosis merupakan persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan (http://id.wikipedia.org/wiki/Sendi).
Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Dapat dikelempokkan menjadi: sendi peluru: persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah, contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat. Sendi pelana: persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah, contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan. Sendi putar: persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi), contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas). Sendi luncur: persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar, contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki. Sendi engsel: persendian yang memungkinkan gerakan satu arah, contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/sistem-articulation-3/).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 11 Mei 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah torso persendian.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Macam-Macam Persendian
a. Sinartrosis
b. Amfiartrosis
c. Diartrosis
2. Tipe-Tipe Persendian
a. Sendi engsel
Keterangan:
1. Troklearis
2. Humerus
3. Ulna
b. Sendi berporos
Keterangan:
1. Apeks dentis
2. Atlas
3. Aksis
c. Sendi pelana
Keterangan:
1. Navikular lunatum
2. Radius
3. Ulna
d. Sendi kondiloid
Keterangan:
1. Trapezium
2. Metakarpal
e. Sendi putar (peluru)
Keterangan:
1. Kaput femoralis
2. Asetabulum
3. Gerakan Otot pada Setiap Persendian
a. Abduksi-Adduksi
b. Sirkumduksi
c. Eversi-Inversi
d. Fleksi Ekstensi
e. Rotasi
f. Protraksi-Retraksi
g. Supinasi-Pronasi
4. Struktur Sendi Sejati
Keterangan:
1. Artikulasi
2. Persendian
3. Femur
4. Patela
5. Tibia
6. Fibula
7. Sinovial
8. Ligamentum
B. Pembahasan
Sistem artikulasi (persendian) merupakan persambungan atau pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari kerangka. Persendian dibagi menjadi 3 kelas yaitu; sinartrosis (persendian yang tidak dapat digerakkan), amfiartrosis (persendian yang dapat digerakkan sedikit), dan diartrosis (persendian yang mudah digerakkan). Sinartrosis (sendi fibrus) adalah sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat ikat (tidak mungkin terjadi gerakan antara tulang-tulangnya), contoh: sutura atau sela antara tulang pipih tengkorak yang menyatukan tulang frontal, tulang parietal, tulang temporal, dan tulang etmoidal. Amfiartrosis (sendi tulang rawan) adalah sendi dengan gerakan sedikit, yang permukaan persendiannya dipisahkan oleh bahan-antara dan hanya mungkin sedikit gerakan, contoh: simfisis pubis, dimana sebuah bantalan tulang rawan mempersatukan kedua tulang pubis, sendi antara manubrium dan badan sternum. Diartrosis (sendi sinovial) adalah persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya dan semua mempunyai ciri yang sama. Ciri-ciri sendi yang bergerak bebas adalah: ujung tulang masuk dalam formasi persendian, ditutup oleh tulang rawan hialin, ligamen untuk mengikat tulang-tulangnya bersama, dan sebuah rongga persendian terbungkus oleh sebuah kapsul dari jaringan fibrus dan diperkuat oleh ligamen.
Sendi sinovial (diartrosis) ini terdiri dari beberapa macam, yaitu: sendi putar, bongkol sendi tepat masuk dalam mangkok sendi yang dapat memberikan seluruh arah, misalnya sendi panggul dan sendi peluru yang terdapat di bahu; sendi engsel, satu permukaan bundar diterima oleh yang lain, sedemikian rupa sehingga gerakan hanya dalam satu bidang dan dua arah, misalnya sendi siku dan sendi lutut; sendi kondiloid, seperti sendi engsel tetapi dapat bergerak dalam dua bidang dan empat arah, lateral, ke depan dan ke belakang. Fleksi, ekstensi, abduksi-adduksi, contohnya sendi pergelangan tangan; sendi berporos, pergerakannya memutar seperti pergerakan kepala sendi. Atlas berbentuk cincin berputar di sekitar prosesus odontoid. Contohnya, gerakan radius di sekitar ulna pronasi dan supinasi; sendi pelana (sendi timbal balik), misalnya sendi rahang dan tulang metakarpal pertama (pergelangan tangan) yang dapat memberikan banyak kebebasan untuk bergerak, misalnya ibu jari dapat berhadapan dengan jari lainnya.
Gerak-gerik yang biasa terjadi pada sendi kerangka dikelompokkan ke dalam 3 kelas, yaitu: gerakan meluncur, dimana dua permukaan ceper bergerak bergeseran satu sama lainnya, seperti dalam gerakan antara tulang-tulang karpal dan tarsal; gerakan bersudut (anguler), yang diterangkan sesuai dengan arah dari gerakan, misalnya fleksi, lenturan atau pelipatan, ekstensi (pelurusan atau penguluran), yang terjadi di sekitar sebuah sumbu yang terpasang melintang. Adduksi merupakan gerakan ke arah medial badan, dan abduksi merupakan gerakan ke arah menjauhi medial badan, keduanya memutari sumbu yang memanjang dalam arah anteroposterior (dari depan ke belakang); gerakan rotasi, satu tulang bergerak mengitari tulang lain atau di dalam tulang lain seperti pada sendi putar, misalnya rotasi radius mengelilingi ulna.
Sendi anggota gerak atas. Sendi ini terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya sendi bahu atau humero skapuler dimana sendi ini merupakan sendi sinovial dari variasisendi putar. Kepala humerus yang berbentuk seperti bola, bersendi di dalam rongga glenoid skapula. Tulang-tulangnya dipersatukan oleh ligamen yang membentuk kapsul yang sangat longgar.
Sendi radio ulnaris. Antara radius dan ulna terdapat dua buah sendi yang dapat bergerak, yaitu sendi radio-ulnaris superior dan inferior. Membran interosa (antartulang) membentuk sendi ketiga yaitu sendi radio-ulnaris. Membran ini juga memisahkan otot-otot yang ada di depan dari yang ada di belakang lengan bawah.
Sendi pergelangan tangan atau sendi radio karpal adalah sendi kondiloid antara ujung bawah radius dan diskus persendian di bawah kepala ulna, yang bersama-sama membentuk permukaan konkaf untuk menerima sisi atas dari skafoid (navikular, lunar, dan tulang-tulang dari trikwetrun.
Sendi dari tangan dan jari. Sendi ini terdiri dari sendi karpal, sendi panggul, sendi lutut, dan sendi pergelangan kaki.
Sendi karpal, permukaan persendian antara tulang-tulang karpal adalah ceper dan halus. Permukaan ceper ini dengan mudah saling bergeseran dan membentuk persendian meluncur antara berbagai tulang itu. Tulang karpal tersusun berdempet rapat, sehingga hanya gerakan meluncur terbatas yang mungkin terjadi, tetapi dapat melaksanakan sejumlah gerakan yang cukup banyak, jika semua tulang bergerak secara bersama-sama.
Sendi panggul adalah sendi sinovial dari varietas sendi putar. Kepala femur diterima ke dalam asetabulum tulang koksa. Asetabulum diperdalam oleh kaitan labrum asetabular yang mengelilinginya. Ligamen ini sebenarnya sebuah pinggiran tulang rawan fibrus yang memperdalam dan menambah kemampuan menerima dari permukaan yang dibentuk oleh asetabulum guna menerima kepala dari femur.
Sendi lutut adalah sendi engsel dengan perubahan dan yang dibentuk oleh kedua kondilus femur yang bersendi dengan permukaan superior dari kondilus-kondilus tibia. Patela terletak di atas permukaan patelar yang halus pada femur dan di atas itu patela meluncur sewaktu sendi bergerak. Patela berada di depan bagian-bagian persendian yang utama, tetapi tidak masuk ke dalam formasi sendi lutut.
Sendi pergelangan kaki adalah sendi engsel yang dibentuk antara ujung bawah tibia beserta maleolus medialisnya, dan maleolus lateralis dari fibula yang bersama-sama membentuk sebuah lubang untuk menerima badan halus. Kapsul sendi diperkuat oleh ligamen-ligamen penting yang bersangkutan. Gerakan sendi pergelangan kaki adalah fleksi dan ekstensi atau lebih disebut dorsi fleksi dan plantar fleksi.
Struktur sendi sejati. Struktur ini merupakan struktur dari sendi lutut yang dibentuk oleh kedua kondilus femur yang bersendi dengan permukaan superior dari kondilus-kondilus tibia. Beberapa struktur penting berada di dalam sendi lutut. Tulang rawan semilunaris terletak di atas permukaan persendian yang beruapa dataran tinggi dari tibia guna memperdalamnya untuk menerima kondiler dari femur. Ligamen bersilang berjalan dari puncak kondilus tibia ke arah permukaan kasar di atas takik interkondiloid dari femur. Ligamen-ligamen ini bertujuan membatasi gerakan sendi lutut dan mengikat tulang-tulang bersama dengan lebih kuat.
Ligamen kapsuler sendi lutut sangat tebal dan diperkuat lagi ekspansi (pelebaran) otot-otot dan tendon-tendon yang mengelilingi dan berjalan di atas sendi. Membran senovial sendi lutut adalah terbesar dalam tubuh.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan kemungkinan geraknya, sendi dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu: sendi mati (sinartrosis), sendi kaku (amfiartrosis) dan sendi gerak (diartrosis).
2. Perbedaan feature dari sendi sinovial yaitu tulang-tulangnya ditutupi oleh tulang rawan, ligamen mengikat tulang-tulang bersama, membran sinovial menyelaputi rongga persendian.
3. Tipe dari sendi sinovial yaitu sendi datar, contohnya sendi karpus; sendi putar, contohnya sendi panggul; sendi engsel, contohnya sendi siku; sendi kondiloid, contohnya sendi pada pergelangan tangan; sendi berporos, contohnya radius dan ulna; sendi pelana, contohnya ibi jari.
4. Gerakan pada persendian sinovial yaitu abduksi-adduksi, contohnya otot adduktor di sisi tengah paha; inversi-eversi, contohnya telapak kaki; fleksi-ekstensi, contohnya otot pada skapula; sirkumduksi, contohnya otot-otot lengan; pronasi-supinasi, contohnya radius dan ulna; protraksi-retraksi, contohnya tulang sumbu; dan rotasi, contohnya sendi putar pada gerakan kepala.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan kali ini adalah, agar pada praktikum selanjutnya dapat ditampilkan torso-torso yang bersangkutan, sehingga praktikan dapat lebih mudah mengerti dan memahami tentang Sistem Artikulasi.
DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tim Pengajar MK. Anatomi dan Fisiologi Manusia, 2010. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Universitas Haluoleo. Kendari.
Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sendi
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/sistem-articulation-3/
Rabu, 12 Januari 2011
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROBIOLOGI
LAPORAN PRAKTIKUM
JENIS-JENIS DIATOM YANG HIDUP PADA SUBSTRAT KAYU DI PERAIRAN PANTAI NAMBO
Diajukan sebagai syarat kelulusan mata kuliah Hidrobiologi pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA
Oleh
Kelompok V
MARHUZAD HAKIM (A1C2 07 078)
DUSTAN (A1C2 07 031)
SUYATMI ARFIN (A1C2 07 070)
WD. SARMILA (A1C2 07 066)
HARNI (A1C2 07 097)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HALUOLEO
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR LAMPIRAN iv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 2
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Praktikum 2
D. Manfaat Praktikum 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
A. Kajian Teori 3
B. Kajian Empirik 8
C. Kerangka pemikiran 8
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 9
A. Waktu dan Tempat Praktikum 9
B. Variabel, Definisi Operasional dan Indikator Praktikum 9
C. Populasi dan Sampel 9
D. Instrumen Penelitian dan Prosedur Pengumpulan Data 10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 12
A. Hasil Penelitian 12
B. Pembahasan 14
BAB V PENUTUP 16
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kondisi geografis dengan wilayah perairan yang lebih luas dari pada wilayah daratannya. Selain sebagai sarana wisata dan sumber perekonomian, wilayah perairan dengan berbagai organisme yang hidup didalamnya, ternyata oleh para ilmuwan memiliki daya tarik tersendiri, terlebih jika diperhadapkan dengan berbagai organisme yang hidup didalamnya.
Kawasan pantai merupakan salah satu tempat dari perairan laut yang masuk dalam zona pasang surut. Kawasan ini biasanya dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan dari ekosistem mangrove, serta berbagai jenis biota laut lainnya mulai dari yang makroskopis sampai mikroskopis.
Berbagai kelompok algae seperti diatomae akhir-akhir ini banyak diteliti oleh para ilmuwan, karena manfaatnya yang besar sebagai parameter lingkungan. Diatomae merupakan kelompok mikroorganisme yang hidup pada perairan laut maupun perairan tawar.
Di perairan laut, diatomae terdapat disemua bagian lautan tetapi teramat melimpah didaerah permukaan massa air (daerah yang memiliki kandungan hara yang tinggi) seperti kawasan pantai. Diatomae juga ditemukan hidup melekat pada tumbuhan air. Sehingga untuk melakukan pengidentifikasian tentang diatomae, pengambilan sampel pada organ-organ tumbuhan yang bersentuhan dengan air cukup baik untuk dilakukan.
Kawasan pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari merupakan kawasan pantai yang dihuni oleh jenis-jenis tumbuhan pada ekosistem mangrove, dan tak ketinggalan berbagai biota laut lainya mulai dari yang mikroskopis sampai yang makroskopis juga hidup disana.
Berdasarkan uraian diatas, maka dianggap perlu untuk melakukan praktikum mengenai jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam praktukum ini adalah berapa jeniskah diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo?
C. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo.
D. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diharapkan dari hasil praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat diketahui jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
2. Sebagai referensi bagi peneliti lain yang relefan dengan praktikum ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kawasan pantai
Laut merupakan bagian dari permukaan bumi yang memiliki wilayah air asin yang sangat luas dan terpisah dengan daratan. Wilayah laut ini menempati 2/3 atau 71% dari permukaan bumi (Suhendar: 6)
Pantai merupakan suatu wilayah yang dimulai dari titik terendah air laut waktu surut hingga ke arah daratan sampai batas paling jauh ombak/gelombang menjulur ke daratan. Jadi daerah pantai dapat juga disebut daerah tepian laut. Dalam bahasa Inggris pantai disebut dengan istilah “shore” atau “beach”. Adapun tempat pertemuan antara air laut dan daratan dinamakan garis pantai (shore line). Garis pantai ini setiap saat berubah-ubah sesuai dengan perubahan pasang surut air laut (Suhendar: 5)
2. Kehidupan di laut
Di laut terdapat makhluk-makhluk mulai dari yang berupa jasad-jasad hidup bersel satu yang sangat kecil sampai yang berupa jasad hidup yang berukuran sangat besar separti ikan paus yang panjangnya lebih dari 10 meter. Ratusan ribu jenis biota laut telah diketahui dan semua relung dilingkungan laut dihuni oleh biota. Disebagian besar wilayah perairan terdapat banyak sekali jenis biota laut yang saling berinteraksi karena kendala makanan khususnya dan kendala lingkungan umumnya (Romimohtarto dan Juwana, 2007: 36)
Berdasarkan bentuk kehidupan/kebiasaan hidup; organisme didalam air di klasifikasikan menjadi; Bentos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat ada dasar atau hidup di dasar endapan. Periphyton organisme (hewan dan tumbuhan) yang hidupnya menempel pada batang dan daun tumbuhan air, atau benda lainnya. Plankton organisme perairan yang hidupnya melayang dan pergerakannya bergantung pada arus air. Nekton organisme perairan yang memiliki kemampuan gerak secara aktif dan tidak bergantung pada arus. Neuston Organisme yang beristirahat atau berenang pada permukaan perairan (Odum, 1996: 373-374)
Laut merupakan suatu tempat mata pencaharian sebagian umat manusia, karena di dalamnya terdapat berbagai macam jenis biota laut dengan berbagai manfaat bagi manusia. Kesuburan ekosistem perairan sering ditentukan oleh kelimpahan planktonnya, sehingga sering dijadian sebagai indikator kesuburan peairan (hutabarat dan evans; 1965) dalam (La Singepu; 2002: 1)
3. Diatom
Diatom (ganggang kersik) atau bacillariophyta merupakan salah satu dari 7 kelas dalam anak divisi algae (tumbuhan ganggang) dalam divisi Thallophyta (tumbuhan talus). Diatom ini merupakan jasad renik bersel satu yang memiliki bentuk sel bermacam-macam, namun secara umum dia mempunyai dua bentuk dasar yaitu bilateral dan sentrik (Tjitrosoepomo, 1998: 32, 48).
Diatom atau kelas bacillariophyceae ini terbagi atas dua ordo, yakni centrales (lebih populer disebut centric diatom) dan pennales (pennate diatom). Diatom sentrik (centric) bercirikan bentuk sel yang mempunyai simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, silindris, dengan penampang bulat, segi tiga atau segi empat. Sebaliknya diatom pennat (pennate) mempunyai simetri bilateral, yang bentuknya umumnya memanjang atau berbentuk sigmoidseperti huruf “S”. Sepanjang median sel diatom pennat ada jalur tengah yang disebut rafe (raphe) (Nontji, 2008: 86).
Sel diatom mempunyai inti dan kromatofora berwarna kuning cokelat dan mengandung klorofil a. santofil, san karatenoid lainnya yang sangat menyerupai fikosantin. Beberapa jenis diatom mempunyai zat warna dan hidup sebagai saprofit. Pada diatom, perkembangbiakan terjadi dengan membelah, pembentukkan aksospora dan seksual melalui oogami. (Tjitrosoepomo, 1998: 49, 50).
Diatom merupakan salah satu jenis alga yang juga membentuk sejumlah besar biomassa laut. Umumnya dinamakan juga alga cokelat emas karena warnanya. Diatom mempunyai ukuran yang beraneka ragam mulai dari beberapa mikron sampai beberapa milimeter. Kerangka silikonnya menunjukkan bentuk-bentuk dan pola-pola rumit dan halus (Romimohtarto dan juwana, 2007: 39).
Mann, (1999) dalam Soeprobowati dan Hadisusanto (2009) Diatom merupakan mikroalga uniseluler yang distribusinya sangat universal di semua tipe perairan. Diatom merupakan penyusun utama fitoplankton baik di ekosistem perairan tawar maupun laut dengan jumlah spesies terbesar dibandingkan komunitas mikroalga lainnya. Diatom mempunyai kontribusi 40 - 45% produktivitas laut sehingga lebih produktif dibandingkan dengan hutan hujan di seluruh dunia. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila diatom mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus silika dan karbon di alam sehingga kesinambungan perikanan terjaga
Diatom adalah tumbuhan sel tunggal unik yang sungguh indah jika di lihat lebih dekat struktur dan bentuknya. Perananya yang sangat penting dan hampir mendominasi seluruh perairan dunia membuat diatom sangat penting dan merupakan dasar dari rantai makanan. Disamping perannya yang amat sangat penting, Keindahan Diatom sungguh mempesona dan membuktikan tentang kebesaran Allah SWT pada tumbuhan cell tunggal ciptaanNya yang sangat indah dan cantik
(http://pesisirindonesia.blogspot.com/2008/04/mengintip-keindahan-diatom.html
4. Distribusi diatom
Produsen yang tidak berakar dari zona litoral (kawasan tembus cahaya sampai ke dasar seperti pantai) terdiri dari beberapa jenis ganggang. Banyak jenis di jumpai terapung pada zona litoral dan limnetik (plankton). Tetapi beberapa ditemukan berasosiasi dengan tanaman berakar (periphyton), merupakan ciri dari zona litoral (Odum, 1996; 380).
Diatom merupakan kelompok fitoplankton yang paling umum di jumpai di laut. Ia terdapat diamana saja, dari tepi pantai hingga ke tengah samudra. Diperkirakan di dunia ada sekitar 1400 - 1800 jenis diatom, tetapi tidak semua hidup sebagai plankton (Nontji, 2008: 85)
Perrifiton adalah hewan maupun tumbuhan yang hidup di bawah permukaan air, sedikit bergerak atau melekat pada batu-batu, ranting, tanah atau substrat lainnya. Perrifiton dari kelompok hewan pada umumnya protozoa dan Rotifera, sedang yang dari kelompok tumbuhan sebagian besar terdiri dari mikroalga. Diatom merupakan mikroflora utama di lingkungan perairan, karena kelimpahannya yang tinggi dan dapat ditemukan pada beragam habitat. Dominasi diatom sebagai penyusun perrifiton disebabkan karena diatom mempunyai kemampuan melekat pada permukaan substrat lebih baik dari pada mikroalga lainnya, hal ini karena diatom memiliki material berupa lendir atau dibantu suatu organel berupa kitin (Website Biologi UNNES 2009)
B. Kajian Empiris
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh
C. Kerangka Berpikir
Kepulauan indonesia sanagat kaya akan sumberdaya alam baik di darat maupun diperairan, demikian pula halnya di perairan sulawesi. Perairan ini memiliki berbagai macam organisme dengan keanekaragaman yang tinggi dan potensial untuk kehidupan, hal yang sama juga terjadi di perairan nambo, banyak memiliki organisme.
Perairan pantai nambo merupakan salah satu perairan yang terletak di wilayah kota kendari sulawesi tenggara yang oleh masyarakat setempat dijadikan sebagai tempat penangkapan ikan dan hewan-hewan lain yang bermanfaat bagi kehidupannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka untuk melestarikan sumberdaya yang ada diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai aspek yang menyangkut keanekaragaman organisme di perairan pantai Nambo. Salah satu yang penting adalah data awal tentang berbagai jenis diatom yang hidup pada perairan panta nambo.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 25-26 Desember 2010, bertempat di pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari dan dilanjutkan pada tanggal 27 Desember 2010 di Laboratorium Pendidikan MIPA Unit biologi FKIP Universitas Haluoleo Kendari.
B. Variabel dan Definisi Operasional Praktikum
1. Variabel penelitian
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah jenis-jenis diatom
2. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran variabel, maka dikemukakan devenisi operasional variabel sebagai berikut:
Diatom pada substrat kayu merupakan jenis-jenis diatom yang hidup melekat pada substrat kayu (berupa bakau) yang terdapat pada kawasan perairan pantai Nambo
C. Populasi dan Sampel Praktikum
1. Populasi
Populasi dalam praktikum ini adalah jenis-jenis diatom yang terdapat pada perairan pantai Nambo Kecamatan Abeli.
2. Sampel
Sampel dalam praktikum ini adalah jenis-jenis diatom yang tertangkap dengan sikat dan masuk dalam botol sampel pada pohon yang dijadikan sampel.
D. Instrumen Praktikumdan Prosedur Pengumpulan Data
1. Instrumen Praktikum
a. Alat Praktikum
Alat yang digunakan dalam praktikumini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat yang Digunakan Saat Praktikum
No Nama Alat Fungsi
1. Sikat gigi
Untuk mengambil bahan amatan
2. Botol sampel
Wadah penyimpanan bahan amatan
3. Mikroskop cahaya
Untuk mengamati sampel praktikum
4. Pipet tetes
Untuk mengambil sampel saat pengamatan
b. Bahan amatan
Bahan yang digunakan dalam praktikumini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang Digunakan Saat Praktikum
No. Nama Bahan Fungsi
1. Air dan serpihan batang kayu Sampel Praktikum
2. Prosedur Pengumpulan Data
Langkah-langkah yang ditempuh daslam rangka pengumpulan data pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi, untuk penetapan lokasi praktikum, ditentukan lima sampel batang kayu yang akan menjadi obyek pengambilan sampel.
b. Pengambilan sampel air berisi diatom diambil langsung dari kawasan perairan pantai Nambo. Batang-batang tumbuhan yang ada pada areal pengamatan disikat dengan sikat gigi lalu dimasukkan kedalam botol sampel serta dimasukkan pula beberapa batang kayu yang dianggap sebagai substrat tempat hidup diatom.
c. Pengamatan, dengan menggunakan mikroskop cahaya untuk melihat jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Hasil Praktikum
1. Deskripsi hasil penelitian berdasarkan lokasi penelitian
Pada tabel 3 dapat dilihat, bahwa pengambilan sampel dengan menggunakah lima sampel dengan menggunakan lima batang kayu yang ada pada kawasan pantai.
Masing-masing lokasi memiliki diatom yang karakternya hampir sama. Namun yang paling menonjol dari semua diatom adalah kehadiran navicula pada semua pohon sampel.
2. Hasil penelitian setelah pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya, ditemukan 14 jenis diatom dari lima pohon sampel yang digunakan. Navicula sp., Rabdonema arcuatum, Halasiosira, Nitzchia sigma var intermedia, Rhizosolenia delicatula, Gyrosigma acuminatum, Nitzcia sigma, Melosira nummuloides, Diplonis splendia, Nitzcia seriata, Diploneis fusca, Bidulphia luomeyi, Nitzcia lancoelata, Rabdonema adriaticum. Berikut tabel jenis-jenis diatomae berdasarkan pohon sampelnya:
Tabel 3. Hasil penelitian berdasarkan pohon ditemukannya spesimen
No Jenis Diatom Tempat ditemukan (pohon sampel)
1 2 3 4 5
1 Navicula sp., √ √ √ √ √
2 Rabdonema arcuatum √ √ - √ -
3 Halasiosira √ - - - -
4 Nitzchia sigma var intermedia - - √ √ -
5 Rhizosolenia delicatula - - - √ -
6 Gyrosigma acuminatum √ - - √ √
7 Nitzcia sigma √ - - √ √
8 Melosira nummuloides - - - √ -
9 Diplonis splendia √ - - √ -
10 Nitzcia seriata - - - √ √
11 Diploneis fusca √ - - √ √
12 Bidulphia luomeyi √ - - √ -
13 Nitzcia lancoelata - - - √ √
14 Rabdonema adriaticum - - - √ √
F. Pembahasan
Lautan dengan berbagai mikroorganisme yang hidup didalamnya merupakan sebuah hasil cipta yang sangat mengagumkan. Bilamana tidak, ukuran makhluk yang hidup didalamnya sangat beraneka ragam, mulai dari yang berukuran sangat besar seperti ikan hiu yang mencapai puluhan meter, sampai mikroorganisme yang sangat kecil sekalipun.
Keberadaan organisme pada milayah perairan tentunya memiliki fungsi dan peranan tersendiri. Saat ini, berbagai mikroorganisme banyak digunakan sebagai parameter lingkungan, seperti pada kelas diatomae. Karena perannya sebagai paremeter lingkungan, diatomae saat ini banyak diteliti oleh para ilmuwan.
Kawasan pantai merupakan salah satu wilayah yang kaya akan organisme, karena tempatnya yang dekat dengan daratan sehingga kaya akan unsur hara yang dibutuhkan oleh produsen lautan, seperti diatoame. Karena alasan ini pulalah, berbagai jenis organisme makro dan mikro hidup pada kawasan ini.
Unsur hara yang ada dalam kawasan pantai tersebut berasal dari tumbuhan pada ekosistem mangrove atau berasal dari aliran air yang mengalir dari darat menuju lautan dan karena banyaknya tumbuhan mangrove, sehingga air dari daratan tersebut akan tertahan pada kawasan pantai.
Kandungan nutrien yang ada dalam unsur hara yang ada pada kawasan pantai dimanfaatkan oleh berbagai organisme terlebih oleh produsen lautan seperti diatomae. Sehingga keberadaan diatomae pada kawasan pantai akan cukup banyak.
Pada praktikum yang telah kami lakukan pada substrat kayu di perairan pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari, ditemukan 14 jenis diatomae, dengan bentuk, ukuran dan warna yang beraneka ragam (lih. Lampiran) hal ini sesuai dengan hasil amatan dengan menggunakan mikroskop cahaya.
Berdasarkan tempat hidupnya, diatom yang ditemukan tersebut dikelompokkan sebagai perifiton, karena keberadaannya yang melekat pada substrat kayu. Namun di lingkungan, diatom kebanyakan hidup sebagai plankton.
Kemampuan diatom untuk hidup sebagai perifiton, disebabkan karena organ tubuhnya yang berupa lendir, sehingga dengan mudah untuk melakat dan hidup pada substrat.
BAB V
PENUTUP
G. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Diatom yang ada dialam selain hidup sebagai plankton, juga hidup sebagai perifiton
2. Jenis diatom pada substrat kayu di perairan pantai nambo ada 14 jenis yaitu: Navicula sp., Rabdonema arcuatum, Halasiosira, Nitzchia sigma var intermedia, Rhizosolenia delicatula, Gyrosigma acuminatum, Nitzcia sigma, Melosira nummuloides, Diplonis splendia, Nitzcia seriata, Diploneis fusca, Bidulphia luomeyi, Nitzcia lancoelata, Rabdonema adriaticum
H. Saran
1. Melalui hasil praktikum ini, praktikan menyarankan agar penelitian tentang jenis diatom dapat dilakukan
2. Karena praktikum ini terbilang hanya kualitatif, maka praktikan menyarankan agar penelitian tentang penyebaran diatom dapat dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
La Singepu. 2002. Kepadatan Kopepoda di Perairan Pantai Siompu Desa Lalole Kabupaten Buton. Skripsi FKIP Unhalu. Kendari
Nontji Anugrah. 2008. Plankton Laut. LIPI press. Jakarta.
Odum Eugene P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. UGM press. Yogyakarta.
Romimohtarto Kasijan dan Juwana Sri. 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta
Tjitrosoepomo Gembong. 1998. Taksonomi Tumbuhan. UGM press. Yogyakarta.
Soeprobowati Tri Retnaningsih dan Hadisusanto Suwarno, 2009, Diatom dan Paleolimnologi: Studi Komparasi Perjalanan Sejarah Danau Lac Saint Augustine Quebeq-City, Canada dan Danau Rawa Pening Indonesia. Biota Vol. 14 (1): 60-68, Februari 2009
Suhendar. Laut dan Pesisir (http://www.scribd.com/mobile)
Website Biologi UNNES 2009 (http://biologi.unnes.ac.id/web_bio/index.php)
http://pesisirindonesia.blogspot.com/2008/04/mengintip-keindahan-diatom.html
JENIS-JENIS DIATOM YANG HIDUP PADA SUBSTRAT KAYU DI PERAIRAN PANTAI NAMBO
Diajukan sebagai syarat kelulusan mata kuliah Hidrobiologi pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA
Oleh
Kelompok V
MARHUZAD HAKIM (A1C2 07 078)
DUSTAN (A1C2 07 031)
SUYATMI ARFIN (A1C2 07 070)
WD. SARMILA (A1C2 07 066)
HARNI (A1C2 07 097)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HALUOLEO
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR LAMPIRAN iv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 2
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Praktikum 2
D. Manfaat Praktikum 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
A. Kajian Teori 3
B. Kajian Empirik 8
C. Kerangka pemikiran 8
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 9
A. Waktu dan Tempat Praktikum 9
B. Variabel, Definisi Operasional dan Indikator Praktikum 9
C. Populasi dan Sampel 9
D. Instrumen Penelitian dan Prosedur Pengumpulan Data 10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 12
A. Hasil Penelitian 12
B. Pembahasan 14
BAB V PENUTUP 16
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kondisi geografis dengan wilayah perairan yang lebih luas dari pada wilayah daratannya. Selain sebagai sarana wisata dan sumber perekonomian, wilayah perairan dengan berbagai organisme yang hidup didalamnya, ternyata oleh para ilmuwan memiliki daya tarik tersendiri, terlebih jika diperhadapkan dengan berbagai organisme yang hidup didalamnya.
Kawasan pantai merupakan salah satu tempat dari perairan laut yang masuk dalam zona pasang surut. Kawasan ini biasanya dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan dari ekosistem mangrove, serta berbagai jenis biota laut lainnya mulai dari yang makroskopis sampai mikroskopis.
Berbagai kelompok algae seperti diatomae akhir-akhir ini banyak diteliti oleh para ilmuwan, karena manfaatnya yang besar sebagai parameter lingkungan. Diatomae merupakan kelompok mikroorganisme yang hidup pada perairan laut maupun perairan tawar.
Di perairan laut, diatomae terdapat disemua bagian lautan tetapi teramat melimpah didaerah permukaan massa air (daerah yang memiliki kandungan hara yang tinggi) seperti kawasan pantai. Diatomae juga ditemukan hidup melekat pada tumbuhan air. Sehingga untuk melakukan pengidentifikasian tentang diatomae, pengambilan sampel pada organ-organ tumbuhan yang bersentuhan dengan air cukup baik untuk dilakukan.
Kawasan pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari merupakan kawasan pantai yang dihuni oleh jenis-jenis tumbuhan pada ekosistem mangrove, dan tak ketinggalan berbagai biota laut lainya mulai dari yang mikroskopis sampai yang makroskopis juga hidup disana.
Berdasarkan uraian diatas, maka dianggap perlu untuk melakukan praktikum mengenai jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam praktukum ini adalah berapa jeniskah diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo?
C. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo.
D. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diharapkan dari hasil praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat diketahui jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu di perairan pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
2. Sebagai referensi bagi peneliti lain yang relefan dengan praktikum ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kawasan pantai
Laut merupakan bagian dari permukaan bumi yang memiliki wilayah air asin yang sangat luas dan terpisah dengan daratan. Wilayah laut ini menempati 2/3 atau 71% dari permukaan bumi (Suhendar: 6)
Pantai merupakan suatu wilayah yang dimulai dari titik terendah air laut waktu surut hingga ke arah daratan sampai batas paling jauh ombak/gelombang menjulur ke daratan. Jadi daerah pantai dapat juga disebut daerah tepian laut. Dalam bahasa Inggris pantai disebut dengan istilah “shore” atau “beach”. Adapun tempat pertemuan antara air laut dan daratan dinamakan garis pantai (shore line). Garis pantai ini setiap saat berubah-ubah sesuai dengan perubahan pasang surut air laut (Suhendar: 5)
2. Kehidupan di laut
Di laut terdapat makhluk-makhluk mulai dari yang berupa jasad-jasad hidup bersel satu yang sangat kecil sampai yang berupa jasad hidup yang berukuran sangat besar separti ikan paus yang panjangnya lebih dari 10 meter. Ratusan ribu jenis biota laut telah diketahui dan semua relung dilingkungan laut dihuni oleh biota. Disebagian besar wilayah perairan terdapat banyak sekali jenis biota laut yang saling berinteraksi karena kendala makanan khususnya dan kendala lingkungan umumnya (Romimohtarto dan Juwana, 2007: 36)
Berdasarkan bentuk kehidupan/kebiasaan hidup; organisme didalam air di klasifikasikan menjadi; Bentos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat ada dasar atau hidup di dasar endapan. Periphyton organisme (hewan dan tumbuhan) yang hidupnya menempel pada batang dan daun tumbuhan air, atau benda lainnya. Plankton organisme perairan yang hidupnya melayang dan pergerakannya bergantung pada arus air. Nekton organisme perairan yang memiliki kemampuan gerak secara aktif dan tidak bergantung pada arus. Neuston Organisme yang beristirahat atau berenang pada permukaan perairan (Odum, 1996: 373-374)
Laut merupakan suatu tempat mata pencaharian sebagian umat manusia, karena di dalamnya terdapat berbagai macam jenis biota laut dengan berbagai manfaat bagi manusia. Kesuburan ekosistem perairan sering ditentukan oleh kelimpahan planktonnya, sehingga sering dijadian sebagai indikator kesuburan peairan (hutabarat dan evans; 1965) dalam (La Singepu; 2002: 1)
3. Diatom
Diatom (ganggang kersik) atau bacillariophyta merupakan salah satu dari 7 kelas dalam anak divisi algae (tumbuhan ganggang) dalam divisi Thallophyta (tumbuhan talus). Diatom ini merupakan jasad renik bersel satu yang memiliki bentuk sel bermacam-macam, namun secara umum dia mempunyai dua bentuk dasar yaitu bilateral dan sentrik (Tjitrosoepomo, 1998: 32, 48).
Diatom atau kelas bacillariophyceae ini terbagi atas dua ordo, yakni centrales (lebih populer disebut centric diatom) dan pennales (pennate diatom). Diatom sentrik (centric) bercirikan bentuk sel yang mempunyai simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, silindris, dengan penampang bulat, segi tiga atau segi empat. Sebaliknya diatom pennat (pennate) mempunyai simetri bilateral, yang bentuknya umumnya memanjang atau berbentuk sigmoidseperti huruf “S”. Sepanjang median sel diatom pennat ada jalur tengah yang disebut rafe (raphe) (Nontji, 2008: 86).
Sel diatom mempunyai inti dan kromatofora berwarna kuning cokelat dan mengandung klorofil a. santofil, san karatenoid lainnya yang sangat menyerupai fikosantin. Beberapa jenis diatom mempunyai zat warna dan hidup sebagai saprofit. Pada diatom, perkembangbiakan terjadi dengan membelah, pembentukkan aksospora dan seksual melalui oogami. (Tjitrosoepomo, 1998: 49, 50).
Diatom merupakan salah satu jenis alga yang juga membentuk sejumlah besar biomassa laut. Umumnya dinamakan juga alga cokelat emas karena warnanya. Diatom mempunyai ukuran yang beraneka ragam mulai dari beberapa mikron sampai beberapa milimeter. Kerangka silikonnya menunjukkan bentuk-bentuk dan pola-pola rumit dan halus (Romimohtarto dan juwana, 2007: 39).
Mann, (1999) dalam Soeprobowati dan Hadisusanto (2009) Diatom merupakan mikroalga uniseluler yang distribusinya sangat universal di semua tipe perairan. Diatom merupakan penyusun utama fitoplankton baik di ekosistem perairan tawar maupun laut dengan jumlah spesies terbesar dibandingkan komunitas mikroalga lainnya. Diatom mempunyai kontribusi 40 - 45% produktivitas laut sehingga lebih produktif dibandingkan dengan hutan hujan di seluruh dunia. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila diatom mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus silika dan karbon di alam sehingga kesinambungan perikanan terjaga
Diatom adalah tumbuhan sel tunggal unik yang sungguh indah jika di lihat lebih dekat struktur dan bentuknya. Perananya yang sangat penting dan hampir mendominasi seluruh perairan dunia membuat diatom sangat penting dan merupakan dasar dari rantai makanan. Disamping perannya yang amat sangat penting, Keindahan Diatom sungguh mempesona dan membuktikan tentang kebesaran Allah SWT pada tumbuhan cell tunggal ciptaanNya yang sangat indah dan cantik
(http://pesisirindonesia.blogspot.com/2008/04/mengintip-keindahan-diatom.html
4. Distribusi diatom
Produsen yang tidak berakar dari zona litoral (kawasan tembus cahaya sampai ke dasar seperti pantai) terdiri dari beberapa jenis ganggang. Banyak jenis di jumpai terapung pada zona litoral dan limnetik (plankton). Tetapi beberapa ditemukan berasosiasi dengan tanaman berakar (periphyton), merupakan ciri dari zona litoral (Odum, 1996; 380).
Diatom merupakan kelompok fitoplankton yang paling umum di jumpai di laut. Ia terdapat diamana saja, dari tepi pantai hingga ke tengah samudra. Diperkirakan di dunia ada sekitar 1400 - 1800 jenis diatom, tetapi tidak semua hidup sebagai plankton (Nontji, 2008: 85)
Perrifiton adalah hewan maupun tumbuhan yang hidup di bawah permukaan air, sedikit bergerak atau melekat pada batu-batu, ranting, tanah atau substrat lainnya. Perrifiton dari kelompok hewan pada umumnya protozoa dan Rotifera, sedang yang dari kelompok tumbuhan sebagian besar terdiri dari mikroalga. Diatom merupakan mikroflora utama di lingkungan perairan, karena kelimpahannya yang tinggi dan dapat ditemukan pada beragam habitat. Dominasi diatom sebagai penyusun perrifiton disebabkan karena diatom mempunyai kemampuan melekat pada permukaan substrat lebih baik dari pada mikroalga lainnya, hal ini karena diatom memiliki material berupa lendir atau dibantu suatu organel berupa kitin (Website Biologi UNNES 2009)
B. Kajian Empiris
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh
C. Kerangka Berpikir
Kepulauan indonesia sanagat kaya akan sumberdaya alam baik di darat maupun diperairan, demikian pula halnya di perairan sulawesi. Perairan ini memiliki berbagai macam organisme dengan keanekaragaman yang tinggi dan potensial untuk kehidupan, hal yang sama juga terjadi di perairan nambo, banyak memiliki organisme.
Perairan pantai nambo merupakan salah satu perairan yang terletak di wilayah kota kendari sulawesi tenggara yang oleh masyarakat setempat dijadikan sebagai tempat penangkapan ikan dan hewan-hewan lain yang bermanfaat bagi kehidupannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka untuk melestarikan sumberdaya yang ada diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai aspek yang menyangkut keanekaragaman organisme di perairan pantai Nambo. Salah satu yang penting adalah data awal tentang berbagai jenis diatom yang hidup pada perairan panta nambo.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 25-26 Desember 2010, bertempat di pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari dan dilanjutkan pada tanggal 27 Desember 2010 di Laboratorium Pendidikan MIPA Unit biologi FKIP Universitas Haluoleo Kendari.
B. Variabel dan Definisi Operasional Praktikum
1. Variabel penelitian
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah jenis-jenis diatom
2. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran variabel, maka dikemukakan devenisi operasional variabel sebagai berikut:
Diatom pada substrat kayu merupakan jenis-jenis diatom yang hidup melekat pada substrat kayu (berupa bakau) yang terdapat pada kawasan perairan pantai Nambo
C. Populasi dan Sampel Praktikum
1. Populasi
Populasi dalam praktikum ini adalah jenis-jenis diatom yang terdapat pada perairan pantai Nambo Kecamatan Abeli.
2. Sampel
Sampel dalam praktikum ini adalah jenis-jenis diatom yang tertangkap dengan sikat dan masuk dalam botol sampel pada pohon yang dijadikan sampel.
D. Instrumen Praktikumdan Prosedur Pengumpulan Data
1. Instrumen Praktikum
a. Alat Praktikum
Alat yang digunakan dalam praktikumini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat yang Digunakan Saat Praktikum
No Nama Alat Fungsi
1. Sikat gigi
Untuk mengambil bahan amatan
2. Botol sampel
Wadah penyimpanan bahan amatan
3. Mikroskop cahaya
Untuk mengamati sampel praktikum
4. Pipet tetes
Untuk mengambil sampel saat pengamatan
b. Bahan amatan
Bahan yang digunakan dalam praktikumini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang Digunakan Saat Praktikum
No. Nama Bahan Fungsi
1. Air dan serpihan batang kayu Sampel Praktikum
2. Prosedur Pengumpulan Data
Langkah-langkah yang ditempuh daslam rangka pengumpulan data pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi, untuk penetapan lokasi praktikum, ditentukan lima sampel batang kayu yang akan menjadi obyek pengambilan sampel.
b. Pengambilan sampel air berisi diatom diambil langsung dari kawasan perairan pantai Nambo. Batang-batang tumbuhan yang ada pada areal pengamatan disikat dengan sikat gigi lalu dimasukkan kedalam botol sampel serta dimasukkan pula beberapa batang kayu yang dianggap sebagai substrat tempat hidup diatom.
c. Pengamatan, dengan menggunakan mikroskop cahaya untuk melihat jenis-jenis diatom yang hidup pada substrat kayu.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Hasil Praktikum
1. Deskripsi hasil penelitian berdasarkan lokasi penelitian
Pada tabel 3 dapat dilihat, bahwa pengambilan sampel dengan menggunakah lima sampel dengan menggunakan lima batang kayu yang ada pada kawasan pantai.
Masing-masing lokasi memiliki diatom yang karakternya hampir sama. Namun yang paling menonjol dari semua diatom adalah kehadiran navicula pada semua pohon sampel.
2. Hasil penelitian setelah pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya, ditemukan 14 jenis diatom dari lima pohon sampel yang digunakan. Navicula sp., Rabdonema arcuatum, Halasiosira, Nitzchia sigma var intermedia, Rhizosolenia delicatula, Gyrosigma acuminatum, Nitzcia sigma, Melosira nummuloides, Diplonis splendia, Nitzcia seriata, Diploneis fusca, Bidulphia luomeyi, Nitzcia lancoelata, Rabdonema adriaticum. Berikut tabel jenis-jenis diatomae berdasarkan pohon sampelnya:
Tabel 3. Hasil penelitian berdasarkan pohon ditemukannya spesimen
No Jenis Diatom Tempat ditemukan (pohon sampel)
1 2 3 4 5
1 Navicula sp., √ √ √ √ √
2 Rabdonema arcuatum √ √ - √ -
3 Halasiosira √ - - - -
4 Nitzchia sigma var intermedia - - √ √ -
5 Rhizosolenia delicatula - - - √ -
6 Gyrosigma acuminatum √ - - √ √
7 Nitzcia sigma √ - - √ √
8 Melosira nummuloides - - - √ -
9 Diplonis splendia √ - - √ -
10 Nitzcia seriata - - - √ √
11 Diploneis fusca √ - - √ √
12 Bidulphia luomeyi √ - - √ -
13 Nitzcia lancoelata - - - √ √
14 Rabdonema adriaticum - - - √ √
F. Pembahasan
Lautan dengan berbagai mikroorganisme yang hidup didalamnya merupakan sebuah hasil cipta yang sangat mengagumkan. Bilamana tidak, ukuran makhluk yang hidup didalamnya sangat beraneka ragam, mulai dari yang berukuran sangat besar seperti ikan hiu yang mencapai puluhan meter, sampai mikroorganisme yang sangat kecil sekalipun.
Keberadaan organisme pada milayah perairan tentunya memiliki fungsi dan peranan tersendiri. Saat ini, berbagai mikroorganisme banyak digunakan sebagai parameter lingkungan, seperti pada kelas diatomae. Karena perannya sebagai paremeter lingkungan, diatomae saat ini banyak diteliti oleh para ilmuwan.
Kawasan pantai merupakan salah satu wilayah yang kaya akan organisme, karena tempatnya yang dekat dengan daratan sehingga kaya akan unsur hara yang dibutuhkan oleh produsen lautan, seperti diatoame. Karena alasan ini pulalah, berbagai jenis organisme makro dan mikro hidup pada kawasan ini.
Unsur hara yang ada dalam kawasan pantai tersebut berasal dari tumbuhan pada ekosistem mangrove atau berasal dari aliran air yang mengalir dari darat menuju lautan dan karena banyaknya tumbuhan mangrove, sehingga air dari daratan tersebut akan tertahan pada kawasan pantai.
Kandungan nutrien yang ada dalam unsur hara yang ada pada kawasan pantai dimanfaatkan oleh berbagai organisme terlebih oleh produsen lautan seperti diatomae. Sehingga keberadaan diatomae pada kawasan pantai akan cukup banyak.
Pada praktikum yang telah kami lakukan pada substrat kayu di perairan pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari, ditemukan 14 jenis diatomae, dengan bentuk, ukuran dan warna yang beraneka ragam (lih. Lampiran) hal ini sesuai dengan hasil amatan dengan menggunakan mikroskop cahaya.
Berdasarkan tempat hidupnya, diatom yang ditemukan tersebut dikelompokkan sebagai perifiton, karena keberadaannya yang melekat pada substrat kayu. Namun di lingkungan, diatom kebanyakan hidup sebagai plankton.
Kemampuan diatom untuk hidup sebagai perifiton, disebabkan karena organ tubuhnya yang berupa lendir, sehingga dengan mudah untuk melakat dan hidup pada substrat.
BAB V
PENUTUP
G. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Diatom yang ada dialam selain hidup sebagai plankton, juga hidup sebagai perifiton
2. Jenis diatom pada substrat kayu di perairan pantai nambo ada 14 jenis yaitu: Navicula sp., Rabdonema arcuatum, Halasiosira, Nitzchia sigma var intermedia, Rhizosolenia delicatula, Gyrosigma acuminatum, Nitzcia sigma, Melosira nummuloides, Diplonis splendia, Nitzcia seriata, Diploneis fusca, Bidulphia luomeyi, Nitzcia lancoelata, Rabdonema adriaticum
H. Saran
1. Melalui hasil praktikum ini, praktikan menyarankan agar penelitian tentang jenis diatom dapat dilakukan
2. Karena praktikum ini terbilang hanya kualitatif, maka praktikan menyarankan agar penelitian tentang penyebaran diatom dapat dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
La Singepu. 2002. Kepadatan Kopepoda di Perairan Pantai Siompu Desa Lalole Kabupaten Buton. Skripsi FKIP Unhalu. Kendari
Nontji Anugrah. 2008. Plankton Laut. LIPI press. Jakarta.
Odum Eugene P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. UGM press. Yogyakarta.
Romimohtarto Kasijan dan Juwana Sri. 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta
Tjitrosoepomo Gembong. 1998. Taksonomi Tumbuhan. UGM press. Yogyakarta.
Soeprobowati Tri Retnaningsih dan Hadisusanto Suwarno, 2009, Diatom dan Paleolimnologi: Studi Komparasi Perjalanan Sejarah Danau Lac Saint Augustine Quebeq-City, Canada dan Danau Rawa Pening Indonesia. Biota Vol. 14 (1): 60-68, Februari 2009
Suhendar. Laut dan Pesisir (http://www.scribd.com/mobile)
Website Biologi UNNES 2009 (http://biologi.unnes.ac.id/web_bio/index.php)
http://pesisirindonesia.blogspot.com/2008/04/mengintip-keindahan-diatom.html
Langganan:
Postingan (Atom)
