Powered By Blogger

Sabtu, 21 Mei 2011

LAPORAN ANFISMAN (SISTEM PERNAPASAN)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia membutuhkan suplai oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut. Pertukatan gas antara oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk kedalam tubuh melalui perantaraan alat pernapasan yang berada di luar. Pada manusia, alveolus yang terdapat di paru-paru berfungsi sebagai permukaan untuk tempat pertukaran gas.
Pertukaran gas pada manusia, terjadi dalam tiga fase, yaitu bernafas (breathing), transpor gas melalui sistem sirkulasi, dan pertukaran gas antara kapiler darah dengan sel tubuh. Pada saat manusia menghirup udara (inhalase), O2 akan masuk ke dalam paru-paru, sedangkan pada saat mengeluarkan udara (exhalase), maka CO2 dikeluarkan dari paru-paru ke lingkungan luar. Tranpor gas melalui sistem sirkulasi, dimulai dari proses difusi O2 dari paru-paru ke kapiler darah. Oksigen kemudian dibawa oleh hemoglobin darah ke sel-sel tubuh. Pada saat bersamaan, darah juga berperan dalam CO2 transport dari jaringan ke paru-paru. Fase ke tiga pertukaran gas terjadi di dalam jaringan tubuh, dimana se-sel menerima O2 dari darah dan memberikan CO2 ke darah. Oksigen di dalam sel-sel tubuh digunakan untuk pembakaran molekul-molekul makanan untuk mendapatkan energi, dengan proses yang disebut respirasi seluler. Jalur udara pernafasan untuk menuju sel-sel tubuh adalah hidung–faring–laring–trakea–bronkus-paru-paru-alveolus–sel-sel.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih memahami tentang sistem pernapasan beserta komponen-komponennya, maka diperlukan suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian yang menyusun sistem respirasi.
2. Mahasiswa dapat mengenali struktur dari sistem pernapasan.
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi dua fungsi dari sistem pernapasan.
4. Mahasiswa dapat mendefinisikan respirasi, ventilasi, inspirasi, dan ekspirasi.
5. Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme kemoreseptor yang berhubungan dengan oksigen untuk pengontrolan terhadap ventilasi.
6. Mahasiswa dapat mengetahui proses pertukaran gas dalam alveoli dan dalam jaringan.



C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem pernapasannya beserta komponen-komponennya, mulai dari organ-organnya, saluran-salurannya, dan mekanisme pernapasan itu sendiri, serta macam-macam pernapasan.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Setiap makhluk hidup memerlukan energi. Setiap makanan manusia harus menghasilkan energi. Energi itu berasal dari sari makanan. Agar sari-sari makanan itu dapat diubah menjadi energi, maka makanan harus dioksidasi. Oksidasi ini berlangsung di dalam sel. Hasil oksidasi adalah energi, dan sisa oksidasi berupa karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Pada peristiwa ini reaksi enzim pernapasan, sehingga dihasilkan reaksi sebagai berikut.
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi
Dari persamaan itu, jelas bahwa karbondioksida dan uap air di lepas ke udara bersama hembusan napas, sedang energi sebagian berupa panas untuk memelihara suhu badan dan sebagian berupa energi yang berguna untuk melakukan kegiatan tubuh (Irianto, 2004: 197).
Manusia membutuhkan suply oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut. Pertukatan gas antara oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk kedalam tubuh melalui perantaraan alat pernapasan yang berada di luar. Pada manusia, alveolus yang terdapat di paru-paru berfungsi sebagai permukaan untuk tempat pertukaran gas (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/sistem-respiratori/7/).
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung (oksigen) serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Pengisapan udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi. Jadi dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah secara osmosis. Seterusnya CO2 akan dikeluarkan melalui traktus respiratorius (jalan pernapasan) dan masuk ke dalam tubuh melalui kapiler-kapiler vena pulmonalis kemudian masuk ke serambi kiri jantung (atrium sinistra)  ke aorta  seluruh tubuh (jaringan-jaringan dan sel-sel), disini terjadi oksidasi (pembakaran). Sebagai ampas (sisanya) dari pembakaran adalah CO2 dan zat ini dikeluarkan melalui peredaran darah vena masuk ke jantung (serambi kanan/atrium dekstra)  ke bilik kanan (ventrikel dekstra) dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke jaringan paru-paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa metabolisme, sedangkan dari sisa metabolisme lainnya akan dikeluarkan melalui traktus urogenitalis dan kulit (Syaifuddin, 2006: 192).
Pernapasan ialah proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau “pernapasan dalam” dan yang terjadi di dalam paru-paru bernama “pernapasan luar”. Udara ditarik ke dalam paru-paru pada waktu menarik napas dan didorong keluar paru-paru pada waktu menghembuskan napas. Udara masuk melalui jalan pernapasan . Fungsi paru paru ialah pertukaran gas oksigen dan karbondioksida. Pada pernapasan melaui paru-paru atau pernapsan eksterna, oksigen dipungut melalui hidung dan mulut, pada waktu bernapas; oksigen masuk melalui trakhea dan pipa bronchial ke alveoli, dan dapat erat hubungan dengan darah di dalam kapiler pulmonalis (Pearce, 2004: 211-219).
Sistem pernapasan mencakup paru-paru dan sistem saluran yang menghubungkan tempat berlangsungnya pertukaran gas dengan lingkungan luar. Juga terdapat suatu mekanisme ventilasi yang terdiri dari rangka toraks, otot interkostal, diafragma, dan unsur elastis serta kolagen paru-paru. Biasanya sistem pernapasan dibagi dalam dua bagian utama yaitu bagian konduksi terdiri dari rongga hidung, nasofaring, laring, trakhea, bronkus, bronkiulus, dan bronkiulus terminalis, dan bagian respirasi (tempat berlangsungnya pertukaran gas) terdiri atas bronkiulus, respiratoris, duktus alveolus dan alveolus (Carlos, 1998: 336).
Paru-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan dan kiri yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang memiliki tiga gelambir dan paru-paru kiri memiliki dua gelambir.
Paru-paru sebenarnya merupakan kumpulan gelembung alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut selaput pleura. Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung
(http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=199&fname=materi2.html).
Proses pengambilan oksigen dan pembebas karbondioksida di kanan sebagai respirasi atau sebagai (pernapasan). Istilah pernapasan berlaku untuk kalsium secara keseluruhan maupun proses yang terjadi di dalam sel. Hewan yang mengambil O2 dari medium ke mana dia hidup dan memberikan CO2 ke medium tersebut. Banyak hewan kecil dapat mengambil cukup O2 melalui pemilikan tubuhnya, tapi kebanyakan hewan memiliki organ respiratori khusus atau pengambilan O2. Perpindahan O2 dan CO2 melintasi permukaan tubuh maupun organ respirasi adalah melalui proses difusi (Soewolo, 1997: 186).









BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 1 Juni 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis dan spirometer yang digunakan untuk menghitung jumlah volume dan kapasitas paru-paru.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alat peraga dan torso sistem pernapasan.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.
3. Memasang selang spirometer ke hidung.
4. Menghembuskan napas, kemudian mencatat berapa volume dan kapasitas udara yang tertera pada alat tersebut.



















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
Kelompok Nama VT VC FeVI
I Nurdiani 2,19 2,88 2,3
Safaruddin 2,05 1,7 1,21
II St. Milda 1,95 1,73 1,2
Harlin 3,1 2,02 1,51
III Fastaufi L. 2,63 2,94 2,17
Sutra N. 2,5 2,37 1,37
IV Fachruddin 3,21 3,37 2,62
Ramzanika 1,66 1,74 1,03
V Ld. Amini 2,39 3,08 1,48
Eka Sari 2,37 2,84 2,16
VI Dustan 1,89 2,34 1,66
Indrayani 1,92 2,2 2,59









Keterangan:
VT : kapasitas total
VC : kapasitas tidal
FeVI : kapasitas residu











2. Pengamatan pada Organ-organ Tubuh

Keterangan:
1. Paru-paru
2. Jantung
3. Hati
4. Lambung
5. Usus halus
6. Usus besar
7. Rektum
8. Anus
































3. Pengamatan pada Organ Pernapasan secara Utuh





























Keterangan:
1. Faring 6. Pleura
2. Trakea 7. Spasium pleura
3. Cabang besar bronkus kanan 8. Duktus alveolar
4. Cabang besar bronkus kiri 9. Sakus alveolar
5. Bronkiole 10. Alveolus




4. Struktur Internal Paru-Paru























Keterangan:
1. Faring
2. Trakea
3. Bronkus
4. Bronkeolus
5. Cabang bronkus
6. Duktus
7. Alveolar
8. Alveolus
9. Pulmonali









5. Potongan sagital dari Leher dan Kepala





























Keterangan:
1. Konka 8. Nasofaring
2. Epiglotis 9. Oral
3. Esofagus 10. Orofaring
4. Glotis 11. Tiroid
5. Laring 12. Lidah
6. Lingual 13. Tonsil
7. Mandibula 14. Trakea





6. Trakea dan paru-paru

Keterangan:
1. Trakea
2. Paru-paru kanan
3. Paru-paru kiri
4. Bronkus
5. Bronkeolus
6. Pembuluh darah
































7. Paru-paru

Keterangan:
1. Paru-paru kanan
2. Paru-paru kiri
3. Apikal
4. Posterior
5. Lobus superior
6. Anterior
7. Lobus media
8. Lateral
9. Basalis posterior
10. Basalis anterior
11. Lobus inferior
12. Basalis media
13. Linguar inferior
14. Mediana anterior
15. Basalis lateral
16. Basalis superior
17. Linguar superior















8. Struktur Kimiawi dan persarafan pada pernapasan






























Keterangan:
1. Aorta 8. Inspirasi
2. Karotis 9. Interkosta
3. Serebrum 10. Medula
4. Korteks 11. Frenikus
5. Diafragma 12. Regangan
6. Ekspirasi 13. Vagus
7. Glosofaringeus 14. Voluntary




B. Pembahasan
Setiap makhluk hidup memerlukan energi. Setiap makanan manusia harus menghasilkan energi. Energi itu berasal dari sari makanan. Agar sari-sari makanan itu dapat diubah menjadi energi, maka makanan harus dioksidasi. Oksidasi ini berlangsung di dalam sel. Hasil oksidasi adalah energi, dan sisa oksidasi berupa karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Manusia membutuhkan suply oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut.
Pertukatan gas antara oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk ke dalam tubuh melalui perantaraan alat pernapasan yang berada di luar. Pada manusia, alveolus yang terdapat di paru-paru berfungsi sebagai permukaan untuk tempat pertukaran gas.
Pernapasan (respirasi) merupakan peristiwa menghirup udara dari luar (lingkungan) yang mengandung oksigen, serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar tubuh. Dengan bernapas, setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan hasil oksidasinya. Oksigen (O2) yang bersenyawa dengan karbon (C) dan hidrogen (H) dari jaringan, memungkinkan setiap sel menjalankan kegiatan metabolismenya, yang berarti kegiatan dan hasil buangan dalam bentuk karbondioksida dan air dibuang. Untuk itulah diperlukan alat pernapasan yang berfungsi untuk melakukan pertukaran gas. Alat-alat (organ-organ) pernapasan pada manusia terdiri dari hidung, saluran pernapasan (faring, laring, trakea, bronchus, bronkeolus, alveolus), dan paru-paru.
Hidung (nasal), merupakan organ pertama yang dilalui oleh udara. Menpunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Di dalam rongga hidung terdapat rambut-rambut dan selaput lendir, yang berfungsi sebagai penyaring, penghangat, dan pengatur kelembaban udara yang akan masuk ke paru-paru. Hidung terdiri dari beberapa bagian yaitu; bagian luar dinding terdiri dari kulit, lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan, dan lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang berjumlah 3 buah yaitu: konka nasalis inferior (karang hidung bagian bawah); konka nasalis media (karang hidung bagian tengah); dan konka nasalis superior (karang hidung bagian atas).
Saluran pernapasan (faring, laring, trakea, bronkhus, bronkeolus, alveolus). Faring (tekak), adalah saluran sepanjang 12,5 – 13 cm yang merupakan persimpangan antara kerongkongan dan tenggorokan. Terdapat katup yang disebut epiglotis (anak tekak) berfungsi sebagai pengatur jalan masuk ke kerongkongan dan tenggorokan. Faring terbagi atas tiga bagian, yaitu: nasofaring, terletak di antara koane sampai langit-langit lunak; orofaring, terletak di belakang rongga mulut, di antara langit-langit lemak sampai tulang hioid, laringofaring; terletak di antara tulang hioid sampai belakang laring.
Laring, adalah pangkal tenggorokan yang terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkannya dari kolumna vertebra. Laring terdiri atas kepingan tulang rawan membentuk jakun dan di dalamnya terdapat celah menuju batang tenggorok (trakea) yang disebut glotis, di dalamnya terdapat pita suara dan beberapa otot yang mengatur ketegangan pita suara sehingga timbul bunyi.
Trakea (Batang Tenggorok), terletak di leher bagian depan kerongkongan yang berupa pipa yang dindingnya terdiri atas 3 lapisan, yaitu lapisan luar terdiri atas jaringan ikat, lapisan tengah terdiri atas otot polos dan cincin tulang rawan, dan lapisan dalam terdiri atas jaringan epitelium bersilia. Adanya cincin tulang rawan menyebabkan trakea selalu terbuka, sehingga kita dapat bernapas dengan leluasa setiap saat. Pada permukaan dalamnya terdapat bulu-bulu halus yang berfungsi untuk menolak benda-benda asing yang akan masuk ke paru-paru.
Bronkhus, merupakan percabangan trakea yang menuju paru-paru kanan dan kiri. Struktur bronkhus sama dengan trakea, hanya dindingnya lebih halus. Kedudukan bronkhus kiri lebih mendatar dibandingkan bronkhus kanan, sehingga bronkhus kanan lebih mudah terserang penyakit.
Bronkheolus, adalah percabangan dari bronkhus, saluran ini lebih halus dan dindingnya lebih tipis. Bronkheolus kiri berjumlah 2, sedangkan kanan berjumlah 3, percabangan ini akan membentuk cabang yang lebih halus seperti pembuluh.
Alveolus, berupa saluran udara buntu membentuk gelembung-gelembung udara, dindingnya tipis setebal selapis sel, lembab dan berlekatan dengan kapiler darah. Alveolus berfungsi sebagai permukaan respirasi, luas total mencapai 100 m2 (50 x luas permukaan tubuh) cukup untuk melakukan pertukaran gas ke seluruh tubuh.
Paru-paru, merupakan alat pernapasan utama. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam rongga dada kiri dan kanan. Paru-paru kanan memiliki 3 lobus (gelambir), sedangkan paru-paru kiri memiliki 2 lobus (gelambir). Di dalam paru-paru terdapat alveolus yang berjumlah  300 juta buah. Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apex (puncak) di atas dan muncul sedikit lebih tinggi dari klavikula di dalam dasar leher. Jaringan paru-paru adalah elastik, berpori dan seperti spon. Bagian luar paru-paru dibungkus oleh selaput pleura yang berguna untuk melindungi paru-paru dari gesekan ketika bernapas, berlapis 2 dan berisi cairan.
Terdapat dua jenis pernapasan, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut: Fase inspirasi.
Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada mengembang. Pengembangan rongga dada menyebabkan volume paru-paru juga mengembang akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk; Fase ekspirasi.
Fase ini merupakan fase relaksasi ataukembalinya otot antartulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Rongga dada yang mengecil menyebabkan volume paru-paru juga mengecil sehingga tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar. Hal tersebut menyebabkan udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktivitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua fase, yaitu: Fase inspirasi. Fase ini merupakan kontraksi otot diafragma sehingga mengembang, akibatnya paru-paru ikut mengembang. Hal tersebut menyebabkan rongga dada membesar dan tekanan udara di dalam paru-paru lebih kecil dari pada tekanan udara luar sehingga udara luar dapat masuk ke dalam; Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi otot diafragma (kembali ke posisi semula) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan udara di dalam paruparu lebih besar daripada tekanan udara luar, akibatnya udara keluar dari paru-paru.
Oksigen yang masuk dan keluar melalui alat-alat pernapasan disebut udara pernapasan. Udara pernapasan pada manusia dibedakan menjadi enam macam, yaitu: udara pernapasan biasa (volume tidal). VT merupakan udara yang masuk dan keluar paru-paru pada saat pernapasan biasa, volume udara yang masuk dan keluar sebanyak kurang lebih 500 ml; udara cadangan inspirasi (udara komplementer). UK merupakan udara yang masih dapat dimasukkan ke dalam paru-paru secara maksimal, setelah melakukan inspirasi normal, besarnya udara komplementer adalah 2500 - 3000 ml; udara cadangan ekspirasi (udara suplementer). US merupakan udara yang masih dapat dikeluarkan dari paru-paru secara maksimal setelah melakukan ekspirasi biasa, besarnya udara suplementer adalah 1250 - 1300 ml; udara residu. UR merupakan udara yang tersisa di dalam paru-paru, yang berfungsi untuk menjaga agar paru-paru tetap dalam keadaan mengembang, besarnya adalah 1200 ml; kapasitas vital. KV merupakan kemampuan paru-paru mengeluarkan udara secara maksimal setelah melakukan inspirasi secara maksimal; dan kapasitas total. KT merupakan udara yang dapat tertampung secara maksimal di paru-paru secara keseluruhan.
Volume udara pernapasan berkisar 500 - 3500 ml. Dari 500 ml udara yang dihirup, hanya 350 ml yang sampai di alveolus, sisanya hanya sampai saluran pernapasan. Jumlah oksigen yang diperlukan sehari untuk tiap individu sebesar 300 cc. Frekuensi pernapasan adalah intensitas memasukkan atau mengeluarkan udara per menit. Pada umumnya intensitas pernapasan pada manusia berkisar antara 16 - 18 kali. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan frekuensi pernapasan, yaitu: usia. Balita memiliki frekuensi pernapasan lebih cepat dibandingkan manula, semakin bertambah usia, intensitas pernapasan akan semakin menurun; jenis kelamin. Laki-laki memiliki frekuensi pernapasan lebih cepat dibandingkan perempuan; suhu tubuh. Semakin tinggi suhu tubuh (demam) maka frekuensi pernapasan akan semakin cepat; posisi tubuh. Frekuensi pernapasan meningkat saat berjalan atau berlari dibandingkan posisi diam, frekuensi pernapasan posisi berdiri lebih cepat dibandingkan posisi duduk, frekuensi pernapasan posisi tidur terlentar lebih cepat dibandingkan posisi tengkurap; aktivitas. Semakin tinggi aktivitas, maka frekuensi pernapasan akan semakin cepat.




















DAFTAR PUSTAKA
Carlos, 1998. Histologi Dasar. EGC. Jakarta.

Irianto, K., 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Yrama Widya. Bandung.

Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Soewolo, 1997. Pengantar Fisiologi Hewan. Depdiknas. Jakarta.

Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/sistem-respiratori/7/
http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=199&fname=materi2.html
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Organ-organ yang menyusun sistem pernapasan adalah rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru-paru.
2. Struktur dari sistem pernapasan yaitu struktur internal paru-paru, struktur potongan sagital dari leher dan kepala, struktur kontrol kimiawi dan persarafan.
3. Fungsi sistem pernapasan yaitu sebagai pertukaran gas O2 dan CO2.
4. Respirasi; pertukaran gas O2 dan CO2. Ventilasi; tempat pergantian udara O2 dan CO2. Inspirasi; penghirupan udara. Ekspirasi; penghembusan udara.
5. Pengendalian secara kimia pada sistem pernapasan meliputi; frekuensi kecepatan dalam gerakan pernapasan.
6. Pertukaran gas dalam alveoli dan jaringan yaitu gas yang masuk ke jaringan tergantung pada jumlah yang masuk ke dalam paru-paru, pertukaran gas yang cukup pada paru-paru, aliran darah ke jaringan dan kapasitas pengangkutan O2 dalam darah.


B. Saran
Pada kesempatan kali ini, saya harap kekompakan dan keaktifan setiap praktikan dapat lebih ditingkatkan lagi serta komunikasi antara praktikan dan asisten dapat terjaga dengan baik.

LAPORAN ANFISMAN (SISTEM PENCERNAAN )

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makanan merupakan sumber energi bagi manusia. Agar makanan dapat menjadi sumber energi, makanan harus melalui suatu proses yang dinamakan proses pencernaan. Makanan yang masuk melalui mulut diolah oleh beberapa organ di dalam tubuh hingga sari-sari makanan dapat diserap tubuh. Organ-organ tersebut mengubah makanan menjadi sumber energi melalui proses mekanik dan kimiawi. Kumpulan organ-organ tersebut membentuk sistem pencernaan.
Sistem pencernaan pada manusia terdiri dari 2 bagian yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan merupakan saluran yang dilalui bahan makanan. Kelenjar pencernaan adalah bagian yang mengeluarkan enzim untuk membantu mencerna makanan. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring dan esofagus, lambung, usus halus, usus besar, dan berakhir di anus. Kelenjar pencernaan terdiri dari ludah, hati (hepar), dinding lambung dan kelenjar pankreas.
Proses pencernaan dalam tubuh manusia adalah kompleks. Bahan makanan yang telah mengalami penguraian sebagian di dalam mulut, melalui tenggorokan (esofagus) masuk ke dalam lambung. Di sisni kerja enzim amilase dalam air ludah dihentikan dengan adanya asam klorida yang dikeluarkan oleh lambung. Dalam keadaan normal bahan makanan tinggal untuk beberapa jam di dalam lambung, sementara asam klorida dan pepsin menguraikan protein dan karbohidrat yang terkandung dalam zat makanan tersebut menjadi oligopeptida dan oligosakarida. Berbeda dari amilase dan enzim lainnya, pepsin bekerja dalam suasana sangat asam, pH 1.0-2.5, sesuai dengan kondisi asam dalam cairan lambung.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih memahami tentang sistem pencernaan beserta komponen-komponennya, maka perlu diadakan suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi anatomi saluran pencernaan.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan bagaimana saliva dihasilkan dan pengaruhnya pada karbohidrat.
3. Mahasiswa dapat menggambarkan tentang peristaltik dan mekanisme kontrolnya.
4. Mahasiswa dapat membedakan antara kardia, pylorus, dan spinkterpilorus pada lambung yang mengacu pada posisi dan fungsinya.
5. Mahasiswa dapat mendefinisikan ulkhus peptikum dan mengenai tempatnya ditemukan.
6. Mahasiswa dapat mengidentifikasi letak dan pembentukan empedu.
7. Mahasiswa dapat menggambarkan peran empedu dalam pencernaan.
8. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fungsi hormon dalam pencernaan dan memberikan contoh.
9. Mahasiswa dapat bagaimana masing-masing dari ketiga jenis makanan memetabolisme, mensitesa dan menyimpan energi.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem pencernaan mulai dari organ-organ pencernaan, saluran pencernaan, dan kelenjar pencernaan, baik morfologinya, maupun anatominya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus. Susunan saluran pencernaan, terdiri dari; oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus besar), rectum, dan anus (Syaifuddin, 2006: 167).
Sistem pencernaan terdiri atas : saluran pencernaan, kelenjar-kelenjar yang berhubungan. Fungsiny; ingesti dan digesti makanan, absorbsi sari makanan, dan eliminasi sisa makanan.Langkah-langkah proses pencernaan makanan: pencernaan di mulut dan rongga mulut: makanan digiling menjadi kecil-kecil oleh gigi dan dibasahi oleh saliva; disalurkan melalui faring dan esophagus; pencernaan di lambung dan usus halus, dalam usus halus diubah menjadi asaam-asam amino, monosakarida, gliserid dan unsur-unsur dasarnya yang lain; absorbsi air dalam usus besar: akibatnya isi yang tidak dicerna menjadi setengah padat (veses), feses dikeluarkan dari dalam tubuh melalui kloaka (bila ada) kemudian ke anus. Organ-organ asesori (organ tambahan); gigi, lidah, kelenjar ludah, kelenjar-kelenjar pencernaan di luar saluran pencernaan (hati dan pancreas). Struktur saluran pencernaan tiap vertebrata berbeda-beda atau disesuaikan dengan bentuk tubuh, jenis makanan, dan fungsi sistem pencernaan
(http://www.crayonpedia.org/mw/Alat_Pencernaan_Manusia,_Makanan,_dan_Kesehatan_5.1).
Sistem pencernaan berurusan dengan penerimaan makanan dan mempersiapkan untuk diasimilasi oleh tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus dan usus besar. Selain itu mulut memuat gigi untuk mengunyah makanan, dan lidah yang membantu untuk cita rasa dan menelan. Beberapa kelenjar atau kelompok kelenjar menuangkan cairan pencernaan penting ke dalam saluran pencernaan (Pearce, 2004: 176).
Sebagian besar proses pencernaan dan hampir semua diabsorbsi, hasil pencernaan di dalam usus. Enzim yang bekerja dalam usus dihasilkan oleh pankreas dan otot sel-sel epitel yang melapisi usus. Luar permukaan untuk absorbsi cukup besar karena panjangnya usus dan lipatan-lipatan yang terdapat pada lapisannya (Ville, 1998: 150).
Lidah merupakan organ tubuh berotot kerangka yang dibalut oleh selaput lendir, berfungsi untuk menahan, membantu mencerna serta menelan makanan. Selaput lendirnya memiliki epitel pipih banyak lapis dengan stratum korneum yang berbeda tebalnya. Pada punggung lidah, epitel cukup tebal sedangkan pada permukaan bawah tipis dan mungkin tidak bertanduk. Punggung lidah terisi papil makroskopik yang membentuk papil-papil lidah (Delmann, 1992: 323).
Agar sari makanan yang terdapat dalam makanan berguna bagi tubuh, maka makanan itu harus dicerna terlebih dahulu. Proses pencernaan berlangsung di dalam saluran pencernaan makanan. Proses pencernaan berlangsung dimulai di rongga mulut. Di dalam rongga mulut makanan di potong-potong oleh gigi seri dan di kunyah oleh gigi geraham, sehingga makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, proses pencernaan makanan semacam ini disebut pencernaan mekanik (Irianto, 2004: 169).
Sistem pencernaan pada manusia terdiri dari beberapa organ antara lain: mulut dilakukan pencernaan secara mekanik oleh gigi dan kimiawi oleh lidah yang dihasilkan kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis yang mengandung enzim amilase (ptialin) (free.usku.org/./00/Biologi 2-56-htm).











BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 18 Mei 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah torso organ-organ sistem pencernaan.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Saluran Pencernaan

Keterangan:
1. Rongga mulut
2. Kelenjar parotis
3. Faring
4. Esofagus
5. Lambung
6. Kardia
7. Spinkter pilorus
8. Usus halus
9. Usus besar
10. Hati
11. Rektum
12. Anus



















2. Struktur lambung

Keterangan:
1. Lambung
2. Esofagus
3. Kardia
4. Fundus
5. Pilorus
6. Spinkter
7. Kurvatura minor
8. Lapisan serosa
9. Lapisan longitudinal
10. Lapisan sirkular
11. Lapisan oblik
12. Epitel
13. Pita lambung
14. Sel parietal
15. Pila lambung
16. Permukaan epitelium
17. Kelenjar lambung
18. Sel mukosa lambung
19. Parietal
20. Inti sel














3. Struktur hati




























Keterangan:
1. Ampula 8. Hepatik
2. Empedu 9. Kupffer
3. Sel-sel 10. Hepar
4. Sistik 11. Pankreas
5. Duktus 12. Pankreatik
6. Duodenum 13. Sinusoid
7. Kandung empedu



4. Struktur usus besar

Keterangan:
1. Fleksura kolonik kanan
2. Kolon asendens
3. Haustrum
4. Katup iliosekal
5. Ileum
6. Sekum
7. Apendiks vermiformis
8. Fleksura kolonik kiri
9. Kolon transversum
10. Kolon desendens
11. Koli taenia
12. Kolon sigmoid
13. Rektum
14. Sfingter ani eksternal
15. Kanalis ani
















5. Penampang gigi

Keterangan:
1. Email
2. Dentin
3. Pulpa
4. Gusi
5. Tulang
6. Saluran akar gigi
7. Semen
8. Mahkota
9. Leher
10. Akar
11. Saraf
12. Pembuluh darah


























6. Penampang mulut

Keterangan:
1. Kelenjar parotis
2. Bagian aksesoris kelenjar parotis
3. Duktus parotis
4. Korpus mandibula
5. Kelenjar submandibular
6. Duktus submandibular
7. Kelenjar sublingual
8. Ostium duktus submandibular
9. Membran mukosa





















B. Pembahasan
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia, diantaranya adalah makanan. Makanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia. Melalui makanan, manusia dapat memperoleh nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Nutrisi tersebut berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan garam mineral. Sistem pencernaan manusia terdiri atas saluran dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan merupakan saluran yang dilalui bahan makanan. Kelenjar pencernaan adalah bagian yang mengeluarkan enzim untuk membantu mencerna makanan. Saluran pencernaan antara lain sebagai berikut.
Mulut. Di dalam rongga mulut, terdapat gigi, lidah, dan kelenjar air liur (saliva). Gigi terbentuk dari tulang gigi yang disebut dentin. Struktur gigi terdiri atas mahkota gigi yang terletak diatas gusi, leher yang dikelilingi oleh gusi, dan akar gigi yang tertanam dalam kekuatan-kekuatan rahang. Mahkota gigi dilapisi email yang berwarna putih. Kalsium, fluoride, dan fosfat merupakan bagian penyusun email. Untuk perkembangan dan pemeliharaan gigi yang bai, zat-zat tersebut harus ada di dalam makanan dalam jumlah yang cukup. Akar dilapisi semen yang melekatkan akar pada gusi. Ada tiga macam gigi manusia, yaitu gigi seri (insisor) yang berguna untuk memotong makanan, gigi taring (caninus) untuk mengoyak makanan, dan gigi geraham (molar) untuk mengunyah makanan. Dan terdapat pula tiga buahkelenjar saliva pada mulut, yaitu kelenjar parotis, sublingualis, dan submandibularis. Kelenjar saliva mengeluarkan air liur yang mengandung enzim ptialin atau amilase, berguna untuk mengubah amilum menjadi maltosa. Pencernaan yang dibantu oleh enzim disebut pencernaan kimiawi. Di dalam rongga mulut, lidah menempatkan makanan di antara gigi sehingga mudah dikunyah dan bercampur dengan air liur. Makanan ini kemudian dibentuk menjadi lembek dan bulat yang disebut bolus. Kemudian bolus dengan bantuan lidah, didorong menuju faring.
Faring dan esofagus. Setelah melalui rongga mulut, makanan yang berbentuk bolus akan masuk kedalam tekak )faring). Faring adalah saluran yang memanjang dari bagian belakang rongga mulut sampai ke permukaan kerongkongan (esophagus). Pada pangkal faring terdapat katup pernapasan yang disebut epiglottis. Epiglotis berfungsi untuk menutup ujung saluran pernapasan (laring) agar makanan tidak masuk ke saluran pernapasan. Setelah melalui faring, bolus menuju ke esophagus; suatu organ berbentuk tabung lurus, berotot lurik, dan berdidnding tebal. Otot kerongkongan berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan meremas yang mendorong bolus ke dalam lambung. Gerakan otot kerongkongan ini disebut gerakan peristaltik.
Lambung. Otot lambung berkontraksi mengaduk-aduk bolus, memecahnya secara mekanis, dan mencampurnya dengan getah lambung. Getah lambung mengandung HCl, enzim pepsin, dan renin. HCl berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang masuk berasama bolus akan mengaktifkan enzim pepsin. Pepsin berfungsi untuk mengubah protein menjadi peptone. Renin berfungsi untuk menggumpalkan protein susu. Setelah melalui pencernaan kimiawi di dalam lambung, bolus menjadi bahan kekuningan yang disebut kimus (bubur usus). Kimus akan masuk sedikit demi sedikit ke dalam usus halus.
Usus halus. Usus halus memiliki tiga bagian yaitu, usus dua belas jari (duodenum), usus tengah (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Suatu lubang pada dinding duodenum menghubungkan usus 12 jari dengan saluran getah pancreas dan saluran empedu. Pankreas menghasilkan enzim tripsin, amilase, dan lipase yang disalurkan menuju duodenum. Tripsin berfungsi merombak protein menjadi asam amino. Amilase mengubah amilum menjadi maltosa. Lipase mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Getah empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung dalam kantung empedu. Getah empedu disalurkan ke duodenum. Getah empedu berfungsi untuk menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Selanjutnya pencernaan makanan dilanjutkan di jejunum. Pada bagian ini terjadi pencernaan terakhir sebelum zat-zat makanan diserap. Zat-zat makanan setelah melalui jejunum menjadi bentuk yang siap diserap. Penyerapan zat-zat makanan terjadi di ileum. Glukosa, vitamin yang larut dalam air, asam amino, dan mineral setelah diserap oleh vili usus halus; akan dibawa oleh pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Asam lemak, gliserol, dan vitamin yang larut dalam lemak setelah diserap oleh vili usus halus; akan dibawa oleh pembuluh getah bening dan akhirnya masuk ke dalam pembuluh darah.
Usus besar. Bahan makanan yang sudah melalui usus halus akhirnya masuk ke dalam usus besar. Usus besar terdiri atas usus buntu (appendiks), bagian yang menaik (ascending colon), bagian yang mendatar (transverse colon), bagian yang menurun (descending colon), dan berakhir pada anus. Bahan makanan yang sampai pada usus besar dapat dikatakan sebagai bahan sisa. Sisa tersebut terdiri atas sejumlah besar air dan bahan makanan yang tidak dpat tercerna, misalnya selulosa. Usus besar berfungsi mengatur kadar air pada sisa makanan. Bil kadar iar pada sisa makanan terlalu banyak, maka dinding usus besar akan menyerap kelebihan air tersebut. Sebaliknya bila sisa makanan kekurangan air, maka dinding usus besar akan mengeluarkan air dan mengirimnya ke sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat banyak sekali mikroorganisme yang membantu membusukkan sisa-sisa makanan tersebut. Sisa makanan yang tidak terpakai oleh tubuh beserta gas-gas yang berbau disebut tinja (feses) dan dikeluarkan melalui anus. Proses Pencernaan Makanan Pencernaan adalah proses menghancurkan makanan dari substansi yang kompleks menjadi sederhana. Ini dilaksanakan oleh enzim-enzim tertentu yang dihasilkan oleh alat pencernaan itu sendiri. Pencernaan makanan, berdasarkan proses pencernaannya dapat dibedakan menjadi 6 (enam) proses terpisah yaitu: menaruh makanan di mulut (proses injesti); Pencernaan secara mekanik dengan menggunakan gigi untuk mengunyah, merobek, memotong, dan menghancurkan makanan (proses mastikasi); pencernaan dengan menambahkan kimiawi (asam, empedu, enzim, dan air) untuk memecah molekul kompleks menjadi struktur sederhana (proses pencernaan kimiawi). Secara enzimatis menggunakan enzim untuk mencerna makanan. Enzim sebagai biokatalisator berperan memecah ikatan molekul-molekul zat-zat makanan dari rantai panjang menjadi rantai pendek; penyerapan yaitu proses perpindahan nutrien dari saluran pencernaan ke sistem sirkulasi dan limfatik melalui osmosis, transport aktif, dan difusi; pencernaan secara mikrobiotis menggunakan mikroorganisme untuk mencerna makanan; penyingkiran yaitu proses pengeluaran material yang tidak dicerna dari saluran pencernaan melalui defekasi.
Proses pencernaan dimulai sejak dari mulut. Namun sebagian besar proses pencernaan terjadi di dalam lambung dan usus. Ketika makanan dimasukkan ke dalam mulut, maka akan merangsang produksi air liur untuk melumatnya menjadi bentuk cair. Pada saat mengunyah, gigi memotong-motong makanan, maka airliur (saliva) akan membantu melumatnya. Saliva akan bertambah banyak jika sedang berselera terhadap suatu makanan. Proses di dalam mulut ini untuk mempersiapkan makanan agar mudah ditelan selanjutnya melewati kerongkongan menuju ke lambung. Makanan di lambung akan dicerna oleh asam lambung dan enzim-enzim pencernaan menjadi lebih sempurna, dan akan disempurnakan ketika telah sampai di usus halus. Makanan selanjutnya diubah menjadi molekul yang dapat diserap usus halus ke dalam aliran darah. Selanjutnya dibawa ke hati untuk diolah dan dimanfaatkan oleh seluruh bagian tubuh. Hasil inilah yang memberikan hidup, pertumbuhan dan energi atau tenaga pada tubuh. Sisa sari makanan yang berupa ampas selanjutnya dialirkan ke usus besar. Di situ mengalami proses pembusukan menjadi lebih padat lalu didorong dan menumpuk di rektum yang akhirnya ditahan oleh otot dubur. Tergantung jenis makanan yang dikonsumsi, tenggang waktu waktu penuhnya dan volume sisa makanan tersebut sampai merangsang reflek berak. Bisa satu hari, dua hari sampai lima hari baru dikeluarkan saat buang air besar.
Hasil akhir proses pencernaan adalah terbentuknya molekul-molekul atau partikel-partikel makanan yakni: glukosa, asam lemak, dan asam amino yang siap diserap (absorpsi) oleh mukosa saluran pencernaan. Selanjutnya, partikel-partikel makanan tersebut dibawa melalui sistem sirkulasi (transportasi) untuk diedarkan dan digunakan oleh sel-sel tubuh sebagai bahan untuk proses metabolisme (assimilasi) dan hasil akhirnya digunakan sebagai sumber tenaga(energi), zat pembangun (struktural), dan molekul-molekul fungsional (hormon, enzim) dan keperluan tubuh lainnya.
Pencernaan karbohidrat. Pencernaan karbohidrat di mulut terjadi karena dengan adanya air liur yang mengandung enzim ptyalin (amilase) yang berperan mengubah amilum menjadi polisakarida sederhana. Pencernaan karbohidrat di lambung dengan adanya asam lambung, lendir dan pepsin, tanpa mengalami pencernaan enzimatik. Pencernaan karbohidrat di usus halus terutama di dalam duodenum terdapat amylase pankreas untuk memecah polisakarida sederhana menjadi disakarida. Disakarida selanjutnya akan dicerna oleh disakaridase menjadi monosakarida (glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Proses penyerapan (absorpsi) karbohidrat melalui mekanisme difusi fasilitasi oleh hormon insulin, terutama di duodenum dan jejenum.
Pencernaan lemak. Lemak makanan selama berada di dalam saluran pencernaan akan mengalami pencernaan sebagai berikut: Lemak dicerna di mulut oleh lipase yang dihasilkan kelenjar Ebner’s yang terdapat pada permukaan atas lidah yang dikenal sebagai lipase lingual (lidah). Lipase ini bekerja aktif di lambung dan mencerna lemak sekitar 20- 30%. Di lambung lemak dicerna oleh lipase lambung (gastric lipase). Enzim ini kurang memiliki peranan penting kecuali pada gangguan pankreas.
Pencernaan lemak di usus halus terutama terjadi di duodenum dimana terdapat muara saluran cairan empedu yang berasal dari hati atau kantung empedu. Lemak makanan setelah diemulsifikasikan oleh garam empedu menjadi larut air (hidrofilik) sehingga demikian memungkinkan enzim lipase pankreas bekerja. Lemak makanan setelah dicerna secara enzimatis oleh lipase pankreas menjadi asam lemak dan gliserol dan berubah menjadi butiran-butiran lemak yang disebut micelle. Micelle ini kemudian menempel pada sel mukosa usus halus dan selanjutnya masuk ke dalam sel mukosa (diabsorpsi) secara difusi. Enzim lipase pankreas memegang peranan penting pada pencernaan lemak di dalam usus halus sebagai pemecah ikatan antara asam lemak dengan gliserol. pada rantai 1 dan 3 dari trigliserida sehingga dihasilkan 2 mol asam lemak dan gliserol. Kolesterol makanan dalam wujud sebagai kolesterol ester akan dihidrolisis oleh esterkolesterol hidrolase yang terdapat dalam getah pankreas menjadi kolesterol bebas. Kolesterol juga mengalami perubahan menjadi ester kolesterol. Absorpsi asam lemak paling banyak terjadi di usus halus bagian atas yaitu bagian duodenum dan jejenum, dan sebagian kecil di ileum. Asam lemak setelah diserap oleh sel mukosa usus halus dengan cara difusi, kemudian di dalam sel mukosa asam lemak dan gliserol mengalami resintesis (bergabung lagi) menjadi trigliserida. Trigliserida dan ester kolesterol bersatu diselubungi oleh protein menjadi kilomikron (chylomicron). Protein penyusun selubung kilomikron disebut apoprotein. Selubung protein berfungsi mencegah bersatunya molekul-molekul lemak dan membentuk bulatan besar yang dapat mengganggu sirkulasi darah. Kilomikron keluar dari sel mukosa usus secara eksositosis (kebalikan dari pinositosis) kemudian diangkut lewat sistem limfatik (duktus thoracicus → cysterna chili) dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah (vena subclavia). Kadar kilomikron dalam plasma darah meningkat 2 - 4 jam setelah makan. Sedangkan gliserol langsung dialirkan ke pembuluh darah.
Pencernaan protein. Pencernaan protein secara sistematik dapat dijelaskan sebagai berikut : Di mulut protein, dicerna secara mekanis, sedangkan secara enzimatis belum. Di lambung protein, dicerna oleh asam lambung (HCl) dan enzim pepsin. Protein setelah didenaturasi (dirusak) oleh HCl, kemudian dihidrolisis menjadi peptida sederhana. Di usus halus, protein dicerna oleh cairan pankreas yang mengandung proenzim tripsinogen dan kimotripsinogen. Enzim tripsin dan kimotripsin berperan memecah polipeptida menjadi peptida sederhana. Selanjutnya peptida tersebut dipecah sehingga akhirnya menjadi asam amino peptidase (erepsin). Setelah menjadi asam amino selanjutnya diserap (absorpsi) oleh lapisan mukosa usus jejenum dan ileum. Asam amino yang berasal dari makanan (diet) dan dari pemecahan protein tubuh selanjut dibawa oleh sirkulasi darah ke dalam amino acid pool gudang penimbunan asam amino yaitu darah dan cairan jaringan (interseluler).


















BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Anatomi saluran pencernaan yaitu mulut, diselaputi oleh selaput lendir yang ditutupi oleh epitelium berlapis-lapis; esofagus, lambung, usus halus dan usus besar memiliki struktur dan anatomi yang serupa yakni lapisan selaput lendir, lapisan otot (melingkar, miring, panjang), lapisan submukosa dan lapisan mukosa serta tersusun atas otot polos.
2. Saliva (ludah) dihasilkan oleh kelenjar ludah di mulut. Saliva ini mengandung enzim amilase yang berperan mengubah pati menjadi sakarida sederhana.
3. Gerakan peristaltik yaitu gerakan meremas-remas dan mendorong makanan oleh otot longitudinal dan sirkuler yang berkontraksi.
4. Kardia merupakan bagian lambung yang berbatasan langsung dengan kerongkongan, sedangkan pilorus merupakan bagian lambung yang berbatasan langsung dengan duodenum, dan spinkter pilori merupakan katup pembatas antara pilori dengan duodenum yang berfungsi agar bahan makanan di usus tidak kembali ke lambung.
5. Ulkus peptikum merupakan penyakit pada lambung yang disebabkan oleh kuman Helicobacter pylorii. Penyakit ini ditemukan terutama pada lambung dan duodenum.
6. Empedu dibentuk di dalam sela-sela kecil di dalam sel hepar melalui kapiler empedu yang halus/korekuli. Empedu disintesis dari kolesterol dan asam amino.
7. Empedu berperan dalam metebolisme lemak, yakni mengemulsikan lemak.
8. Kelenjar endokrin mensekresikan hormon insulin dan glukogen untuk mengatur metabolisme, oksidasi, dan meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus.
9. Pencernaan karbohidrat: di mulut oleh enzim amilase; di lambung oleh HCl, lendir dan pepsin; di duodenum oleh amilase pankreas. Absorbsi melalui mekanisme difusi fasilitasi di duodenum dan jejenum. Pencernaan lemak: di mulut oleh lipase; di lambung oleh lipase lambung; di usus halus oleh cairan empedu. Absorbsi secara difusi oleh mukosa usus. Pencernaan protein: di mulut secara mekanik; di lambung oleh HCl dan pepsin; di usus halus oleh tripsinogen dan kimotripsinogen serta erepsin. Hasil akhir proses pencernaan adalah glukosa, asam lemak dan asam amina. Setelah di absorbsi oleh mukosa di usus, selanjutnya di bawa oleh darah ke sel-sel tubuh melalui sistem sirkulasi dan digunakan untuk sumber energi dan keperluan tubuh lainnya.

B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan kali ini adalah agar pada praktikum selanjutnya agar pihak laboran dapat menyiapkan lebih banyak lagi charta tentang sistem pencernaan, sehingga masing-masing kelompok mendapatkan 1 charta, yang mana hal ini akan memudahkan baik asisten maupun praktikan dalam melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Delmann, 1992. Buku Teks Histologi Veteriner. UI Press. Jakarta.

Irianto, K., 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Yrama Widya. Bandung.

Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Ville, 1998. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. EGC. Jakarta.

free.usku.org/./00/Biologi 2-56-htm

http://www.crayonpedia.org/mw/Alat_Pencernaan_Manusia,_Makanan,_dan_Kesehatan_5.1

LAPORAN ANFISMAN (SISTEM OTOT)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Otot merupakan suatu organ /alat yang dapat bergerak ini adalah suatu penting bagi organisme. Otot dikatakan sebagai alat gerak aktif. Gerakan tersebut disebabkan karena kerja sama antara otot dan tulang. Tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidak digerakan oleh otot. Otot mampu menggerakan tulang karena mempunyai kemampuan berkontraksi. Dalam kehidupan sehari-hari otot dikenal sebagai daging.
Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh. Otot dikaitkan pada tulang-tulang rawan (kartilago), jaringan ikat sendi (ligamentum), dan kulit (integumen). Pada kulit dan rambut, hanya dapat bergerak bila digerakkan oleh otot. Peredaran atau transpor zat makanan dalam usus maupun darah di dalam pembuluh darah, secara tidak langsung juga digerakkan oleh otot. Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan berurutan.rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memeprkuat rangsangan kedua . dengan demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum . tonus yang maksimum terus – menerus disebut tetanus. Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh, otot dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
Berdasarkan uraian di atas untuk lebih memahami tentang Sistem Otot, maka perlu diadakannya suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat menjelaskan struktur dan kontrol tiga tipe otot yang berbeda.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan anatomi mikroskopik tentang unit kontrakbilitas otot.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan teori kompleks aktomiosin.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang kontraksi tunggal otot secara detail.
5. Mahasiswa dapat menganalisa otot utama berdasarkan asal, insersi, dan fungsinya.
6. Mahasiswa dapat membedakan antara otot antagonis dan sinergis.
7. Mahasiswa dapat membuat diagram dan memberikan nama sinap neuromuscular.
8. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang motor end – plate.



C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem otot, baik fungsinya, cara kerjanya maupun tipe/macamnya.
2. Kita dapat mengetahui tentang diagram neuromuscular.
3. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Otot merupakan suatu organ/alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak. Ini adalah suatu sifat penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma mengubah bentuk (lihat cara pergerakan amuba). Pada sel-sel, sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot mendapat rangsangan maka miofibril akan memendek. Dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya ke arah tertentu (berkontraksi). Dalam garis besarnya sel otot dapat kita bagi dalam tiga golongan, yaitu: otot motoritas, otot otonom, dan otot jantung (Syaifuddin, 2006: 87).
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuan berkontraksi . oto memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Kontraksi otot terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan, sedangkan relaksasi otot terjadi jika otot sedang beristirahat. Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu: Kontraksibilitas yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek dari ukuran semula, hal ini teriadi jika otot sedang melakukan kegiatan. Ektensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan lebih panjang dari ukuran semula. Elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula.
Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filament aktin dan filament miosin. Filamen aktin tipis dan filament miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril. Miofibril menyusun serabut otot dan serabut otot-serabut otot menyusun satu otot
(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/c3/Otot_rangka.jpg/300px-
Otot_rangka.jpg).
Otot kerangka tidak bekerja sendiri-sendiri tetapi dalam kelompok-kelompok untuk melaksanakan gerakan dari berbagai bagian kerangka. Setiap kelompok berlawanan dengan yang lain dinamakan otot antagonis. Flexor adalah antagonis dan extensor, dan abduktor dari adduktor. Beberapa kelompok bekerja untuk menstabilkan bagian-bagian anggota sewaktu bagian lain bergerak: ini disebut otot fixasi. Lain lagi menguatkan sendi sementara yang lain bergerak, sebagaimana flexor dari otot pergelangan tangan menguatkan sewaktu jari diluruskan. Ini disebut sinergis (Pearce, 2004: 102).
Dalam tubuh terdapat tiga macam jaringan otot yaitu otot polos, otot serat lintang involunter dan otot serat lintang volunter. Otot polos tidak memperhatikan adanya garis-garis melintang dan terdapat pada sistem-sistem yang menjalankan fungsinya secara otomatis. Otot polos terdapat pada dinding treatus digestivus yang berperan dalam aktivitas gerak. Serabut otot tersusun sebagai berkas yang dibungkus oleh jaringan fibrosa, jaringan pengikat di antara masing-masing serabut otot disebut endomisium (Frandson, 1992: 137).
Tiga macam otot yang berbeda terdapat pada Vertebrata, yang adalah otot jantung yaitu otot yang menyusun dinding jantung. Otot polos terdapat pada dinding semua organ tubuh yang berlubang (kecuali jantung). Kontraksi otot polos pada umumnya tidak terkendali, memperkecil ukuran struktur-struktur yang berlubang ini. Pembuluh darah, usus, kandung kemih, dan rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang dinding sebagian besar terdiri dari otot polos. Jadi kontraksi otot polos melaksanakan bermacam tugas seperti meneruskan makanan kita dari mulut ke saluran pencernaan, mengeluarkan urin dan pada kerangka, otot ini dikendalikan secara sengaja (Kimball, 1983: 697).
Jaringan otot terdiri dari sel yang berbeda-beda dan mengandung protein kontraktil. Struktur biologi dari protein ini membangkitkan tekanan yang dibutuhkan untuk kontraksi seluler yang menimbulkan gerakan di antara organ tertentu dan tubuh sebagai suatu kesatuan, kebanyakan sel otot berasal dari mesoderm dan deferensiasinya terutama terjadi melalui proses pemanjangan secara berangsur-angsur disebut pembuatan protein miofibril (Kelley, 1995: 10).
Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunvai jalur-jalur melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop) yang tersusun berselang-selang. Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai banvak inti. Otot rangka dapat berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali - kali. Otot rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia super fasialis (http://www.docstoc.com/docs/25972416/Sistem-Alat-Gerak).



BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 18 Mei 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alat peraga alat peraga persendian dan torso persendian.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Macam – Macam Otot
a. Otot Lurik
Keterangan:
1. Inti sel
2. Miofibril












b. Otot Polos

Keterangan:
1. Inti sel
2. Berkas otot polos











c. Otot Jantung

Keterangan:
1. Inti sel
2. Endomisium
3. Keping-keping interkalar











2. Otot Berdasarkan Letak dan Asalnya

a. Otot kepala dan leher

Keterangan:
1. Aponeurosis epikranial
2. Temporalis
3. Oksipitalis
4. Sternoklei-domastoidea
5. Frontalis
6. Orbikularis okuli
7. Zigomatikus
8. Bukinator
9. Orbikularis oris
10. Maseter





b. Otot Leher, toraks, dan abdomen (anterior)

Keterangan:
1. Sternoklei-domastoideus
2. Amohioid (inferior belly)
3. Pektoralis mayor
4. Deltoid
5. Triseps brakii
6. Lasitimus dorsi
7. Seratus anterior
8. Oblique abdominal eksternal
9. Rektus abdomionis
10. Oblique abdominal internal
11. Interkostal eksternal
12. Sternotiroid
13. Trapezius
14. Sternohioid















c. Otot badan (anterior)

Keterangan:
1. Sternoklei-domastoid
2. Trapezius
3. Deltoid
4. Pektoralis mayor
5. Seratus anterior
6. Linea laba
7. Oblique eksternal
8. Aponeurosis oblique eksternal
9. Interkostalis eksternal
10. Interkostalis internal
11. Pektoralis minor
12. Rektus abdominis
13. Oblique internal
14. Abdominis transversum














d. Otot-otot punggung

Keterangan:
1. M. sternoklei-domastoideus
2. M. spenius kapitis
3. M. rom-boideus minor
4. M. levator skapula
5. M. teres mayor
6. M. infra-spinatus fasia
7. Fasia tora-kolumbalis
8. M. latisimus dorsi
9. Fasia tora-kolumbalis abdominis
10. M. oblique eksternus
11. Krista iliaka
12. M. obliqus internus abdominis
13. M. seratus posterior inferior
14. M. seratus anterior
15. M. latisimus dorsi
16. M. seratus posterior superior
17. Fascia deltoidea
18. M. rom-boideus mayor

e. Otot-otot bahu kanan dan lengan

Posterior

Keterangan:
1. Levator skapula
2. Supraspinatus
3. Spina skapula
4. Infraspinatus
5. Deltoid
6. Kaput longus dari trisep brakii
7. Triseps brakii kaput lateral
8. Teres minor
9. Teres mayor

























Anterior

Keterangan:
1. Trapezius
2. Klavikula
3. Deltoid
4. Kaput minus dari biseps brakii
5. Kaput longus dari biseps brakii
6. Biseps brakii
7. Brakialis
8. Batas medial skapula
9. Subskapularis


























g. Otot lengan bawah kanan

Anterior

Keterangan:
1. Biseps brakii
2. Brakialis
3. Supinator
4. Pronator teres
5. Brakioradialis
6. Fleksor karpi radialis
7. Palmaris longus
8. Ekstensor karpi radialis longus
9. Fleksor digitorum profundus
10. Fleksor karpi ulnaris


Posterior

Keterangan:
1. Trisep brakii
2. Brakioradialis
3. Ekstensor karpi radialis longus
4. Fleksor karpi ulnaris
5. Ekstensor digitorum
6. Ekstensor karpi ulnaris





h. Otot-otot paha kanan dan pelvis

Anterior

Keterangan:
1. Iliopsoas
2. Tensor fasialata
3. Traktus tendon iliotibial
4. Sartorius
5. Rektus femoralis
6. Vastus lateralis
7. Tendon dari quadrisep femoris
8. Patella
9. Adduktor longus
10. Adduktor magnus
11. Gracilis
12. Vastus medialis
















Posterior

Keterangan:
1. Gluteus medius
2. Gluteus maxsimus
3. Gracillis
4. Adduktor magnus
5. Semitendi-nosus
6. Semimem-branosus
7. Traktus iliotibial tendon
8. Biseps femoris
9. Ruang popliteal
10. Gastrok-nemius




















i. Otot-otot kaki kanan

Anterior

Keterangan:
1. Patella
2. Tibialis anterior
3. Peroneus longus
4. Ekstensor digitorium longus
5. Fleksor digitorium longus
6. Tibia
7. Soleus
8. Gastrok-nemius



Posterior

Keterangan:
1. Biseps femoris
2. Vastus lateralis
3. Kaput fibula
4. Tibialis anterior
5. Ekstensor digitorum longus
6. Peroneus tertius
7. Tendon Achilles
8. Peroneus longus
9. Soleus
3. Otot Berdasarkan Cara Kerjanya

a. Otot sinergis



















b. Otot antagonis




















4. Otot Berdasarkan Kepalanya

Otot kepala satu Otot kepala dua
(M. Fusiformis) (M. Biseps)


















Otot berperut dua Otot berkepala banyak
(M. biventer) (M. Planus)



















Otot berperut banyak Otot berserabut satu sisi
(M. Intersectus) (M. Semipennatus)



















Otot berserabut dua sisi
(M. Pennatus)














5. Otot Berdasarkan Kedudukannya

Keterangan:
1. Origo
2. Insertio
3. Humerus
4. Ulna
5. Radius



































6. Otot Berdasarkan Garis Lintangnya

Rektus Oblingus













Serratus Tranversus


























7. Diagram Neuromuscular


























Keterangan:
1. Syaraf motorik
2. Otot
3. Neuron motorik
4. Ujung syaraf motorik
5. Vesikel asetilkolin
6. Celah sinaptik
7. Serabut otot berkontraksi
8. Vesikel asetilkolin yang terangsang oleh sinyal elektrik







B. Pembahasan
Otot merupakan sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh. Otot juga dikatakan alat gerak aktif. Gerakan tersebut disebabkan karena kerja sama antara otot dan tulang. Tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidak digerakan oleh otot. Otot mampu menggerakan tulang karena mempunyai kemampuan berkontraksi. Selain mampu berkontraksi (memendek) otot juga mampu berelaksasi. Jika otot berkontraksi tulang akan terangkat, dan otot disebut miofibril. Miofibril disusun oleh aktin dan miosin. otot memiliki 3 karakter, yaitu: kontraksibilitas yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek dari ukuran semula, hal ini teriadi jika otot sedang melakukan kegiatan; ektensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan lebih panjang dari ukuran semula; elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula. Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filament aktin dan filament miosin. Filamen aktin tipis dan filament miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril. Miofibril menyusun serabut otot dan serabut otot-serabut otot menyusun satu otot.
Berdasarkan jenisnya, otot dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu: otot polos, otot jantung, dan otot lurik (otot rangka). Otot polos adalah salah satu otot yang mempunyai bentuk yang polos dan bergelondong. Cara kerjanya tidak disadari (tidak sesuai kehendak) / invontary, memiliki satu nukleus yang terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada saluran pencernaan seperti lambung dan usus. Otot jantung hanya terdapat pada jantung. Otot ini merupakan otot paling istimewa karena memiliki bentuk yang hampir sama dengan otot lurik, yakni mempunyai lurik-lurik tapi bedanya dengan otot lurik yaitu bahwa otot lirik memiliki satu atau dua nukleus yang terletak di tengah/tepi sel. Otot jantung adalah satu-satunya otot yang memiliki percabangan yang disebut duskus interkalaris. Otot ini juga memiliki kesamaan dengan otot polos dalam hal cara kerjanya yakni involuntary (tidak disadari). Otot Lurik (otot rangka) merupakan jenis otot yang melekat pada seluruh rangka, cara kerjanya disadari (sesuai kehendak), bentuknya memanjang dengan banyak lurik-lurik, memiliki nukleus banyak yang terletak di tepi sel, contohnya otot pada lengan.
Otot rangka disebut juga dengan otot lurik, karena serabut kontraktilnya karena memantulkan cahaya berselang seling gelap dan terang berjajar terakhir membentuk pita vertikel terhadap poros otak. Sel atau serabut rangka berbentuk silindris. Setiap sel berinti banyak yang terletak di sekitar sarkoplasma. Otot rangka bekerja di bawah kesadaran sehingga disebut dengan otot voluntery. Kontraksinya cepat, kuat tetapi mudah lelah. Otot rangka biasanya melekat pada rangka, lidah, bibir, telinga, kelopak mata, dan diafragma.
Otot polos disebut juga otot otonom, karena protoplasmanya licin dan tidak mempunyai garis-garis melintang. Otot polos berbentuk seperti gelondong karena bagian tengahnya besar, sedangkan kedua ujungnya meruncing dan mempunyai inti sel yang terletak di tengah-tengah. Apabila dilihat dari sifat kerjanya, otot polos bergerak lamban dan dipengaruhi oleh saraf otonom. Dengan demikian otot polos bekerja di luar kesadaran kita. Otot ini terdapat pada organ-organ dalam, seperti ventrikulus, kandung kemih, pembuluh darah dan lain-lain.
Otot jantung menyerupai atau berbentuk otot serat melintang dimana di dalam sel protoplasmanya terdapat serabut-serabut melintang yang bercabang-cabang. Otot ini berbeda dengan otot rangka karena sel-selnya panjang. Inti selnya berbentuk lonjong dan berwarna pucat, dimana terletak di tengah-tengah serabut. Serabut otot jantung bergaris melintang, tetapi tidak sejelas dengan otot rangka. Otot jantung dapat bergerak sendiri secara otomatis, atau di luar kesadaran karena mendapat rangsangan dari luar (susunan otonom).
Sifat kerja otot dibedakan atas antagonis dan sinergis. Antagonis adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah: ekstensor( meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot bisep; abduktor (menjauhi badan) dan adduktor (mendekati badan), misalnya gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna; depresor (ke bawah) dan adduktor ( ke atas), misalnya gerak kepala merunduk dan menengadah; dan supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup. Sinergis adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah, contohnya pronator teres dan pronator kuadratus.
Berdasarkan letaknya otot dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu: otot kepala, otot leher, otot bahu, otot dada, otot perut, otot punggung, otot lengan dan otot paha.
Otot kepala. Otot ini dibagi menjadi 5 bagian yaitu; otot pundak kepala, yang fungsinya sebagian kecil membentuk gales apeneurotika yang disebut juga muskulus oksipitafrontalis yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu muskulus frontalis dan oksipitalis; otot wajah, terbagi atas otot mata, otot bola mata, otot lingkar mata, otot kelopak mata; otot mulut atau bibir dan pipi, terbagi atas otot sudut mata dan mulut yang berfungsi menarik sudut mulut ke bawah, otot bibir atas, muskulus kuadratus labil inferior yang terdapat pada dagu, muskulus buksinator, membentuk dinding samping rongga mulut dan muskulus zigomatikus; otot pengunyah, otot yang bekerja pada waktu mengunyah yang terdiri atas muskulus maseter, yang mengangkat rahang bawah pada saat mulut terbuka, muskulus temporalis yang mengangkat rahang bawah ke atas dan ke belakang, muskulus pterigoid intermus dan eksternus yang menarik rahang bawah ke depan; otot lidah sangat berguna dalam membantu panca indra untuk mengunyah yang terdiri atas muskulus geniglous yang mendorong lidah ke depan dan muskulus stiloglosus yang menarik lidah ke atas dan ke belakang.
Otot leher. Otot ini terdiri atas 3 bagian, yaitu; muskulus plastima terdapat di sampaing leher menutupi sampai bagian dada; muskulus sternokleidomastoid di samping kanan dan kiri leher ada suatu tendo yang sangat kuat yang fungsinya menarik kepala ke samping kiri dan kanan; muskulus longisimus kapitis yang terdiri dari splenus dan semipinalis kapitis. Ketiga otot ini terdapat di belakang leher, terbentang dari belakang kepala ke prosesus spinalis korakoid.
Otot bahu. Otot ini hanya meliputi sebuah sendi saja dan membungkus tulang pangkal lengan dan tulang belikat akromion yang teraba dari luar. Otot ini terdiri atas 6 yaitu muskulus deltoid (otot segitiga) yang membentuk lengkang bahu dan berpangkal di bagian sisi tulang kerangka ujung bahu, balung tulang belikat dan diafise tulang pangkal lengan; muskulus subsakapularis otot (otot depan tulang belikat) yang mulai bagian depan tulang belikat manuju taju pangkal lengan; muskulus supraspinatus (otot atas balung tulang belikat) yang berpangkal di lekuk sebelah atas menuju taju besar tulang pangkal lengan. Muskulus infrapinnatus (otot bawah balung tulang belikat) yang berpangkal di lekuk sebelah bawah balung tulang belikat dan menuju ke taju besar tulang pangkal lengan; muskulus teres mayor (otot lengan bulat besar) yang berpangkal di siku bawah tulang belikat dan menuju ke taju kecil tulang pangkal lengan; muskulus teres minor (lengan belikat kecil) yang berpangkal di siku sebelah luar tulang belikat dan menuju ke taju besar tulang pangkal lengan.
Otot dada. Terdiri dari otot dada besar (muskulus pektoralis mayor) yang berpangkal di ujung tengah tulang selangka, tulang dada dan rawan iga; otot dada kecil (muskulus pektoralis minor) yang terdapat di bawah otot dada besar yang berpangkal di iga 1, 4 dan 5 menuju ke prosesus karakoid; otot bawah selangka (muskulus subklavikula) yang terdapat di antara tulang selangka dan ujung iga 1, bagian dada atas sebelah bawah tulang klavikula; otot gergaji depan (muskulus seratus anterior) yang berpangkal di iga 1 dan menuju ke sisi tengah tulang belikat, tetapi tebanyak menuju ke bawah; otot dada sejati yaitu otot-otot sela iga luar dan otot-otot sela iga dalam.
Otot perut. Terdiri atas muskulus abdominis internal (dinding perut). Garis di tengah dinding perut dinamakan linea alba otot sebelah luar; lapisan sebelah luar sekali dibentuk oleh otot miring luar (muskulus obiqus eksternus abdominis) yang berpangkal pada iga V sampai iga yang ke bawah sekali; lapisan otot kedua di bawah otot dibentuk oleh otot perut dalam (muskulus obliqus internus abdominis), serabut miring menuju ke atas dan ke tengah; muskulus transversus abdominis yang merupaka xifoid menuju artikule ke kostal terus ke simfisis.
Otot punggung. Terdiri atas otot punggung bagian belakang, yang terdiri atas 3 bagian, yaitu otot yang ikut menggerakkan lengan di antaranya otot trapezius (otot kerudung) yang terdapat di semua fasa ruas-ruas tulang punggung; muskulus latismus dorsi (otot punggung lebar) yang berpangkal pada ruas tulang punggung yang kelima dari bawah fasia lumboid, tepi tulang punggung dan iga 3 ke bawah, gunanya menutupi ketiak bagian belakang; muskulus rumboid (otot belah ktupat), berpangkal dari taju duri, dari tulang leher V, ruas tulang punggung V, menuju ke pinggir tengah tulang belikat; otot antar tulang belakang dan iga yang bekerja menggerakkan tulang iga atau otot bantu pernapasan yang terdiri dari 2 otot yaitu muskulus seratus posterior inferior (otot gergaji ke belakang bawah) yang terletak di bawah otot punggung leher, berpangkal di fasia lumbodorsalis dan menuju iga V dari bawah, muskulus seratus posterior superior, terletak di bawah otot belah ketupat dan berpangkal di ruas tulang leher keenam dan ketujuh dari ruas tulang punggung yang kedua; otot punngung sejati yang terdiri dari muskulus interspinalis transversi dan muskulus semispinalis, terdapat di antara kiri dan kanan prosesus transversus dan prosesus spina, muskulus erektor spinal terletak di samping ruas tulang belakang kiri dan kanan, muskulus kuadratus lumborum, terletak antara krista iliaka dan tulang kosta.
Otot lenagan. Terdiri dari pangkal lengan atas dan bawah. Pangkal lengan atas yang terdiri dari otot ketat (fleksor) yaitu muskulus biseps brakii (otot berkepala dua). Otot ini meliputi 2 sendi dan 2 buah kepala; muskulus brankialis (otot lengan dalam) yang berpangkal di bawah otot segitiga di tulang pangkal lengan, muskulus korakobrakialis yang berpangkal di prosesus korakoid dan menuju ke tulang pangkal lengan; otot lengan bawah yang terdiri dari muskulus ekstensor karpi radialis longus, muskulus ekstensor karpi radialis brevis, muskulus ekstensor karpi ulnaris, muskulus karpi radialis, muskulus ekstensor polieis longus.
Otot paha. Mempunyai selaput pembungkus yang sangat kuat dan disebut fasia lata yang dibagi atas 3 golongan yaitu otot abduktor yang terdiri dari muskulus abduktor maldanus sebelah dalam, muskulus abduktor brevis sebelah tengah, dan muskulus abduktor longus sebelah luar; muskulus ekstensor (otot berkepala empat) merupakan yang terbesar yang terdiri dari muskulus rektus femoris, muskulus vastus lateralis eksternal, muskulus vastus medialis internal, muskulus vastus intermedial dan otot fleksor femoris.
Berdasarkan arah lintangnya terdiri dari 4 bagian, yaitu otot seratus, otot obliqus, otot rektus, dan otot transversus. Otot seratus merupakan otot yang arahnya membentuk cekungan otot setengah lingkaran yang mana otot ini biasanya ditemukan pada bagian anterior dari otot perut. Otot obliqus merupakan otot yang arahnya miring, yang mana otot ini ditemukan pada otot perut khususnya bagian kanan internus. Otot rektus merupakan otot yang arahnya lurus ke bawah yang membentuk sebuah garis sumbu yang ditemukan pada otot-otot perut khususnya pada bagian superior. Otot transversus merupakan otot yang arahnya mendatar membentuk sebuah garis horozontal dan baisanya ditemukan pada otot perut bagian medial.
Berdasarkan kepalanya, otot dibedakan atas muskulus fusiformis, muskulus biseps, muskulus biventer, muskulus intersectus, muskulus planus, muskulus semipennatus, dan muskulus pennatus.
Muskulus fusiformis (otot berkepala satu), dimana serat otot-ototnya berada di salah satu sisi otot yang membentuk suatu garis lurus dari atas ke bawah. Muskulus biseps (otot berkepala dua), otot ini membelah hingga membentuk 2 bagian dengan serat-sertanya terdapat pada bagian sisi pada batas pembelahan, terdapat pada otot lengan pada bisep, kepala yang panjang melekat di dalam sendi bahu, kepala yang pendek melekatnya di sebelah luar. Muskulus biventer (otot berperut dua), serabutnya menuju ke atas yang ikut membentuk kandung otot perut lurus yang mempunyai 4 buah urat melintang. Muskulus intersectus (otot berperut banyak), dimana setiap perut ada sekatnya yang dibatasi oleh serabut-serabut otot dengan berbagai arah. Muskulus planus (otot berkepala banyak) dengan arah serabut ototnya mendatar yang mana otot ini ditemukan pada otot-otot lengan yang mana urat-uratnya melekat pada bagian olikrani. Muskulus semipennatus (otot yang berserabut satu sisi), arah serat-serat ototnya mendatar dan berjumlah banyak. Muskulus pennatus (otot berserabut dua sisi) yang arah serabut-serabut otot mebentuk arah vertikal pada sebelah kiri dan kanan.
Cara kerja sinap Neuromuscular yaitu jika impuls menjalar ke neuron motor pada sistem sensorik somatik menyebabkan serabut-serabut otot kerangka berkontraksi di tempat berakhirnya. Sambungan di antara terminal suatu neuron motor dan serabut otot disebut sambungan Neuromuscular. Sifat-sifatnya cukup serupa dengan suatu sinapsis terminal akson motor yang mengandung beribu-ribu vesikel yang menyimpan asetilkolin. Bila suatu impuls saraf mencapai terminal akson, beratus-ratus vesikel mengeluarkan asetilkolin ke permukaan serabut otot , sehingga akan terjadi kontraksi otot.





BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan jenisnya, otot dibedakan menjadi 3 bagian yaitu; otot polos, otot lurik (otot rangka), dan otot jantung (otot kardiak).
2. Bila otot dirangsang maka timbul masa latent yang pendek yaitu sewaktu rangsangan diterima, kemudian otot berkontraksi yang berarti menjadi pendek dan tebal, dan akhirnya mengendor dan memendek kembali.
3. Aktomiosin terdiri dari aktin dan miosin yang sebagian besar saling bertautan sehingga menyebabkan miofibril memiliki pita terang dan gelap yang selang seling.
4. Kontraksi tunggal otot menyebabkan kontraksi singkat yang diikuti oleh relaksasi.
5. Cara kerja otot dibedakan menjadi 2 macam, yaitu; sinergis (cara kerja otot yang saling beriringan) dan antagonis (kerja otot yang saling berlawanan).
6. Sinap Neuromuscular merupakan saraf motorik sampai ke ujung serat saraf. Motor end-plate mengatur kontraksi aktivitas otot yang melibatkan ujung sensorik yang terdiri atas dua jenis yaitu gelondong otot saraf dan ujung saraf tendo.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan kali ini adalah agar pada praktikum selanjutnya laboratorium dapat menyiapkan bahan-bahan praktikum (dalam hal ini torso-torso otot) lebih lengkap, sehingga praktikan akan lebih mudah memahami serta mengetahui tentang sistem otot.
















DAFTAR PUSTAKA
Frandson, 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Kelley, R., 1995. Histologi Dasar. EGC. Jakarta.

Kimball, J. W., 1983. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/c3/Otot_rangka.jpg/300px-
Otot_rangka.jpg).

(http://www.docstoc.com/docs/25972416/Sistem-Alat-Gerak).

LAPORAN ANFISMAN (SISTEM ENDOKRIN)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar-kelenjar tersebut tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa kelenjar endokrin ada yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon ganda) dan ada yang menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal), misalnya kelenjar hipofisis sebagai pengatur kelenjar yang lain. Kelenjar-kelenjar endokrin ini pula memiliki peranan yang sangat penting, tetapi dengan fisiologis yang berbeda-beda, di dalam tubuh manusia berperan untuk menjaga keseimbangan aktivitas tubuh.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih memahami serta mengetahui tentang sistem endokrin (yang meliputi kelenjar beserta hormonnya), maka dilakukanlah suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme yang berbeda dari aksi hormon.
2. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara sistem saraf pusat dan kelenjar endokrin.
3. Mahasiswa dapat mengetahui aksi hormon pada sel.
4. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kelenjar endokrin dan menyebutkan fungsi dasarnya.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, sebagai berikut:
1. Kita dapat mengetahui tentang sistem endokrin beserta komponen-komponennya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau bahan bacaan pada praktikum ”Anatomi dan Fisiologi Manusia” selanjutnya.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar tanpa saluran atau kelenjar buntu digolongkan bersama di bawah nama organ endokrin, sebab yang dibuat tidak meninggalkan kelenjarnya melalui suatu saluran, tetapi langsung masuk ke dalam darah yang berbeda di dalam jaringan kelenjar. Beberapa organ endokrin menghasilkan 1 hormon tunggal, sedangkan yang lain lagi dua atau beberapa jenis hormon (Pearce, 2004: 232).
Kelenjae endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil ekskresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa ciri organ endokrin adalah yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon tunggal). Di samping itu juga ada yang menghasilkan lebih dari satu macam atau hormon ganda (Syaifuddin, 2006: 219).
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (duetless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai ”pembawa pesan” dan di bawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menterjemahkan ”pesan” tersebut menjadi suatu tindakan
(http://id.wikipedia.org//wiki/sistem-endokrin).
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasi kegiatan berbagai organ tubuh (http://medieasbore.com/optik-online/obat-metabolisme-dan-endokrin.html).
Kelenjar endokrin terdiri dari (1) kelenjar hipofise yang terletak di dalam rongga kepala dekat dasar otak; (2) kelenjar tiroid yang terletak di leher bagian depan; (3) kelenjar paratiroid dekat kelenjar tiroid; (4) kelenjar suprarenal yang terletak di kutub atas ginjal kiri-kanan; (5) pulau langerhans di dalam kelenjar pankreas (http://www.scribd.com/doc/18940970/Sistem-Endokrin.doc).
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namum mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempunyai/mempengaruhi kerja organ dalam sel
(www.docstoc.com/sistem-endokrin.doc).
Beberapa macam kelenjar endokrin: hipofisis (master of glands). Sebagian besar hormon yang dibentuknya memacu pengeluaran hormon lain. Dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Hipofisis Anterior
Hormon Somatotropin(untuk pembelahan sel, pertumbuhan), Hormon tirotropin(sintesis hormon tiroksin dan pengambilan unsur yodium), Hormon Adrenokortikotropin(merangsang kelenjar korteks membentuk hormon), Hormon Laktogenik(sekresi ASI), dan Hormon Gonadotropin( FSH pada wanita pemasakan folikel, pada pria pembentukan spermatogonium; LH pada wanita pembentukan korpus luteum,pada pria merangsang sel interstitial membentuk hormon testosteron).
b. Hipofisis Medula(membentuk hormon pengatur melanosit)
c. Hipofisis posterior
Hormon oksitosin(merangsang kontraksi kelahiran) dan Hormon Vasopresi (merangsang reabsorpsi air ginjal)
(http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1964214-sistem-endokrin/).












BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 Juni 2010, pukul 11.00 – 13.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Unit Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, alat tulis menulis.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah carta atau torso sistem endokrin.
C. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati bahan yang ada dan menggambar hasil pengamatan serta menunjukkan bagian-bagiannya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Letak Umum dari Kelenjar Endokrin Utama dalam Tubuh

Keterangan:
1. Adrenal
2. Hipofisis
3. Ovarium
4. Pankreas
5. Paratiroid
6. Testis
7. Timus
8. Tiroid

























2. Kelenjar Endokrin (hormon)

Keterangan:
Hormon
1. Tireotrop
2. Paratireotrop
3. Prolaktin
4. Adrenotrop
5. Antideuretik, vasopresin, oksitosin
6. Oksitosin
7. Gonadotrop
8. Tiroksin, kalsitonin
9. Parathormon
10. Timosin
11. Air susu
12. Gastin
13. Insulin, glukagon
14. Sekretin, koksikotinin
15. Kortin, aldosteron, adrenalis, androgen
16. Angiostensin
17. Progesteron, estradiol, relaksin, ovum
18. Korinik gonadotropin
19. Testosteron, sperma








3. Mekanisme Aksi Hormon










































4. Kontrol Umpan Balik dari Aktivitas Kelenjar










































B. Pembahasan
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone. Berasal dari sel-sel epitel yang melakukan proliferasi kea rah pengikat sel epitel yang telah berproliferasi dan membentuk sebuah kelenjar endokrin, tumbuh dan berkembang dalam pembuluh kapiler. Dalam keadaan fisiologis hormon mempunyai pengaturan sendiri sehingga kadarnya selalu dalam keadaan optium untuk menjaga keseimbangan dalam organ yang berada di bawah pengaruhnya, mekanisme pengaturan ini disebut sistem umpan balik negative.
Kelenjar endokrin memiliki beberapa fungsi yaitu menghasilkan hormone yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu, mengontrol aktivitas kelenjar tubuh, merangsang aktivitas kelenjar tubuh, merangsang pertumbuhan jaringan, mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus, mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.
Kelenjar endokrin di dalam tubuh manusia dapat dibedakan atas beberapa kelenjar, yaitu kelenjar hipofise, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar timus, kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar kelamin.
Kelenjar hipofise. Terletak di dasar tengkorak, di dalam fossa hipofisis tulang sphenoid. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus yaitu lobus anterior dan lobus posterior. Lobus anterior (denohipofise) menghasilkan sejumlah hormon yang disebut hormon somatotropik yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan tubuh, hormon tirotropik berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan tiroksin, hormon adrenokortikotropik (ACTH) berfungsi mengendalikan kelenjar suprarenal, hormon gonadotropik yang berasal dari Folicle Stimulating Hormone (FSH) yang merangsang perkembangan folikel Graaf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dlm testis, Luteinizing Hormone (LH) berfungsi mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis, dan Intertitial Cell Stimulating Hormone (ICSH). Sedangkan lobus posterior (neurohipofise) mengeluarkan dua jenis hormon yaitu hormon antidiuretik (ADH) yang berfungsi mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal dn hormon oksitoksin yang berfungsi merangsang dan menguatkan kontraksi uterus sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui.
Kelenjar tiroid. Terdiri atas dua lobus yang terletak di sebelah kanan trakea, diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring. Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium silider, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan cairan yang bersifat lekat yaitu koloid tiroid yang mengandung zat senyawa yodium. Kelenjar ini memiliki beberapa fungsi diantaranya bekerja sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksidasi, mengatur pengeluaran karbondioksida, metabolik dalam hati, pengaturan susunan kimia dalam jaringan dan pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental. Kelenjar ini juga menghasilkan hormon tiroksin yang memegang peranan penting dalam mengatur metabolisme yang dihasilkannnya, merangsang laju sel-sel dalm tubuh melakukan oksidasi terhadap bahan makanan, memegang peranan penting dalam pengawasan metabolisme secara keseluruhan.
Kelenjar paratiroid. Terletak di setiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher. Kelenjar ini berjumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan hormon paratiroksin, yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh.
Kelenjar timus. Terletak di dalam toraks, kira-kira pada ketinggian befurkasi trakea. Warnanya kemerah-merahan dan terdiri atas dua lobus. Pada bayi yang baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram tau lebih sedikit, ukurannya bertambah pada masa remaja beratnya dari 30 – 40 gram dan kemudian mengerut lagi. Fungsinya belum diketahui, tetapi diperkirakan ada sangkutnya dengan produksi antibodi.
Kelenjar adrenal (kelenjar suprarenal). Jumlahnya ada dua, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5 – 9 gram. Kelenjar ini terbagi atas dua bagian yaitu bagian luar (korteks) yang berwarna kekuningan menghasilkan kortisol dan bagian medula menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin). Fungsi bagian korteks yaitu mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam, mengatur metabolisme lemak, hidrat arang dan protein, serta mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid. Bagian medula berfungsi dalam kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi pendarahan pada operasi kecil, vasokontriksi pembuluh darah perifer, dan relaksasi bronkus. Hormon adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati. Beberapa hormon penting yng disekresikan korteks adrenal adalah hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron. Semuanya bertalian erat dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi ginjal, dan kondisi otot.
Kelenjar pankreas. Terdapat di belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alfa dan beta. Sel alfa menghasilkan hormon glukagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon insulin yang berfungsi mencegah penyakit diabetes dengan menjaga kadar gula dalam darah tetap normal.
Kelenjar kelamin. Terdiri atas kelenjar kelamin wanita dan kelenjar kelamin pria. Ovarium merupakan penghasilkan hormon pada wanita. Ovarium mensekresikan hormon estrogen dan hormon progesteron. Hormon estrogen berfungsi menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Hormon progesteron berfungsi menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi. Alat yang mensekresikan hormon androgen yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder.



BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam drh yang beredar dalam jaringan.
2. Kelenjar endokrin berfungsi dalam mengahsilkan hormon yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu, mengontrol aktivitas kelenjar tubuh, merangsang aktivitas kelenjar tubuh, merangsang pertumbuhn jaringan, mengatur metabolisme, oksidas, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus, mepengaruhi metabolisme lemak, protein, hidratarang, vitamin, mineral dan air.
3. Kelenjar endokrin pada manusia dapat dibedakan atas kelenjar hipofise, kelenjar tiroid, kelenjar partiroid, kelenjar timus, kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar kelamin.
B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada kesempatan ini adalah agar pada praktikum selanjutnya, carta sistem endokrin dapat diperbanyak lagi.


DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1964214-sistem-endokrin/

http://id.wikipedia.org//wiki/sistem-endokrin
http://medieasbore.com/optik-online/obat-metabolisme-dan-endokrin.html

http://www.scribd.com/doc/18940970/Sistem-Endokrin.doc

www.docstoc.com/sistem-endokrin.doc